Palu (ANTARA) - Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu memperkuat kompetensi para tokoh agama di Sulawesi Tengah (Sulteng) dalam memperkokoh kualitas kerukunan antar-umat beragama di provinsi tersebut.
"Kerukunan bukan hanya soal ketiadaan konflik, tetapi tentang bagaimana saling memahami identitas budaya dan keyakinan masing-masing tanpa merasa terancam. Tokoh agama adalah garda terdepan dalam menyampaikan pesan damai," kata Rektor UIN Datokarama Palu Lukman Thahir dalam pelatihan literasi keagamaan lintas budaya di Palu, Senin.
Ia mengemukakan UIN Datokarama sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam negeri terbesar di Sulawesi Tengah memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi jembatan bagi perbedaan dan merawat kerukunan.
Dalam memupuk dan meningkatkan kualitas kerukunan umat beragama, katanya, setiap individu umat beragama terlebih dahulu harus memahami serta mengenal diri sendiri.
Ia menjelaskan dengan kemampuan mengenal diri sendiri akan mengantar setiap individu untuk mengenal orang lain.
Kadang, katanya, konflik tidak lahir karena perbedaan besar, tetapi justru lahir dari hal kecil misalnya merasa tidak dihargai, merasa tidak didengar, merasa paling benar, merasa pendapat kelompok atau individu tertentu lebih penting.
"Padahal mungkin bukan itu masalahnya. Mungkin yang terjadi adalah kita sedang lelah, sedang sensitif karena punya beban pikiran. Maka pemahaman diri juga berarti mampu mengelola emosi," ujarnya.
Oleh karena itu, ujarnya, orang yang kuat bukan orang yang selalu menang dalam perdebatan, tetapi orang yang mampu menang atas dirinya sendiri.
"Orang yang paling kuat menurut Nabi bukanlah yang pandai bergulat, orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah," ujar Lukman.
Menurut dia, memahami orang lain bukan hanya mendengar kata-katanya, tetapi memahami latar belakang, pengalaman, cara berpikir, dan nilai yang diperjuangkan.
Ia menjelaskan toleransi bukan berarti harus setuju dengan semua hal, tetapi toleransi berarti tetap menghormati manusia, bisa bekerja sama walau tidak selalu sepakat dalam berpendapat.
"Pahami diri supaya tidak mudah menghakimi, pahami orang lain supaya tidak mudah membenci, dan mengisi kolaborasi supaya perbedaan menjadi rahmat bukan musibah," ucapnya.
Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho mengapresiasi UIN Datokarama yang bersedia bekerja sama dalam upaya meningkatkan kualitas kerukunan antar-agama dan lintas budaya.
"Membangun kerja sama jauh lebih penting ketimbang memperdebatkan perbedaan," kata dia.
Pelatihan literasi keagamaan lintas budaya dilaksanakan oleh UIN Datokarama bekerja sama dengan Institut Leimena, sebagai salah satu upaya dalam memaksimalkan implementasi program Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia tentang meningkatkan kerukunan dan cinta kemanusiaan.