Demo FPPI Mamuju berakhir bentrok

id fppi,front perjuangan pemuda,fppi mamuju,fppi bentrok,demo fppi,demo imf

FPPI Mamuju berdemo menyerukan untuk Golput Pada Pilkada Sulbar Oktober 2011 karena pemerintah Sulbar dianggap belum mampu mensejahterakan rakyat khususnya kaum petani. (ANTARA/Aco Ahmad)

 Mamuju  (ANTARA News) -  Demo Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) Mamuju  yang meneriakkan penolakan  utang luar negeri berakhir bentrok dengan polisi.

Dua mahasiswa FPPI Mamuju masing-masing bernama Fandi Mahasiswa STIE dan Punding mahasiswa Universitas Tomakaka mengalami luka di bagian kepala dan kaki dalam bentrokan dengan aparat kepolisian Polres Mamuju di Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat, Sabtu.

 Polisi membubarkan aksi massa FPPI Mamuju karena dinilai telah mengganggu kelancaran arus lalu lintas di jalur trans sulawesi simpang lima Kota Mamuju.

 Dalam aksinya massa FPPI menuntut pemerintah untuk menolak utang luar negeri karena akan semakin membebani rakyat dan meminta segera menghapus utang lama.

Selain itu mereka menolak pertemuan dengan Dana Moneter Internasional (IMF) yang akan berlangsung di Bali pada Oktober, karena kedatangan IMF hanya akan mengancam kedaulatan dan kemandirian Bangsa Indonesia.

 Massa FPPI Mamuju juga menolak investasi asing dan meminta agar aset asing di Indonesia dinasionalisasi.

Mereka juga meminta agar Undang Undang Nomor 19 tahun 2013 tentang perlindungan dan pemberdayaan petani dilaksanakan dengan baik. "Kami meminta agar reforma agraria dilaksanakan dengan sebaik-baiknya," kata para pendemo.

Kapolres Mamuju AKBP Muh Rivai Arvan kemudian meminta maaf atas tindakan personelnya yang melakukan tindakan represif kepada mahasiswa.

 "Ini situasional sehingga bisa terjadi bentrok antara massa FPPI dan aparat kami, karena aparat kami tidak bisa mengendalikan emosi, itu kegagalan kami," lanjutnya.

 Baca juga: FPPI Mamuju minta pemerintah konsisten berantas korupsi
Baca juga: Mahasiswa Anti Kekerasan Demo Mapolres Mamuju

Pewarta : M Faisal Hanapi
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar