
PT QKM di IMIP terapkan Supercritical Boiler untuk tekan emisi dan tingkatkan efisiensi energi

Morowali (ANTARA) - Tenant di kawasan industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), PT Qing Kota Metal (QKM), menerapkan teknologi Supercritical Boiler pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkapasitas 380 megawatt (MW) sebagai upaya meningkatkan efisiensi energi sekaligus menekan emisi dan limbah hasil pembakaran.
Manajer Departemen Environmental PT IMIP, Yundi Sobur, di Morowali, Selasa, mengatakan teknologi supercritical bekerja pada tekanan dan temperatur uap di atas titik kritis air sehingga mampu menghasilkan energi listrik lebih efisien dibandingkan sistem pembangkit konvensional atau subkritis.
"Teknologi ini mampu memanfaatkan panas pembakaran secara optimal sehingga efisiensi termalnya mencapai 38 hingga 45 persen, lebih tinggi dibandingkan PLTU subkritis yang umumnya berada pada kisaran 33 hingga 39 persen," ujarnya.
Menurut dia, peningkatan efisiensi tersebut berdampak langsung pada penurunan konsumsi batu bara untuk menghasilkan jumlah energi listrik yang sama sehingga penggunaan sumber daya menjadi lebih efektif dan ekonomis.
Selain itu, kebutuhan batu bara yang lebih rendah turut menekan emisi karbon dioksida (CO), sulfur dioksida (SO), nitrogen oksida (NOx), dan partikulat yang dihasilkan dari proses pembakaran.
Yundi menjelaskan PLTU PT QKM juga dilengkapi dengan sejumlah teknologi pengendalian pencemaran udara, antara lain Flue Gas Desulfurization (FGD) untuk mengendalikan emisi sulfur dioksida serta Electrostatic Precipitator (ESP) dan Bag House Filter untuk mengurangi emisi partikulat.
Berdasarkan hasil pemantauan emisi cerobong pada semester II tahun 2025, konsentrasi sulfur dioksida tercatat sebesar 129,9 miligram per normal meter kubik (mg/Nm³), nitrogen oksida 146,9 mg/Nm³, partikulat 24,9 mg/Nm³, dan merkuri 0,022 mg/Nm³.
Sementara pada semester I tahun 2026, emisi sulfur dioksida tercatat sebesar 81 mg/Nm³, nitrogen oksida 165 mg/Nm³, partikulat 3 mg/Nm³, dan merkuri 0,01 mg/Nm³.
"Seluruh parameter tersebut masih berada di bawah baku mutu yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 15 Tahun 2019," katanya.
Ia menambahkan, penerapan teknologi supercritical juga berkontribusi terhadap pengurangan limbah hasil pembakaran berupa fly ash dan bottom ash (FABA) karena kebutuhan batu bara menjadi lebih sedikit dan proses pembakaran berlangsung lebih sempurna.
Menurut Yundi, penggunaan Supercritical Boiler merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mengadopsi teknologi modern yang sejalan dengan target efisiensi energi nasional dan upaya perlindungan lingkungan.
"Dengan kombinasi antara efisiensi energi, teknologi pengendalian emisi yang modern, serta pengurangan limbah hasil pembakaran, PLTU PT Qing Kota Metal diharapkan dapat menjadi contoh penerapan teknologi pembangkit listrik yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan bagi perkembangan industri di Indonesia," ujarnya.
Pewarta : Rangga Musabar
Editor:
Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
