Palu, (Antaranews Sulteng) - Kementerian Agaman (Kemeng) menyatakan pusat perbelanjaan atau mall tidak berbahaya bagi sebuah perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI) bila keberadaannya saling berdekatan.
"Jadi mall itu bukan menjadi bahaya bagi perguruan tinggi Islam, baik negeri ataupun swasta," ucap Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Prof Dr HM Arskal Salim GP, saat memberi kuliah umum di IAIN Palu, Jumat.
Begitu pula, lanjut dia, Palu yang keberadaannya berdekatan dengan salah satu pusat perbelanjaan Palu Grand Mall (PGM) di Jalan Cumi-Cumi, Palu Barat.
Ia menyebut, bukan karena keberadaannya dengan pusat perbelanjaan seperti mall sehingga mahasiswa tersesat atau kurang berprestasi dari sisi akademik.
Sebaliknya, sebut dia, keberadaan PTKI yang berdekatan dengan mall atau pusat perbelanjaan semakin menambah kreasi dosen dan pengajar di era persaingan saat ini.
"Jadi harus melihat dampak positifnya, yaitu mall dan perguruan tinggi saling ketergantungan. Dimana mahasiswa dan bisa berkreasi. Mahasiswa dapat melakukan diskusi kelompok, presentasi di cafe-cafe yang ada di mall, keberadaan dekat mall bisa menambah daya saing dan kepercayaan diri," ujar Arskal Salim.
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Prof Dr HM Arskal Salim GP, disambut Rektor IAIN Palu Prof Dr H Sagaf S Pettalongi MPd saat tiba di IAIN Palu, Jumat. (Antaranews Sulteng/istimewa)
Ia mencontohkan IAIN Palu keberadaannya di pusat kota, yang kompleks dengan pergerakkan ekonomi, sosial, politik dan budaya. Hal itu akan semakin membuka cakrawala berpikir mahasiswa yang umumnya merupakan generasi milenial.
Karena itu, akui dia, saat ini kecenderungan perguruan tinggi umumnya ingin pindah atau menempatkan kampus di tengah kota, agar lebih memudahkan mahasiswa berkreasi.
"Generasi milenial kita tidak mau jauh dari pusat perbelanjaan. Gaya hidup generasi milenial erat dengan pusat perbelanjaan dan mall. Dia menghabiskan waktu di tempat-tempat seperti itu dengan rekannya sambil browsing, disitulah ekspresi dan pengembangan diri," sebut Arskal.
"Kalau kita bicara era milenial, maka bicara a`nak muda. mengapa anak muda, ditangan anak muda itu lah perubahan,`` kata Hendrik.
Sekitar 1.720 mahasiswa baru, semester tiga dan seterusnya. Dosen dan tenaga administrasi mengikuti kuliah umum dengan tema perguruan tinggi keagamaan Islam dan tantangan diera generasi milenial.
"Jadi mall itu bukan menjadi bahaya bagi perguruan tinggi Islam, baik negeri ataupun swasta," ucap Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Prof Dr HM Arskal Salim GP, saat memberi kuliah umum di IAIN Palu, Jumat.
Begitu pula, lanjut dia, Palu yang keberadaannya berdekatan dengan salah satu pusat perbelanjaan Palu Grand Mall (PGM) di Jalan Cumi-Cumi, Palu Barat.
Ia menyebut, bukan karena keberadaannya dengan pusat perbelanjaan seperti mall sehingga mahasiswa tersesat atau kurang berprestasi dari sisi akademik.
Sebaliknya, sebut dia, keberadaan PTKI yang berdekatan dengan mall atau pusat perbelanjaan semakin menambah kreasi dosen dan pengajar di era persaingan saat ini.
"Jadi harus melihat dampak positifnya, yaitu mall dan perguruan tinggi saling ketergantungan. Dimana mahasiswa dan bisa berkreasi. Mahasiswa dapat melakukan diskusi kelompok, presentasi di cafe-cafe yang ada di mall, keberadaan dekat mall bisa menambah daya saing dan kepercayaan diri," ujar Arskal Salim.
Ia mencontohkan IAIN Palu keberadaannya di pusat kota, yang kompleks dengan pergerakkan ekonomi, sosial, politik dan budaya. Hal itu akan semakin membuka cakrawala berpikir mahasiswa yang umumnya merupakan generasi milenial.
Karena itu, akui dia, saat ini kecenderungan perguruan tinggi umumnya ingin pindah atau menempatkan kampus di tengah kota, agar lebih memudahkan mahasiswa berkreasi.
"Generasi milenial kita tidak mau jauh dari pusat perbelanjaan. Gaya hidup generasi milenial erat dengan pusat perbelanjaan dan mall. Dia menghabiskan waktu di tempat-tempat seperti itu dengan rekannya sambil browsing, disitulah ekspresi dan pengembangan diri," sebut Arskal.
"Kalau kita bicara era milenial, maka bicara a`nak muda. mengapa anak muda, ditangan anak muda itu lah perubahan,`` kata Hendrik.
Sekitar 1.720 mahasiswa baru, semester tiga dan seterusnya. Dosen dan tenaga administrasi mengikuti kuliah umum dengan tema perguruan tinggi keagamaan Islam dan tantangan diera generasi milenial.