Logo Header Antaranews Sulteng

PT Vale tegaskan komitmen tambang berkelanjutan di Pomalaa, Morowali

Selasa, 27 Januari 2026 09:35 WIB
Image Print
PT Vale tegaskan komitmen tambang berkelanjutan di Pomalaa, Morowali. Foto dokumentasi PT Vale

Jakarta (ANTARA) - Di sebuah forum diskusi publik di Jakarta, suara-suara kritis tentang industri nikel mengemuka. Isu hidrologi, pembukaan lahan, hingga dampak kesehatan warga menjadi pokok bahasan dalam peluncuran riset bertajuk “Riset Pembangunan Indonesia Pomalaa Industrial Park (IPIP) dan Pabrik Peleburan HPAL Kolaka Nikel Indonesia (KNI)” yang digelar Yayasan Satya Bumi, 22 Januari 2026.

Di forum itu, hadir bukan sekadar sebagai peserta, tetapi sebagai penanggap. Empat hari kemudian, 26 Januari 2026, perusahaan kembali menegaskan sikapnya, terbuka terhadap masukan dan berkomitmen menjalankan praktik pertambangan berkelanjutan dalam pengembangan Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa

IGP Pomalaa merupakan salah satu proyek pengembangan besar PT Vale di luar blok operasional utamanya di Sorowako. Di kawasan ini, perusahaan merencanakan pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel berbasis teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL), sebagai bagian dari hilirisasi mineral nasional.

Sebagai perusahaan tambang nikel terintegrasi yang telah beroperasi lebih dari lima dekade di Indonesia dan merupakan bagian dari grup global serta anggota holding industri pertambangan , PT Vale menyatakan bahwa pengembangan proyek baru tetap berlandaskan prinsip keberlanjutan yang menjadi pilar strategi korporasi.

Hingga akhir 2025, kegiatan di Pomalaa masih berada pada tahap konstruksi. Aktivitas penambangan direncanakan mulai pada 2026.

“Kami senantiasa berkomitmen terhadap penerapan pengelolaan pertambangan yang baik untuk mendukung pembangunan berkelanjutan, termasuk perlindungan kelestarian lingkungan, kesejahteraan, kesehatan dan keselamatan masyarakat,” ujar Budiawansyah, Direktur dan Chief of Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale.

Ia menambahkan, komitmen tersebut dijalankan dengan dukungan dan pengawasan pemerintah, khususnya dan .
Salah satu temuan riset yang menjadi perhatian adalah kajian hidrologi. Menanggapi hal itu, PT Vale menjelaskan bahwa sebelum kegiatan penambangan dimulai, perusahaan menyusun kajian hidrologi komprehensif untuk mengelola air limpasan tambang.

Kajian tersebut mencakup pemetaan daerah tangkapan air, arah aliran limpasan, data curah dan intensitas hujan, hingga perhitungan potensi debit, erosi, dan sedimentasi. Dari sana dirancang sistem drainase dan fasilitas penangkap sedimen sesuai rencana pembukaan lahan.

Pemantauan kualitas air dilakukan secara rutin di titik-titik yang telah ditentukan, guna memastikan air limpasan memenuhi baku mutu lingkungan sebelum dialirkan ke badan air.

“Ini menjadi wujud nyata kami dalam mengelola lingkungan,” kata Budiawansyah.

Terkait pembukaan lahan, perusahaan memaparkan bahwa total areal IUPK yang telah dibuka mencapai 880,3 hektare atau sekitar 4,3 persen dari total luas izin. Di area hutan lindung, pembukaan lahan tercatat 82,4 hektare atau 0,4 persen dari total luas IUPK.

Khusus periode 2024–2025, bukaan lahan baru disebut mencapai 487,9 hektare—angka yang menurut perusahaan berbeda dari data yang disampaikan dalam surat lembaga pengkaji.


Perhatian juga diarahkan pada kondisi kesehatan warga Desa Hakatutobu. PT Vale menyatakan memahami keprihatinan tersebut. Namun berdasarkan penelusuran internal dan pemetaan daerah aliran sungai (DAS), desa tersebut disebut berada pada DAS yang berbeda dengan keluaran air limpasan tambang PT Vale.

Dalam skala yang lebih luas, wilayah sekitar juga berdekatan dengan beberapa konsesi pertambangan lain yang telah lebih dahulu beroperasi. Penjelasan ini disampaikan sebagai bagian dari upaya perusahaan memberikan konteks spasial terhadap temuan riset.


Untuk menunjukkan praktik nyata pertambangan berkelanjutan, PT Vale merujuk pada operasionalnya di Sorowako, . Di wilayah tersebut, perusahaan mengklaim telah menerapkan standar pengelolaan lingkungan dan sosial yang diakui secara nasional maupun regional.
Berdasarkan publikasi resmi perusahaan, PT Vale meraih PROPER Emas 2024—peringkat tertinggi dalam Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan yang diselenggarakan oleh KLHK.

Selain itu, perusahaan juga menerima Gold Award Asia ESG Positive Impact Awards 2025 untuk konservasi keanekaragaman hayati serta Lestari Awards 2025 atas inisiatif kehati.

Penghargaan tersebut menjadi bagian dari narasi perusahaan bahwa praktik pertambangan dapat berjalan selaras dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).


Di tengah dinamika industri nikel yang menjadi tulang punggung transisi energi dan kendaraan listrik, tekanan terhadap aspek lingkungan dan sosial kian menguat. PT Vale menyatakan melihat kritik dan kajian independen sebagai referensi untuk perbaikan.

“Kami sangat percaya transparansi ini adalah sebuah cara membangun kegiatan yang lebih baik. Kami terbuka untuk menerima masukan-masukan yang konstruktif dari para pemangku kepentingan, termasuk dari masyarakat dan LSM,” ujar Budiawansyah.

Bagi perusahaan, pengembangan IGP Pomalaa bukan hanya proyek industri, melainkan ujian konsistensi komitmen keberlanjutan. Di Pomalaa, masa depan hilirisasi nikel Indonesia sedang dibangun, dan bersama itu pula, tuntutan akan praktik tambang yang lebih bertanggung jawab terus mengemuka.



Pewarta :
Editor: Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026