Donggala, Sulawesi Tengah (ANTARA) - Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa PBB atau FAO membantu memulihkan kegiatan tangkap ikan oleh di nelayan di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, setelah hampir setahun bencana gempa, tsunami disertai likuefaksi di dua daerah tersebut.

"Telah menjadi komitmen kami dari FAO ketika bencana, termasuk ketika terjadi krisis. FAO telah berkomitmen untuk membantu masyarakat semua," ucap Asisten FAO Representative di Indonesia - Program, Ageng Herianto, di Donggala, Rabu.

Terdapat 2.650 nelayan sebagai penerima manfaat dari FAO mengikuti acara penyerahan bantuan alat tangkap ikan di Anjungan Gonenggati, Kecamatan Banawa.

2.650 nelayan itu terdiri dari 1.533 nelayan Donggala dan 1.107 nelayan Kota Palu. Sebanyak 1.533 nelayan Donggala, merupakan masyarakat pesisir yang bermukim di sembilan kecamatan mulai dari Kecamatan Balaesang dan Balaesang Tanjung hingga Kecamatan Banawa dan Banawa Selatan.

Begitu pula dengan 1.107 nelayan di Kota Palu yang menerima bantuan dari FAO. Mereka merupakan warga pesisir Pantai Teluk Palu, seperti nelayan Kelurahan Lere.

Ageng Harianto mengemukakan, bantuan kemanusiaan sektor kelautan dan perikanan merupakan salah satu dari bentuk komitmen FAO, selain sektor pertanian yang juga menjadi fokus.

"Keluarga petani dan nelayan, selalu menjadi perhatian kami. Seminggu setelah bencana, kami mendapat kepercayaan dari PBB untuk cepat menanggapi apa yang terjadi di Sulteng," kata dia.

Atas komitmen itu, FAO,mengucurkan anggaran kurang lebih senilai Rp3 miliar dalam bentuk alat tangkap ikan penunjang kelancaran kegiatan 2.650 nelayan di Palu dan Donggala.

Baca juga: FAO ingin bantu 15.000 petani dan nelayan korban bencana Sulawesi Tengah
Baca juga: FAO kucurkan bantuan untuk petani dan nelayan di Sulawesi Tengah

FAO beraktivitas di Sulteng mulai Oktober 2018 hingga Agustus 2019. Kemudian, diperpanjang dari Agustus hingga Oktober 2019.

Dalam durasi waktu tersebut, FAO melakukan berbagai bentuk kegiatan salah satunya pengumpulan data masyarakat sebelum dilakukan intervensi berdasarkan kebutuhan.

"Sebenarnya kami ingin berbuat lebih banyak, tetapi kami dibatasi waktu. Namun, kami masih memiliki tugas untuk sektor pertanian di Sigi untuk membantu 2.100 petani," ujar dia.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Donggala, Ali Assegaf menyebut FAO merupakan salah satu dari beberapa lembaga non-pemerintah yang ikut serta dalam aksi kemanusiaan membantu masyarakat donggala, khususnya nelayan didaerah tersebut.

Ia menguraikan setelah bencana hingga tahap rehabilitasi dan rekondisi untuk pemulihan, masyarakat nelayan di sembilan kecamatan telah disentuh dengan berbagai program.

"Nelayan di sembilan kecamatan di Donggala sudah tersentuh. Ini karena adanya data yang akurat, yang di peroleh atas kerjasama pemerintah, lembaga non-pemerintah termasuk FAO dan masyarakat," kata Ali Assegaf.

DIa berterima kasih kepada FAO yang telah memberikan bantuan untuk memulihkan kegiatan tangkap oleh nelayan di Donggala.

Upacara penyerahan bantuan alat tangkap ikan FAO kepada nelayan di Palu dan Donggala, dihadiri Dirjen Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan, M Zulfikar Mochtar, Sekretaris Daerah Provinsi Sulteng M Hidayat Lamakarate, Wakil Bupati Donggala, M Yasin, Kepala Dinas Kelautan Donggala Ali Assegaf, Kepala Dinas Kelautan Sulteng Arief Latjuba, Kepala Dinas Kelautan Kota Palu, Burhan Hamading.*


Baca juga: FAO kucurkan bantuan bernilai Rp14 miliar untuk korban bencana Sulteng
  2.650 nelayan di Palu dan Donggala, sebagai penerima manfaat dari FAO, Rabu (28/8/2019). (ANTARA/Muhammad Hajiji)    

Pewarta : Muhammad Hajiji
Uploader : Sukardi
Copyright © ANTARA 2024