
Amerika Serikat Juara Sepak Bola Puteri

London - Amerika Serikat tampil sebagai juara turnamen sepak bola puteri Olimpiade untuk ketiga kalinya, setelah Kamis mengalahkan Jepang 2-1 pada pertandingan mendebarkan di Stadion Wembley, sekaligus balas dendam atas kekalahan mereka di final Piala Dunia tahun lalu.
Dua gol dari pemain Carli Lloyd, lewat gebrakannya pada menit kedelapan dan tendangan jarak dekat pada menit ke-54, membuat Amerika memimpin.
Jepang, yang mengalahkan AS lewat tendangan penalti pada final Piala Dunia tahun lalu, mempertipis kekalahan mereka pada menit ke-63, ketika pemain Amerika gagal menghalau bola, sehingga Yuki Ogimi berhasil menembus gawang mereka dari tendangan jarak dekat, merupakan golnya yang ketidalam turnamen itu.
Jepang mendominasi serangan tetapi tidak berhasil menyamakan kedudukan, kendati hal itu nyaris terjadi ketika penjaga gawang AS Hope Solo melakukan penyelamatan menakjubkan saat pemain pengganti Mana Izabuchi melancarkan tembakan keras.
Penonton sebanyak 80.203 merupakan rekor penonton terbanyak dalam laga sepak bola wanita, dibanding Olimpiade Atlanta pada 1996 ketika disaksikan 76.481 penonton.
Di Inggris, pertandingan itu juga menjadi rekor penonton terbanyak, dibanding pada awal turnamen ketika Inggris melawan Brazil di Wembley disaksikan 70. 584 penonton.
Penonton menciptakan atmosfer magis di Wembley, terasa berbeda dengan ketika menyaksikan pertandingan domestik biasa, ketika pendukung kedua tim sama-sama bersorak sorai mendukung tim mereka.
Kendati Amerika pantas mendapatkan kemenangan mereka, tetapi sebenarnya mereka menang karena beruntung, karena pada babak pertama Jepang sebenarnya sudah nyaris membuahkan gol, tetapi bola mereka menerpa tiang gawang dua kali.
Setelah Lloyd membuat Amerika memimpin, dengan memanfaatkan bola liar yang berasal dari kaki Abby Wambach, Ogimi seharusnya sudah menyamakan kedudukan, tetapi tendangannya dijentik Solo sehingga naik ke atas mistar, pada menit ke-18.
Pada pertandingan sebelumnya, Kamis, Kanada mengalahkan Prancis 1-0 dalam perebutan medali perunggu di Coventry, dan para pemainnya tiba di Wembley tepat waktu untuk menyaksikan laga final. Medali perunggu diserahkan bersamaan dengan medali emas dan perunggu, seusai laga Amerika VS Jepang.
Hal kurang menarik pada malam itu terjadi, ketika Presiden FIFA Sepp Blatter asal Swiss, disoraki penonton sebelum ia menyerahkan medali kepada ketika tim itu.
Ketua badan sepak bola internasional itu kurang populer di antara para penonton, terlebih karena dianggap mengarahkan organisasi untuk menghadiahkan babak final Piala Dunia 2018 kepada Rusia ketimbang kepada Inggris. (ANTARA/Reuters)
Pewarta :
Editor:
Anas Masa
COPYRIGHT © ANTARA 2026
