Lebak- (ANTARA) -
 
Sejumlah pedagang jahe wedang di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten ketiban rejeki di tengah pandemi COVID-19, karena permintaan konsumen meningkat.
 
"Biasanya,sebelum pandemi COVID-19 habis sebanyak 15 liter, namun kini menjadi 30 liter, " kata Odah (35) seorang pedagang jahe wedang di Jalan Sunan Kalijaga Rangkasbitung Kabupaten Lebak, Selasa.
 
Meningkatnya permintaan konsumen itu tentu berdampak terhadap pendapatan ekonomi.
 
Saat ini, dirinya bisa meraup keuntungan Rp150 ribu dari sebelumnya Rp75 ribu per hari.
 
Kebanyakan konsumen membeli jahe wedang itu dipercaya untuk memperkuat imun tubuh sehingga tidak mudah terserang COVID-19.
 
"Kami cukup terbantu ekonomi keluarga di tengah pandemi COVID-19 dari hasil penjualan jahe wedang itu, " katanya menjelaskan.
 
Begitu juga pedagang lainya, Amin (45) mengatakan dirinya kini omzet pendapatan naik dua kali lipat di tengah pandemi COVID-19, karena permintaan minuman jahe wedang laku keras.
 
Harga minuman jahe wedang dijual Rp 7.000 per gelas dan pendapatan bisa meraup keuntungan Rp150 ribu dari sebelumnya Rp75 ribu per hari.
 
"Kami mulai berjualan pukul 17.00 WIB dan habis pukul 22.00 WIB, " kati menjelaskan.
 
Ia mengatakan minuman jahe wedang diproduksi dengan bahan baku dari jahe merah dicampur gula aren dan susu.
 
Minuman itu dipercaya bisa memperkuat imun tubuh agar tidak mudah terserang COVID-19.
 
Mereka konsumen pembeli jahe wedang mulai remaja hingga orang usia lanjut.
 
Kami sangat ketiban rejeki di masa pandemi bisa meraup keuntungan, " kata Amin yang berjualan di Jalan Ir Djuanda Rangkasbitung.
 
Berdasarkan pantauan, pedagang jahe wedang di Rangkasbitung dan sekitarnya mencapai puluhan dan mereka dengan menggunakan gerobak.

Pewarta : Mansyur suryana
Editor : Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2024