Palu (ANTARA) - Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Sulawesi Tengah, Prof H Sagaf S Pettalongi MPd mengemukakan pondok pesantren (ponpes) merupakan laboratorium yang menyebarkan dan meningkatkan kualitas perdamaian.

"Sebagai laboratorium perdamaian, pesantren merupakan tempat menyemai ajaran Islam yang rahmatan lil alamin, Islam ramah dan moderat dalam beragama," kata Sagaf S Pettalongi di Palu, Rabu, seiring dengan momentum Hari Santri Nasional 2021.

Terdapat berbagai alasan dan dasar pesantren layak disebut sebagai laboratorium perdamaian, yakni pesantren memiliki kesadaran harmoni beragama dan berbangsa.

Kemudian, metode mengaji dan mengkaji di pesantren diterapkan keterbukaan kajian yang bersumber dari berbagai kitab, bahkan sampai kajian lintas mazhab di pesantren.

"Bahkan para santri biasa diajarkan untuk khidmah (pengabdian), yang merupakan ruh dan prinsip loyalitas santri dan di pesantren diajarkan pendidikan kemandirian, kerja sama dan saling membantu di kalangan santri," ujar Sagaf.

"Selain itu gerakan komunitas seperti kesenian dan sastra tumbuh subur di pesantren," kata Sagaf.

Ia mengemukakan di pesantren lahir beragam kelompok diskusi dalam skala kecil maupun besar untuk membahas hal-hal remeh sampai yang serius, dan di pesantren diajarkan merawat khasanah kearifan lokal.

Tidak hanya itu, para santri, sebut Sagaf, memiliki prinsip maslahat (kepentingan umum) merupakan pegangan yang sudah tidak bisa ditawar lagi oleh kalangan pesantren.

"Dan di pesantren diterapkan penanaman spiritual. Tidak hanya soal hukum Islam (fikih) yang didalami, tapi berbagai ilmu pengetahuan diterapkan, termasuk kebhinekaan dan Pancasila," sebutnya.

Sagaf menilai sebagai laboratorium perdamaian, pemerintah perlu memberikan perhatian serius dan berkelanjutan kepada santri dan pondok pesantren yang ada di Indonesia termasuk di Sulteng.

"Apalagi dalam berbagai catatan sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, santri berperan penting dalam membebaskan Indonesia dari jajahan penjajah kala itu," ujarnya.

Pewarta : Muhammad Hajiji
Editor : Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2024