Wamentan: Impor Beras Untuk Ketahanan Pangan
Selasa, 25 September 2012 15:54 WIB
Seorang pekerja membongkar beras di Gudang Bulog untuk didistribusikan. (ANTARA)
Jember - Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan mengatakan bahwa kebijakan pemerintah mengimpor beras dimaksudkan untuk memperkuat ketahanan pangan bukan karena Indonesia gagal panen dan beum swasembada beras.
"Selama ini ketika pemerintah melakukan impor beras maka hal itu dikaitkan dengan gagal panen dan Indonesia tidak bisa swasembada beras," tuturnya di sela-sela pengukuhan tiga guru besar Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa.
Menurut dia, Indonesia sebenarnya sudah bisa swasembada beras, namun persoalannya swasembada tersebut dinilai belum cukup untuk memperkuat stok pangan dalam rangka ketahanan pangan di Indonesia.
"Target surplus yang ingin dicapai oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebesar 10 juta ton per tahun untuk stok di gudang Bulog dan petani belum mampu untuk memenuhi target tersebut," katanya.
Ia menjelaskan produksi setara beras per tahun mencapai 38 juta ton, sedangkan kebutuhan beras di Indonesia sebesar 34 juta ton, sehingga masih ada surplus 4 juta ton di gudang Bulog dan belum mencapai 10 juta ton.
"Akhir tahun diharapkan ada cadangan beras sebanyak 2 juta ton karena pada Januari dan Februari belum ada panen, sehingga kita punya ketahanan pangan yang kuat dan mengurangi spekulasi harga beras di pasaran," paparnya.
Saat ditanya tentang rencana impor beras 1,5 juta ton dari Vietnam, Rusman menyatakan bahwa hal tersebut masih sebatas nota kesepahaman atau "memorandum of understanding" (MoU) dengan Pemerintah Vietnam dan belum dilakukan pemerintah.
"Kalau sewaktu-waktu dalam keadaan darurat kita harus memperkuat cadangan beras kita tidak mulai dengan nol karena sudah ada nota kesepahamannya, namun hal itu belum dilakukan," ujarnya menambahkan.
Vietnam siap memasok beras sebanyak 1,5 juta ton per tahun jika Indonesia membutuhkannya sewaktu-waktu untuk cadangan beras nasional dan komitmen tersebut tertuang dalam MoU yang ditandatangani Menteri Perdagangan Gita Wirjawan dan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Vietnam Vu Huy Hoang di Jakarta, Selasa (18/9).
Kesepakatan dengan Vietnam yang berlaku mulai 2013 hingga 2017 ini bertujuan menyediakan alternatif bagi Indonesia dan mengurangi ketergantungan kepada satu negara.
Sebelumnya, Indonesia juga telah menandatangani MoU dengan Thailand dan Kamboja dengan komitmen masing-masing menyediakan 1 juta ton dan 100.000 ton per tahun. (070/SKD)
"Selama ini ketika pemerintah melakukan impor beras maka hal itu dikaitkan dengan gagal panen dan Indonesia tidak bisa swasembada beras," tuturnya di sela-sela pengukuhan tiga guru besar Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa.
Menurut dia, Indonesia sebenarnya sudah bisa swasembada beras, namun persoalannya swasembada tersebut dinilai belum cukup untuk memperkuat stok pangan dalam rangka ketahanan pangan di Indonesia.
"Target surplus yang ingin dicapai oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebesar 10 juta ton per tahun untuk stok di gudang Bulog dan petani belum mampu untuk memenuhi target tersebut," katanya.
Ia menjelaskan produksi setara beras per tahun mencapai 38 juta ton, sedangkan kebutuhan beras di Indonesia sebesar 34 juta ton, sehingga masih ada surplus 4 juta ton di gudang Bulog dan belum mencapai 10 juta ton.
"Akhir tahun diharapkan ada cadangan beras sebanyak 2 juta ton karena pada Januari dan Februari belum ada panen, sehingga kita punya ketahanan pangan yang kuat dan mengurangi spekulasi harga beras di pasaran," paparnya.
Saat ditanya tentang rencana impor beras 1,5 juta ton dari Vietnam, Rusman menyatakan bahwa hal tersebut masih sebatas nota kesepahaman atau "memorandum of understanding" (MoU) dengan Pemerintah Vietnam dan belum dilakukan pemerintah.
"Kalau sewaktu-waktu dalam keadaan darurat kita harus memperkuat cadangan beras kita tidak mulai dengan nol karena sudah ada nota kesepahamannya, namun hal itu belum dilakukan," ujarnya menambahkan.
Vietnam siap memasok beras sebanyak 1,5 juta ton per tahun jika Indonesia membutuhkannya sewaktu-waktu untuk cadangan beras nasional dan komitmen tersebut tertuang dalam MoU yang ditandatangani Menteri Perdagangan Gita Wirjawan dan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Vietnam Vu Huy Hoang di Jakarta, Selasa (18/9).
Kesepakatan dengan Vietnam yang berlaku mulai 2013 hingga 2017 ini bertujuan menyediakan alternatif bagi Indonesia dan mengurangi ketergantungan kepada satu negara.
Sebelumnya, Indonesia juga telah menandatangani MoU dengan Thailand dan Kamboja dengan komitmen masing-masing menyediakan 1 juta ton dan 100.000 ton per tahun. (070/SKD)
Pewarta :
Editor : Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Ekonomi Keuangan
Lihat Juga
Pasokan beras di Palu masih lancar meskipun belum puncak panen padi
23 February 2020 18:36 WIB, 2020
SKK Migas bantu kapal ikan untuk nelayan Donggala, JOB-Tomori sumbang 3 kapal
21 February 2020 11:54 WIB, 2020
Citra Nuansa Elok investasikan Rp325 miliar bangun kembali Mall Tatura
21 February 2020 0:08 WIB, 2020
Presiden Jokowi ingin promosikan nikel Indonesia dalam Hanover Messe Jerman
17 February 2020 17:29 WIB, 2020