Jakarta (ANTARA) - Merayakan Idul Fitri tahun ini sedikit berbeda dengan sebelumnya, jika biasanya berkumpul dengan keluarga besar kali ini harus di rumah saja. Lantas apakah perubahan tersebut mempengaruhi minat belanja baju Lebaran?

Nadya Karina selaku co-founder label fesyen Kami Idea mengatakan sangat bersyukur karena dalam masa pandemi virus corona, pelanggannya tidak mengalami perubahan. Menurut Nadya, hal ini dikarenakan pihaknya sudah mengumumkan koleksi untuk Lebaran sejak tahun lalu.

"Permintaan pelanggan mengenai baju Lebaran alhamdullilah baik. Karena kami sudah memperlihatkan koleksi-koleksi yang kami perlihatkan ke bulan-bulan ke depan di tahun kemarin," kata Nadya dalam konferensi virtual Blibli.com, Selasa.

Nadya mengatakan antusiasme pelanggan terhadap busana koleksinya masih tinggi sehingga dia tidak terlalu merasakan ada perubahan.

Untuk koleksi Hari Raya kali ini, Kami sudah mempersiapkan sejak tahun lalu sebelum adanya pandemi. Meski demikian, menurut Nadya busana yang dirilis oleh Kami memiliki desain yang simpel dan cocok digunakan untuk Lebaran di rumah.

"Persiapan ini dipikirkan tanpa memikirkan pandemi tapi kebetulan koleksinya simpel-simpel jadi busana-busana yang bisa dipakai untuk sehari-hari, semiformal dan nonformal. Bahannya adem, pattern-nya juga enggak kayak biasanya yang ramai, ini kecil-kecil jadi bisa dipakai Lebaran dan sustainable," jelas Nadya.

Sementara itu, untuk tren warna busana Lebaran sendiri lebih banyak menggunakan warna pastel. Sementara untuk jilbab atau scraf, masyarakat lebih senang dengan yang berbentuk segiempat.

"Tren scraf bahannya foal dan berbentuk segiempat, beda dengan tahun lalu ya sekarang gayanya yang simpel-simpel, orang senang yang gayanya segiempat dan enggak macam-macam tapi print-nya lucu-lucu," kata Nadya.


 

Pewarta : Maria Cicilia
Uploader : Sukardi
Copyright © ANTARA 2024