Tangerang Selatan (ANTARA) - PT Medco Energi Internasional, perusahaan yang dikenal bergerak di bidang eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi menargetkan penurunan dampak gas rumah kaca atau emisi karbon hingga 30 persen di Tahun 2030 mendatang.
 
Capital Market Manager PT Medco Energi Internasional, Ridho Wahyudi pada kegiatan Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) ke-47 tahun 2023 di Tanggerang Selatan Selasa mengatakan, dari tahun ke tahun perusahaan yang juga menaungi PT Donggi Senoro LNG itu terus menunjukkan hasil baik dalam penurunan efek gas rumah kaca dalam proses produksi minyak dan gas bumi.
 
Ia mengemukakan, bahwa perusahaan yang sudah 40 tahun mengabdi untuk Indonesia itu menargetkan akan menekan efek gas rumah kaca dalam setiap proses produksinya dalam lima tahun ke depan.
 
Pihaknya menargetkan, penurunan efek rumah kaca pada proses produksinya di tahun 2025 berada di angka 20 persen dan di tahun 2030 sebesar 30 persen.
 
"Untuk penurunan emisi karbon metan di tahun 2025 ditargetkan berada pada angka 25 persen dan di tahun 2030 berada di angka 37 persen," ujarnya.
 
Ia mengemukakan, pada tahun 2022 upaya penurunan gas rumah kaca pada proses produksi Medco Energi di bidang gas dan minyak bumi sudah berada di angka 36,7 persen.
 
Meski meyakini akan ada tantangan dalam proses penurunan efek gas rumah kaca yang ditargetkan, pihaknya telah menyiapkan sejumlah strategi. Termasuk pemanfaatan teknologi bekerjasama dengan sejumlah korporasi.
 
Selain bergerak di bidang gas dan minyak bumi, Medco Energi juga bergerak di bidang kelistrikan hingga pertambangan tembaga dan emas. Pada kedua unit usaha itu, Medco Energi juga menerapkan dekarbonisasi pada setiap proses produksinya.
 
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengungkapkan bahwa memenuhi permintaan energi yang meningkat sembari menurunkan emisi global, adalah tantangan yang cukup berat. 
 
Maka perlu dilakukan upaya penurunan emisi global di sektor migas, salah satunya adalah menurunkan emisi GRK pada tahap operasional melalui efisiensi energi, pengurangan suar, dan mengelola emisi metana, serta menjalankan operasional menggunakan sumber energi terbarukan maupun yang rendah karbon.
 
"Selain itu, dapat pula dilakukan pengurangan emisi melalui peningkatan penggunaan gas bumi, peningkatan efisiensi sistem bahan bakar mesin, dan mengembangkan teknologi rendah karbon, seperti kendaraan listrik, biofuel, gas alam cair, amonia, dan fuel-cell hidrogen. Dengan emisi yang lebih rendah daripada bahan bakar fosil lainnya dan sumber energi yang dapat dialihkan, gas alam akan menjadi elemen penting dalam transisi energi," tambahnya.
 
Di sisi lain, diperlukan pula pengembangan hidrogen rendah karbon yang dapat mendukung industri hard-to-abate, seperti industri dan transportasi berat. Selain itu, perlu dilakukan implementasi Carbon Capture Storage (CCS) and Carbon Capture, Utilisation, and Storage (CCUS), di mana Pemerintah Indonesia telah menerbitkan regulasi terkait pelaksanaan CCS/CCUS pada Kegiatan Usaha Hulu Migas.
 
"Peraturan tersebut mencerminkan pengakuan Pemerintah Indonesia terhadap teknologi CCS dan CCUS sebagai cara yang menjanjikan untuk mengurangi emisi karbon guna mencapai target Net Zero Emission pada tahun 2060 ,sekaligus meningkatkan produksi minyak dan gas Indonesia menjadi 1 miliar barel minyak dan 12 miliar kaki kubik gas per hari pada tahun 2030," tegas Arifin.
 
Adapun saat ini telah terdapat 15 proyek CCS/CCUS dalam berbagai tahapan, misalnya Gundih CCUS/Enhanced Gas Recovery (EGR) di Jawa Tengah, dan Sukowati CCUS/Enhanced Oil Recovery (EOR) di Jawa Timur.
 
"Proyek yang akan segera dilaksanakan adalah Tangguh CCUS/Enhanced Gas Recovery yang akan mengurangi 25 juta ton CO2 dan meningkatkan produksi gas hingga 300 BSCF pada tahun 2035. Proyek ini ditargetkan on stream pada tahun 2026. Kolaborasi internasional yang lebih kuat dan kemitraan multi pihak di lingkup global sangat penting untuk memastikan aksesibilitas, keterjangkauan, dan keamanan pengembangan CCS/CCUS," ujarnya.

Pewarta : Stepensopyan Pontoh
Editor : Mohamad Ridwan
Copyright © ANTARA 2024