Logo Header Antaranews Sulteng

Emas Banyak Digadaikan Selama Ramadhan

Selasa, 24 Juli 2012 23:13 WIB
Image Print
ilustrasi (FOTO ANTARA/Ari Bowo Sucipto)

Jakarta - Barang berupa emas mendominasi barang yang dijaminkan masyarakat untuk memperoleh kredit dari PT Pegadaian (Persero) wilayah Jakarta.

"Porsi barang berupa emas di 49 cabang Pegadaian yang masuk wilayah VIII mencapai 97 persen sementara sisanya tiga persen berupa kendaraan bermotor dan barang elektronik," kata Manajer Humas PT Pegadaian Kantor Wilayah VIII Jakarta I, Ramses Gurning di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan dominasi barang berupa emas itu mengindikasikan investasi emas di masyarakat makin tinggi. Kebanyakan warga menggadaikan emasnya untuk menambah modal usaha.

Menurut Ramses, emas yang dijadikan jaminan oleh masyarakat berupa perhiasan, berlian, maupun emas batangan. Proses gadainya hanya sekitar 15 menit.

Hal yang sama juga dikatakan Manajer Humas PT Pegadaian Kantor Wilayah IX Jakarta II, Matsani. Menurut Matsani, gadai emas di wilayahnya mencapai 95 persen.

"Itu menunjukkan masyarakat saat ini lebih senang berinvestasi emas karena harganya cenderung naik serta tingkat likuiditasnya tinggi," katanya.

Matsani mengatakan pada 1990-an awal masih banyak orang yang menggadaikan kain halus, peralatan makan rumah tangga, mesin jahit dan jam tangan. Namun, sekarang hanya emas, kendaraan dan alat elektronik saja yang digadaikan.

"Itu juga menunjukkan bahwa nasabah Pegadaian termasuk orang-orang kaya. Sebab, mereka memiliki emas untuk digadaikan," katanya.

Matsani mengatakan, emas selain likuiditasnya yang sangat tinggi, juga mudah dibawa ke Pegadaian. Orang yang pergi ke Pegadaian bisa menyimpan emasnya di saku baju atau celana.

Menurut dia, saat ini masih ada budaya malu di masyarakat bila ketahuan membawa barangnya ke Pegadaian. Masyarakat masih malu bila ketahuan tetangganya membawa radio atau peralatan elektronik lainnya ke Pegadaian.

"Kalau emas kan bisa disembunyikan. Jadi terhadap Pegadaian, masyarakat itu masih bersikap malu-malu mau," ujarnya. (SDP-49)



Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026