Palu (ANTARA) - Senoro LNG (DSLNG) berhasil membuat sejarah baru dalam pengembangbiakan hewan endemik Sulawesi, macrocephalon maleo di kawasan konservasi exsitu Maleo di Banggai setelah sukses menetaskan telur maleo hasil penangkaran.

Meski dilakukan dengan bantuan inkubator, tetapi merupakan kesuksesan karena dilakukan pertama kali setelah enam tahun melakukan konservasi dan penelitian terhadap hewan endemik Sulawesi itu, kata Mustar Hasan, penjaga Maleo Centre DSLNG, melalui siaran persnya diterima di Palu, Selasa.

Disebut sejarah baru karena telur yang menetas merupakan hasil konservasi exsitu di Maleo Centre PT. DSLNG.

Awalnya, telur hasil sitaan BKSDA tahun 2013 diberikan ke Maleo Centre untuk ditetaskan melalui inkubator, hasilnya separuh dilepasliarkan dan 16 pasang lainnya dipelihara dalam penangkaran sebagai bahan konservasi dan penelitian.

"Nah, setelah empat tahun maleo tersebut akhirnya bertelur pertama kalinya pada tahun 2018. Namun telur tersebut pecah dan tak terselamatkan karena dipatok maleo lainnya," kata Mustar Hasan

Baca juga: Maleo di penangkaran ex situ PT DSLNG Banggai bertelur

Mustar mengemukakan sejarah baru itu berawal dari penemuan telur pada 24 Agustus 2019. Telur yang ditemukan pagi sekira pukul 06.30 Wita itu langsung diselamatkan dan dimasukkan ke inkubator.

Itu telur kedua dari penangkaran. Hasilnya, 79 hari kemudian, tepatnya Senin (11/11), telur tersebut akhirnya menetas.

"Ini adalah telur kedua yang kami temukan dan berhasil selamat. Telur pertama ditemukan sudah pecah dipatok maleo lainnya. Telur ketiga dan keempat juga tidak selamat. Yang menetas pagi ini adalah telur yang ditemukan kedua," terang Mustar.

Dia menjelaskan sejak, dirinya bekerja terhitung sudah empat kali maleo bertelur, dan itu baru terjadi di tahun 2018 dan 2019. Artinya, butuh waktu empat sampai lima tahun baru bisa maleo berproduksi dalam penangkaran.

"Saat ini anak maleo hasil penetasan itu masih dalam proses pengeringan dan perontokan bulu. Setelah tiga hari, maleo diperkirakan sudah bisa berlari dan diberi asupan makanan air gula dan kemiri," tuturnya.

Media Relations Officer DSLNG, Rahmat Azis mengungkapkan menetasnya telur F1 (filial) atau generasi pertama hasil konservasi exsitu tersebut merupakan sejarah baru.

Hal itu, kata Rahmat, menjadi kebahagiaan tersendiri sebab Maleo Centre PT. DSLNG bisa memberikan sumbangsih besar pada dunia ilmu pengetahuan dan penelitian.

"DSLNG membuktikan konsistensi program CSR di bidang lingkungan hidup selama enam tahun telah memberi peluang upaya domestifikasi burung endemik maleo," katanya.

Baca juga: DSLNG tanam 500 bibit kemiri dalam habitat burung maleo
Baca juga: 17 ekor burung maleo dilepasliarkan di Suaka Margasatwa Bakiriang

Anakan maleo hasil sitaan BKSDA yang ditetaskan di inkubator sebagai generasi pertama anakan maleo di Maleo Center DSLNG, bisa kawin dan menetaskan telur lagi sebagai generasi kedua di penangkaran exsitu.

Rahmat menekankan hasil penetasan ini merupakan pencapaian luar biasa dari perusahaan yang bergerak di bidang energi, yang tetap menjadikan konservasi maleo sebagai program CSR-nya.

Ia berharap maleo hasil penetasan itu bisa hidup dan berkembang, sehingga dapat disimpulkan bahwa upaya domestifikasi maleo bisa terjadi seperti halnya ternak unggas.

Konservasi exsitu Maleo Centre PT. DSLNG dalam enam tahun terakhir telah berhasil mendapatkan sejumlah penghargaan dunia atas upaya pelestarian hewan apendik satu tersebut.

Sejak diresmikan pada 5 Juni 2013, fasilitas konservasi maleo PT. Donggi-Senoro LNG yang lebih dikenal dengan nama 'Maleo Center DSLNG' telah mendapatkan tiga penghargaan.

Pertama dari United Nations Environmental Programme (UNEP), World Environment Day 5 June 2013, kedua dari Kepala BPLH Banggai, Sulawesi Tengah, dan ketiga dari CSR Award kategori Silver pada 28 November 2014 untuk kategori pelibatan dan pengembangan masyarakat dan lingkungan.

Selain sebagai tempat konservasi, Maleo Center DSLNG juga berfungsi sebagai sarana edukasi lingkungan yang terbuka bagi masyarakat umum.***

Pewarta : Adha Nadjemudin/Steven Pontoh
Editor : Adha Nadjemudin
Copyright © ANTARA 2024