Logo Header Antaranews Sulteng

Bulog Sulteng Turun Ke Sawah

Jumat, 27 April 2012 19:02 WIB
Image Print
Seorang petani sedang membajak sawah. (ANTARA)
Bulog Sulteng mulai 2012 ini mengembangkan usaha menanam padi sendiri untuk meningkatkan pengadaan beras dan mengamankan ketersediaan pangan di daerah yang berpenduduk 2,6 juta jiwa.

Palu, (ANTARA Sulteng) - Bulog Sulawesi Tengah termasuk salah satu dari enam divisi regional ( Divre) yang masih defisit dalam memenuhi kebutuhan stok beras.

Karena masih defisit, tak heran jika untuk mencukupi kebutuhan penyaluran beras kepada kalangan rumah tangga sasaran (RTS), Bulog Sulteng hingga kini masih harus mendapat pasokan beras dari luar.

Selain dari Sulsel dan Sulbar, juga kadang-kadang mendapat jatah beras impor.

Padahal, kata Kepala Divre Perum Bulog Sulteng Achmad Ma`mun, provinsi yang terletak di jantung Pulau Sulawesi ini setiap musim panen mengalami surplus.

Memang kenyataanya begitu. "Tapi Bulog Sulteng setiap pengadaan beras untuk kebutuhan stok nasional tidak pernah mampu memenuhi kebutuhan penyaluran," katanya.

Sulteng dalam satu tahun membutuhkan beras sebanyak lebih 30.000 ton, termasuk diantaranya untuk disalurkan kepada RTS di seluruh kabupaten dan kota sebanyak 28.000 ton.

Sementara dalam kurun dua tahun terakhir yaitu pada 2010, Bulog Sulteng hanya mampu membeli 10.000 ton beras petani dan 2011 meningkat menjadi lebih 14.000 dari target yang diharapkan 15.000 ton.

Untuk bisa memebuhi kebutuhan beras setahun yang mencapai lebih dari 30.000 ton tersebut, maka Bulog harus memasok dari dua daerah tetangga Sulsel dan Sulbar.

Seperti yang terjadi sekarang ini, dalam waktu dekat Bulog Sulteng kembali akan menerima pasokan beras dari Sulsel sebanyak 7.000 ton guna mengamankan stok beras di gudang yang semakin menipis.

Di satu sisi, realisasi pengadaan beras hingga saat ini masih berjalan sangat seret. Di sisi lain pemerintah berharap Bulog di daerah-daerah, termasuk Sulteng bisa mandiri dalam hal penyediaan beras untuk kebutuhan penyaluran.

Bulog tanam padi

Achmad mengatakan, Bulog Sulteng mulai 2012 ini mengembangkan usaha menanam padi sendiri untuk meningkatkan pengadaan beras dan mengamankan ketersediaan pangan di daerah yang berpenduduk 2,6 juta jiwa.

"Ya, kami punya program khusus yang dikenal dengan nama `on farm` yakni kegiatan usaha tani padi," kata pria yang senang memancing di laut.

Program tersebut merupakan salah satu dari sejumlah program pemerintah, khususnya Kementerian BUMN dalam rangka mendukung program ketahanan pangan nasional.

Ada tiga jenis kegiatan `on farm` yaitu kegiatan mandiri oleh Bulog, mandiri kemitraan dan kemitraan dan yang akan dilakukan Bulog Sulteng adalah `on farm` mandiri dan kemitraan.

Untuk tahap pertama dari program `on farm` mandiri di Sulteng, Bulog telah membuka dan menaman padi pada areal sawah seluas 12 hektare di Desa Olaya, Kabupaten Parigi Moutong.

Kabupaten itu merupakan lumbungan beras terbesar di Sulteng.

Achmad menjelaskan, semua biaya dan sarana produksi pertanian mulai dari pembajakan sawah, penyediaan benih, pupuk dan pestisida ditanggung Bulog.

"Kita berharap padi yang ditanam oleh Unit Penggilingan Padi dan Beras (UPGB) Bulog Sulteng di Olaya akan panen pada Mei 2012 ini dan seluruh hasilnya masuk ke Bulog," katanya.

Bulog Sulteng, juga melaksanakan program `on farm` mandiri kemitraan. Program tersebut bekerja sama dengan mitra Bulog (pihak ketiga) dengan para petani atau kelompok tani yang ada di dua wilayah yaikni Kabupaten Parigi Moutong dan Sigi.

Program `on farm` mandiri kemitraan berbeda dengan `on farm` mandiri. Program `on farm` mandiri kemitraan adalah Bulog bersama mitra kerjanya akan memberikan bantuan berupa saprodi (pupuk, benih dan obat-obat pertanian) kepada petani dengan harapan setelah panen, seluruh hasil panen akan dibeli ditampung mitra, kemudian dijual kepada Bulog dengan harga sudah ditetapkan.

Nanti, katanya, seluruh biaya akan diperhitungkan setelah gabah/beras dijual kepada Bulog.

"Kedua program itu dalam rangka mendukung Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi BUMN (GP3K BUMN) yang telah dicanangkan pemerintah melalui Kementerian BUMN," katanya.

Khusus program `on farm` mandiri kemitraan, Bulog Sulteng telah terjun langsung dengan menjalin kerja sama sejumlah petani yang tersebar di Kabupaten Parigi Moutong seluas 50 hekatare dan di Kabupaten Sigi 150 haktare.

"Jadi hasil panen dari luas sawah itu, seluruhnya akan dibeli oleh Bulog Sulteng," kata Achmad.

Menurut dia, dengan melaksanakan dua program tersebut, penyerapan produksi petani untuk stok pangan nasional akan lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya.

Jika program ini berhasil, maka ke depan nanti Bulog Sulteng akan menambah luas areal penanaman padi sampai ke semua daerah di provinsi ini.

Sekarang ini penanaman baru di dua kabupaten yakni Parigi Moutong dan Sigi, tapi ke depan akan diperluas sesuai ketersediaan dana.

berikan insentif

Bulog Sulteng, kata Achmad juga memberikan insentif sebesar Rp350 per kilogram agar mampu menyerap lebih banyak beras produksi petani di daerah itu pada musim panen saat ini.

Insentif itu khusus untuk pengangkutan beras dari sentra-sentra produksi ke gudang Bulog.

Dengan adanya insentif diharapkan realisasi penyerapan beras produksi petani akan semakin lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya.

Pemerintah pusat telah menetapkan harga pembelian beras sampai ke gudang Bulog sebesar Rp6.600 per kilogram. Jika ditambah dengan insentif Rp350 per kilogram, berarti pembelian Bulog menjadi Rp6.950 per kilogram.

Sementara itu, harga beras di tingkat petani sekarang ini berkisar rata-rata di atas Rp7.000 per kilogram.

Tentu dengan harga Rp6.950 per kilogram, paling tidak mitra Bulog sudah bisa bersaing dengan para pedagang membeli beras petani.

Realisasi pengadaan beras di Sulteng hingga per 24 April 2012 baru berkisar 858 ton dan 812 ton diantaranya hasil pembelian satgas dan unit penggilingan padi dan beras (UPGB) Bulog.

Pada musim panen 2012 ini, Bulog Sulteng menetapkan prognosa pembelian beras petani sebanyak 25.000 ton. (BK03)



Pewarta :
Editor: Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2026