Wakapolri minta mahasiswa jaga nilai-nilai Pancasila
Kamis, 12 Maret 2020 7:51 WIB
Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono. (ANTARA/ Anita Permata Dewi)
Jakarta (ANTARA) - Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono mengingatkan mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai kebhinnekaan dan Pancasila.
"Pahami bahwa civitas akademika, para mahasiswa dan mahasiswi, punya tanggung jawab yaitu menjalankan peran sebagai guardian of value, menjaga nilai-nilai kebhinnekaan dan Pancasila serta akar persatuan dan kesatuan," kata Wakapolri Gatot melalui siaran pers Polri, diterima di Jakarta, Rabu.
Wakapolri menyampaikannya kepada para peserta kuliah umum di Universitas Riau.
Menurut Wakapolri, hal itu penting karena politisasi identitas kerap terjadi, sehingga menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Wakapolri pun meminta seluruh elemen masyarakat agar jangan merelakan diri terjebak dengan gelombang negatif politisasi identitas tersebut, termasuk juga para civitas akademika di seluruh Indonesia.
"Lewat hoaks, medsos dan fenomena post truth, hal ini saling berkaitan. Itu semua tentu saja dapat mengganggu demokrasi di Indonesia. Maksimalkan dan eksplorasi kemampuan kalian sebagai bentuk perlawanan terhadap politisasi identitas. Jangan menjadi orang biasa. Jadilah orang yang luar biasa dengan berbuat sesuatu yang luar biasa yang tidak dibuat oleh orang lain. Tentunya dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika," kata mantan Kapolda Metro Jaya itu pula.
"Pahami bahwa civitas akademika, para mahasiswa dan mahasiswi, punya tanggung jawab yaitu menjalankan peran sebagai guardian of value, menjaga nilai-nilai kebhinnekaan dan Pancasila serta akar persatuan dan kesatuan," kata Wakapolri Gatot melalui siaran pers Polri, diterima di Jakarta, Rabu.
Wakapolri menyampaikannya kepada para peserta kuliah umum di Universitas Riau.
Menurut Wakapolri, hal itu penting karena politisasi identitas kerap terjadi, sehingga menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Wakapolri pun meminta seluruh elemen masyarakat agar jangan merelakan diri terjebak dengan gelombang negatif politisasi identitas tersebut, termasuk juga para civitas akademika di seluruh Indonesia.
"Lewat hoaks, medsos dan fenomena post truth, hal ini saling berkaitan. Itu semua tentu saja dapat mengganggu demokrasi di Indonesia. Maksimalkan dan eksplorasi kemampuan kalian sebagai bentuk perlawanan terhadap politisasi identitas. Jangan menjadi orang biasa. Jadilah orang yang luar biasa dengan berbuat sesuatu yang luar biasa yang tidak dibuat oleh orang lain. Tentunya dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika," kata mantan Kapolda Metro Jaya itu pula.
Pewarta : Anita Permata Dewi
Editor : Sukardi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
PAN: Bima Arya mundur dari Pilkada Jabar karena ikuti keputusan partai
08 August 2024 15:00 WIB, 2024
Terpopuler - Advetorial/Rilis
Lihat Juga
DSLNG Goes to Campus digelar di Untad, bahas keselamatan kerja berisiko tinggi
11 February 2026 18:16 WIB
Peringatan Bulan K3 Nasional, PT Poso Energy pastikan karyawan bebas tekanan
11 February 2026 14:17 WIB
All New Honda Vario 125 resmi meluncur di Tolitoli, awali 2026 dengan semangat "Step Up"
05 February 2026 9:46 WIB
Agus Budi Wirawan dilantik sebagai Ketua STAH Dharma Sentana Periode 2026-2030
02 February 2026 13:13 WIB
DSLNG dorong kesiapan Gen Z masuk industri energi melalui energy connect 5.0
29 January 2026 15:46 WIB
Poso Energy bantu 50 sak semen untuk pembangunan sarana olahraga SMAN 1 Pamona Utara
28 January 2026 12:36 WIB