KPAI: Belajar dari rumah momentum berharga orang tua dan anak

id KPAI,covid-19,anak

Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Rita Pranawati di sela wawancara dengan ANTARA di kantor KPAI, Jakarta, Rabu (28/8/2019). ANTARA/Anom Prihantoro

Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Rita Pranawati mengatakan kebijakan yang mendorong agar anak belajar di rumah seiring ancaman COVID-19 harus menjadi momentum berharga kebersamaan orang tua dan anak.

"Bahwa momentum kebersamaan anak dan orang tua hari ini menjadi momentum berharga. Jarang-jarang waktu dihabiskan bersama seluruh anggota keluarga," kata Rita komisioner bidang pengasuhan KPAI dihubungi dari Jakarta, Rabu.

Dia mengatakan perubahan pola hidup saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga. Namun banyak aspek positif jika dijalani dengan sabar, kreatif dan menyenangkan.

Menurut dia, aktivitas keluarga saat ini banyak terpusat di rumah. Orang tua bekerja di rumah tapi juga sekaligus memberikan pendampingan penuh pada anak dengan melakukan perannya sebagai pekerja sekaligus menjadi oang tua.

Peran orang tua di era pandemi COVID-19, kata dia, memang sangat banyak dengan harus mengkondisikan rumah menjadi pusat aktivitas keluarga yang selama ini terpecah-pecah, baik di kantor, sekolah, rumah ibadah hingga di lingkungan.

Selain itu, kata Rita, mereka juga menyediakan logistik makanan yang sehat dan bergizi seimbang di rumah. Orang tua agar dapat menyeimbangkan urusan pekerjaan, mendampingi anak-anak, mengkondisikan rumah dan logistiknya.

"Dalam situasi seperti ini, orang tua harus menjadikan momen kebersamaan ini menjadi proses berharga untuk menguatkan kembali relasi orang tua dengan anak," kata dia.

Kesempatan kebersamaan tersebut, kata dia, penting disadari orang tua sebagai wadah untuk menguatkan kembali komunikasi dengan anak secara terbuka, menjadi pendengar yang baik, melatih anak-anak pada ketrampilan dasar mengurus diri dan pekerjaan rumah sehari-hari serta mendampingi anak-anak dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah.

Menurut dia, intensitas komunikasi anak dan orang tua yang sangat tinggi selama anak di rumah dapat menjadi kesempatan membangun kepercayaan dengan anak untuk saling terbuka, menjelaskan suatu hal jika anak tidak memahami hingga memberikan masukan atas cerita anak.

"Orang tua harus lebih sabar untuk mendengar apa yang dirasakan anak dan memberi masukan mengingat bahwa anak juga mengalami kebosanan berada di rumah. Mereka tidak bertemu dengan teman-temannya dan tidak dapat bermain secara bebas di luar rumah. Dengan komunikasi yang baik, maka anak juga akan merasa lebih nyaman berada di rumah," katanya.

Rita mengatakan terdapat sejumlah kegiatan yang dapat dikondisikan orang tua di rumah agar anak tidak bosan seperti mengajarkan keterampilan hidup sehari-hari agar mandiri dan melibatkan pada pekerjaan rumah tangga sesuai umurnya.

Akan baik juga, kata dia, jika anak diajak berbicara mengenai penggunaan media digital dengan baik dan benar agar tidak kecanduan menggunakan gadget.

"Belajar memasak, membersihkan rumah, berkebun, dan berbenah rumah adalah proses belajar bagi anak-anak. Orang tua perlu semakin kreatif mungkin membuat aktivitas yang menyenangkan dan beragam bagi anak. Orang tua perlu sabar dalam mengajarkan aktivitas rumahan ini. Penting untuk selalu diingat bahwa anak-anak dalam tahap belajar sehingga orang tua perlu memahami kondisi anak," katanya.

Pewarta : Anom Prihantoro
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar