Aceh Tengah (ANTARA) - Dalam kondisi diguyur hujan deras, setidaknya perlu waktu sekitar 2,5 jam perjalanan dari Kabupaten Biereuen ke Kabupaten Aceh Tengah.

 

Namun, dalam kondisi ruas jalan yang sebagian masih longsor dan akses jembatan terputus, kini akses Biereuen ke Aceh Tengah harus ditempuh memutar.

Jarak tempuh bertambah sejauh 104 kilometer sehingga memakan waktu perjalanan lebih lama 3,5 jam via kendaraan mobil.

Jalur lintas belum berfungsi dengan normal karena di sebagian akses jalan terdapat endapan lumpur maupun jalan longsor.

Tim ANTARA memasuki Aceh Tengah disambut kabut pekat di siang bolong.

Suhu di aplikasi Google Weather menunjuk 19 derajat celcius dengan kelembapan 95 persen. Suhu dingin yang tak mengejutkan untuk negeri Antara, julukan Aceh Tengah, yang disebut sebagai negeri di atas awan.

Negeri Antara merupakan istilah yang digunakan sebagian masyarakat untuk merujuk daerah pemukiman yang terletak tepat di tengah provinsi Aceh meliputi Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues. Kawasan dari tiga kabupaten tersebut menjadi bagian dari Dataran Tinggi Gayo.

Mayoritas penduduk di negeri Antara notabene didominasi oleh suku Gayo meski kini juga terdapat suku-suku lain karena program transmigrasi.

Aceh Tengah yang mempunyai luas 4.454,04 km persegi, berketinggian antara 200-2600 meter di atas permukaan laut dengan geografi yang dipisahkan oleh Danau Lut Tawar.

Eksotisme Danau Lut Tawar langsung menyambut kami dengan bentangan air biru, barisan berbukit hijau dan mendung putih serupa gugusan kapas yang menggumpal di langit.

Hukum wajib tidak tertulis ketika memasuki Takengon, ibukota kabupaten Aceh Tengah, adalah mencicipi cita rasa kopi Gayo yang rasanya sudah dicecap oleh lidah masyarakat seluruh dunia.

Kopi Gayo khususnya arabaika merupakan produk ekspor andalan negeri Antara yang telah merambah Amerika Serikat, Rusia, Jerman, Belanda, Italia dan Denmark. Juga pasar Asia Tengah maupun Asia Timur.

Jika sempat ke Takengon selain mampir mencicipi barang wajib diminum yakni kopi Gayo, sempatkanlah juga untuk melihat tradisi pacuan kuda.

Pacuan kuda jadi olahraga paling popular di Takengon, mengalahkan sepak bola.

Seribu kali sayang, saat tim ANTARA meliput ke Takengon tak ada acara pacuan kuda yang berjalan.

Kini kota di atas awan ini masih dalam proses revitalisasi pasca terdampak bencana banjir Sumatera yang terjadi pada 25-30 November lalu.

Data Pos Komando Penanganan Banjir dan Longsor Aceh mencatat jumlah warga di Kabupaten Aceh Tengah yang terdampak banjir mencapai 11.657 jiwa yang tersebar di satu kecamatan dan 26 kampung. Kerusakan rumah akibat bencana ini dilaporkan mencapai 4.426 rumah.

Tim ANTARA pun bergegas menuju kampung yang terdampak bencana Sumatera. Jaraknya dari Takengon memakan waktu sekira 30 menit dengan akses jalanan berkelok-kelok dan sebagian masih tertimbun endapan lumpur.

Sampailah di kampung Toweren Uken, salah satu tempat yang paling terdampak di Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah.

Kampung luluh lantak

Kampung Toweren Uken terletak di selatan Danau Lut Tawar. Secara administratif kampung ini masuk dalam Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah.

Banjir bandang pada tiga bulan lalu membawa gelondongan kayu yang menerjang sebagian wilayah kampung Toweren, Toweren Uken, Toweren Antara, dan Toweren Toa.

Masyarakat penghuni empat kampung ini pun harus mengungsi ke daerah yang jauh lebih aman karena selain membawa gelondongan kayu, banjir juga menyeret endapan lumpur.

Di Toweren Uken, sebagian rumah telah hancur lebur dan tidak dapat didiami kembali. Sebagian rumah lainnya terendam lumpur setinggi 1 hingga 1,5 meter.

Musibah yang menimpa masyarakat tidak mematahkan asa mereka untuk lepas dari keterpurukan. Perlahan, pasca bencana, sejumlah masyarakat mencoba kembali ke rumah dan membersihkan endapan lumpur atau menyingkirkan bekas kayu gelondongan.

Salah seorang penyintas bencana, Martinansyah, mengungkapkan bahwa kondisi kala itu sangatlah mencekam, kala gelondongan kayu yang terseret air dari gunung turun menghantam hunian warga di kampung.

"Sebagian orang panik karena terkejut dengan datangnya gelondongan kayu dari gunung sampai kampung ini. Sekarang adalah trauma-trauma sedikit orang masyarakat kampung ini," terang nya.

Penyintas bencana lain, Khadijah mengaku baru kembali ke kediaman pribadinya dalam tiga hari terakhir ini karena mau menyambut bulan suci Ramadhan.

Khadijah kini hanya bisa mengelus dada. Meski rumahnya tak menjadi puing bangunan yang ambruk, perkebunan yang menjadi satu-satunya mata pencaharian selama ini telah luluh lantak tertimpa longsor.

Perempuan berusia 60 tahun ini menyebut bahwa musibah ini merupakan ujian dari Allah. "Tinggal diamlah mau gimana lagi kondisinya (begini)," ujarnya.

Di Aceh Tengah kini terdapat total 12.638 lahan kopi, 4.100 hektare lahan cabai, 2.787 hektare sawah, serta 38 hektare area perikanan terdampak bencana banjir.

Baik Khadijah ataupun Martinansyah kini harus memutar otak demi bisa kembali bertani dan berkebun. Saat ini mereka masih belum memperoleh pekerjaan alternatif.

Meski demikian, Khadijah dan Martinansyah tetap akan melakukan tradisi meugang, tradisi turun temurun yang dilakukan oleh masyarakat Aceh untuk menyambut hari-hari besar suci umat Islam, yakni sebelum bulan Ramadhan, sebelum Idul Fitri, dan sebelum Idul Adha.

Dalam kondisi yang belum tercukupi, Khadijah dan Martinansyah akan tetap menjalankan tradisi sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

Menghadapi bulan Ramadhan ini, Kepala Kampung Toweren Uken Sirwan mengkonfirmasi bahwa akan ada bantuan daging dari presiden untuk masyarakat yang terdampak.

"Rabu besok, masyarakat meugang di rumah sendiri. Ini alhamdulillah mungkin ada dari presiden mengasih daging ke desa-desa, alhamdulillah. Mungkin ini minimalnya mungkin ada yang dapat setengah kilo, mungkin alhamdulillah ini pun bantuan dari kabupaten, provinsi," kata Sirwan.

Prabowo Subianto telah mentransfer bantuan pembelian sapi tradisi meugang menyambut bulan suci Ramadhan untuk masyarakat terdampak bencana Aceh dengan nilai lebih dari Rp72,7 miliar.

Bantuan tersebut disalurkan melalui mekanisme transfer dana dari Presiden melalui Sekretariat Presiden, dan langsung ke 19 pemerintah kabupaten/kota pada Selasa (10/2), senilai Rp72.750.000.000.

Suasana pasca bencana masih tampak terasa pilu di pinggiran Danau Lut Tawar. Tapi sukacita menyambut bulan Ramadhan coba ditumbuhkan oleh masyarakat penyintas bencana sebagaimana mereka melalui bulan suci di tahun-tahun sebelumnya.

Tidak ada hiruk pikuk. Namun, kebersamaan dan kekhidmatan serta tetap menjaga tradisi, tumbuh di wilayah berjuluk negeri Antara ini.