Komisioner KPU Hasyim Asy'ari memenuhi panggilan KPK

id Kpu,komisioner wahyu setiawan

Arsip-Ketua KPU Arief Budiman (tengah) bersama Komisioner KPU Hasyim Asy'ari (kiri) dan Evi Novida Ginting Manik (kanan) memberikan keterangan pers soal kasus penetapan calon terpilih anggota DPR Pemilu 2019 PDI Perjuangan Dapil Sumsel I di Kantor KPU Pusat, Jakarta, Jumat (10/1/2020). KPU menegaskan bahwa keputusan penetapan Penggantian Antar Waktu (PAW) anggota DPR periode 2019-2024 merujuk pada Undang-Undang bukan fatwa Mahkamah Agung dan saat ini KPU juga telah menerima surat pengunduran diri dari Wahyu Setiawan sebagai Komisioner KPU. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj.

Jakarta (ANTARA) - Komisioner KPU Hasyim Asy'ari mengatakan akan memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memberikan keterangan sebagai saksi dari perkara korupsi mantan komisioner Wahyu Setiawan.

Hasyim Asy'ari, di Jakarta, Rabu, mengatakan kepada wartawan dirinya menerima surat panggilan KPK pada Selasa, 21 Januari 2020 dan diminta memberikan keterangan pada Jumat (24/1).

"Demi hukum Insya Allah saya akan hadiri panggilan tersebut," kata Hasyim lewat grup WhatsApp media KPU.
Baca juga: KPK panggil Kasubag Persidangan KPU

Hasyim belum menanggapi apakah hanya dirinya saja yang dipanggil KPK sebagai saksi, atau adakah komisioner KPU lain yang ikut dipanggil.

Sebelumnya, Ketua KPU Arief Budiman mengatakan, KPU siap membantu KPK dalam menuntaskan kasus tersebut, bahkan akan menyiapkan apa saja yang dibutuhkan oleh KPK terkait hal itu.

"Kita juga sudah sampaikan prinsipnya KPU terbuka kooperatif siap bekerjasama bilamana diperlukan KPK," ujar Arief.

KPK pada Kamis (9/1) telah mengumumkan empat tersangka terkait tindak pidana korupsi suap penetapan anggota DPR RI terpilih 2019-2024. Sebagai penerima, yakni mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan (WSE) dan mantan anggota Badan Pengawas Pemilu atau orang kepercayaan Wahyu, Agustiani Tio Fridelina (ATF).
Baca juga: Pasca OTT, KPU panggil seluruh komisioner tingkat provinsi

Sedangkan sebagai pemberi Harun Masiku dan Saeful (SAE) dari unsur swasta.

Diketahui, Wahyu meminta dana operasional Rp900 juta untuk membantu Harun menjadi anggota DPR RI Dapil Sumatera Selatan I menggantikan caleg DPR terpilih dari Fraksi PDIP Dapil Sumatera Selatan I Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia. Dari jumlah tersebut, Wahyu hanya menerima Rp600 juta.


Pewarta : Boyke Ledy Watra
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar