Fadli Zon ungkap masalah terorisme harus jadi evaluasi bersama
Kamis, 8 April 2021 21:29 WIB
Fadli Zon saat memberikan keterangan kepada wartawan. (ANTARA/Aris Wasita)
Solo (ANTARA) - Anggota Komisi I DPR RI Fadli Zon mengatakan masalah terorisme harus menjadi evaluasi bersama agar jangan sampai kasus tersebut makin besar di Indonesia.
"Masalah terorisme seharusnya menjadi evaluasi bersama, kenapa masih terjadi tindakan terorisme. Kami berharap dengan banyak lembaga yang menangani terorisme, makin kecil pula terorisme itu," katanya saat melakukan kunjungan di Kampus UNS Solo, Kamis.
Ia mengatakan melihat pengalaman sejumlah negara lain seperti Amerika, banyak kasus terorisme yang bersifat manufaktur atau yang dibuat, bukan karena bentuk ideologis sebuah kelompok.
"Jadi ini memang harus menjadi evaluasi, jangan sampai terorisme ini menjadi instrumen bagi kekuasaan untuk menjustifikasi adanya kegiatan teror. Saya tidak melihat, misalnya yang tertuduh kan selalu umat Islam yang merupakan mayoritas," katanya.
Ia juga berharap agar tidak ada oknum yang justru memelihara keberadaan terorisme di Indonesia.
"Seharusnya kita harus habisi yang namanya terorisme itu dan jangan ada yang menghidup-hidupkan. Termasuk BIN yang punya anggaran dalam pemberantasan terorisme agar ada semacam evaluasi, sejauh mana efektivitas dalam program deradikalisasi," katanya.
Mengenai isu radikalisme di Indonesia, ia menilai masyarakat Indonesia sebetulnya sangat moderat.
"Saya tidak melihat ada orang yang radikal, pemahaman agama Indonesia sudah input bercampur dengan tradisi, kan Islam tidak pernah menumpas tradisi, ketika Islam masuk Jawa terjadi Islamisasi Jawa, akulturasi budaya," katanya.
"Masalah terorisme seharusnya menjadi evaluasi bersama, kenapa masih terjadi tindakan terorisme. Kami berharap dengan banyak lembaga yang menangani terorisme, makin kecil pula terorisme itu," katanya saat melakukan kunjungan di Kampus UNS Solo, Kamis.
Ia mengatakan melihat pengalaman sejumlah negara lain seperti Amerika, banyak kasus terorisme yang bersifat manufaktur atau yang dibuat, bukan karena bentuk ideologis sebuah kelompok.
"Jadi ini memang harus menjadi evaluasi, jangan sampai terorisme ini menjadi instrumen bagi kekuasaan untuk menjustifikasi adanya kegiatan teror. Saya tidak melihat, misalnya yang tertuduh kan selalu umat Islam yang merupakan mayoritas," katanya.
Ia juga berharap agar tidak ada oknum yang justru memelihara keberadaan terorisme di Indonesia.
"Seharusnya kita harus habisi yang namanya terorisme itu dan jangan ada yang menghidup-hidupkan. Termasuk BIN yang punya anggaran dalam pemberantasan terorisme agar ada semacam evaluasi, sejauh mana efektivitas dalam program deradikalisasi," katanya.
Mengenai isu radikalisme di Indonesia, ia menilai masyarakat Indonesia sebetulnya sangat moderat.
"Saya tidak melihat ada orang yang radikal, pemahaman agama Indonesia sudah input bercampur dengan tradisi, kan Islam tidak pernah menumpas tradisi, ketika Islam masuk Jawa terjadi Islamisasi Jawa, akulturasi budaya," katanya.
Pewarta : Aris Wasita
Editor : Sukardi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Menteri Kebudayaan dorong situs megalitik Watunonju Sigi jadi museum terbuka
30 December 2025 18:37 WIB
Menbud: Keberagaman mampu jadikan Indonesia ibu kota kebudayaan dunia
11 February 2025 8:32 WIB, 2025
Parlemen Indonesia kembali serukan dukungan bagi kemerdekaan Palestina
22 February 2024 15:40 WIB, 2024
Terpopuler - Polhukam
Lihat Juga
Polda Sulteng siagakan sebanyak 150 personel patroli pengamanan jelang Imlek
14 February 2026 15:08 WIB