Logo Header Antaranews Sulteng

Akses Jalan Sadaunta-lindu Diperlebar

Senin, 14 Desember 2015 10:18 WIB
Image Print
Illustrasi: Salah satu kegiatan pengaspalan jalan . (ANTARANews)

Palu, (antarasulteng.com) - Akses jalan yang menghubungkan Desa Sadauta, Kecamatan Kulawi dengan Kecamatan Lindu yang melintasi kawasan Taman Nasional Lore Lindu di Kabupaten Sigi kini sedang diperlebar agar bisa dilewati mobil.

Wartawan ANTARA Biro Palu Anas Masa melaporkan, Minggu jalan sepanjang sekitar 20km dari Desa Sadaunta sampai di Desa Tomado, Ibu Kota Kecamatan Lindu saat ini sedang dikerjakan.

Selain diperlebar, jalan yang selama ini hanya bisa dilalui kendaraan sepeda motor tersebut juga sementara dicor beton.

Jika pekerjaan pelebaran dan pengecoran rampung, dipastikan masyarakat Lindu tidak lagi kesulitan akses jalan pada musim hujan.

Berto, seorang guru SD di Kecamatan Lindu mengemukakan pada musim hujan, terkadang badan jalan tidak bisa dilewati karena tertutup longsor dan pepohonan tumbang.

Bahkan pada saat gempa bumi berkekuatan 6,2 Skala Richter mengguncang Kecamatan Lindu 18 Agustus 2012 jalan menuju wilayah itu sempat tidak bisa dilewati selama hampir dua pekan karena badan jalan tertimbun longsor.

Akibatnya, pendistribusian logistik bantuan bahan makanan, pakaian, peralatan dapur dan obat-obatan untuk korban bencana alam gempa bumi disalurkan melalui udara.

Pemprov Sulteng dan Pemkab Sigi saat itu mendapat bantuan helikopter dari Barsarnas sehingga logistik bantuan untuk korban dapat tersalurkan ke lokasi itu.

Kini, kata dia, akses jalan sudah semakin bagus dan ke depan jika pekerjaan pelebaran dan pengecor jalan selesai, mobil sudah bisa masuk.

Ia mengatakan kegiatan pelebaran dan pengeceran badan jalan dari Desa Sadaunta sampai ke Desa Tomado dilakukan Pemprov Sulteng.

"Ini merupakan realisasi dari janji Gubernur Sulteng Longki Djanggola untuk membangun jalan memadai agar masyarakat dapat segera memasarkan berbagai hasil bumi dan danau ke Palu," kata dia.

Masyarakat Kecamatan Lindu menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Longki yang telah merealisasi janjinya.

Selama ini, kata Berto semua hasil perkebunan, pertanian dan danau diangkut menggunakan sepeda motor ojek dengan biaya Rp4.000/kg.

Jadi kalau biji kakao 50kg/karung, berarti ongkos sewa ojek Rp200 ribu. Memang cukup mahal karena medan jalan cukup berat karena disisi kiri dan kanan jalan tebing dan jurang.

Tapi jika jalannya sudah memadai, maka hasil panen petani sudah bisa diangkut dengan menggunakan mobil.



Pewarta :
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026