
Pemkot-Palu dukung riset penguatan pasar tenun khas Sulteng

Palu (ANTARA) - Pemerintah Kota Palu mendukung riset kolaboratif yang dilakukan Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Universitas Tadulako (Untad) mengenai penguatan pasar tenun khas Sulawesi Tengah, khususnya tenun Palu dan tenun Donggala.
Wali Kota Palu Hadianto Rasyid saat menerima kunjungan Tim peneliti dari ITB-Untad di Palu, Rabu, mengatakan penelitian tersebut menjadi langkah strategis untuk mendukung pelestarian warisan budaya sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tenun.
Menurut dia, pemerintah kota siap memberikan dukungan terhadap pelaksanaan riset, termasuk memfasilitasi kebutuhan data serta memperkuat koordinasi dengan perangkat daerah maupun para pemangku kepentingan yang berkaitan dengan pengembangan tenun daerah.
“Penelitian yang berorientasi pada pelestarian budaya sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat merupakan langkah strategis yang perlu didukung bersama,” katanya.
Ketua Riset PPMI Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB Santi Novani menjelaskan penelitian tersebut merupakan kolaborasi antara SBM ITB dan Universitas Tadulako yang berfokus pada strategi pengembangan pasar produk tenun lokal.
Ia mengapresiasi dukungan Pemerintah Kota Palu terhadap pelaksanaan penelitian tersebut. Menurut dia, pemerintah kota tidak hanya mendukung penyediaan data dan koordinasi dengan para pemangku kepentingan, tetapi juga membuka ruang kolaborasi yang lebih luas bagi kalangan akademisi untuk memberikan rekomendasi bagi pembangunan daerah.
“Kami sangat senang karena Pak Wali memberikan respons yang sangat positif. Beliau siap mendukung melalui data-data yang dibutuhkan maupun menghubungkan kami dengan para stakeholder terkait. Bahkan juga mendorong kami untuk terus memberikan masukan bagi pengembangan Kota Palu,” katanya.
Menurut dia, Kota Palu dipilih karena memiliki kekayaan budaya berupa tenun tradisional yang tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga potensi ekonomi yang besar apabila dikelola dengan pendekatan yang tepat.
Ia mengatakan salah satu luaran penelitian tersebut adalah pengembangan platform digital Sadulur, yang dalam bahasa Sunda berarti keluarga.
Ia menjelaskan platform itu dirancang menjadi ruang digital yang menghubungkan pelaku UMKM tenun dengan pasar yang lebih luas sekaligus menjadi pusat dokumentasi berbagai motif tenun khas Sulawesi Tengah, seperti motif Ubi, Kelor, Bomba, dan motif khas lainnya agar tetap terjaga keberadaannya serta semakin dikenal masyarakat.
Pewarta : Nur Amalia Amir
Editor:
Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
