Logo Header Antaranews Sulteng

BPBD Sulteng perkuat kesiapsiagaan hadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan

Selasa, 11 Agustus 2026 16:45 WIB
Image Print
Kepala Pelaksana BPBD Sulteng Asbudianto saat diwawancara terkait langkah mitigasi dan penanganan kejadian karhutla di sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah, di Palu, Selasa (11/8/2026). ANTARA/Nur Amalia Amir

Palu (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah (Sulteng) memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di daerah ini dengan meningkatkan koordinasi lintas sektor.

“Seluruh personel BPBD provinsi maupun kabupaten/kota saat ini dalam kondisi siaga,” kata Kepala Pelaksana BPBD Sulteng Asbudianto di Palu, Selasa.

Ia mengatakan 100 personel BPBD Sulteng disiagakan untuk menghadapi karhutla serta personel BPBD yang berada di kabupaten/kota.

Kesiapsiagaan tersebut diperkuat melalui apel siaga yang melibatkan pemadam kebakaran, TNI, Polri, SAR, dan polisi kehutanan (polhut).

Ia menjelaskan apel tersebut untuk memperkuat komunikasi dan koordinasi antar-pihak dalam penanganan karhutla.

“Kami membangun komunikasi dengan semua pihak yang bisa membantu dalam pemadaman kebakaran. Kami juga melaksanakan apel siaga bersama Damkar, Polri, TNI, SAR, dan polhut,” ujarnya.

Dia mengatakan setiap laporan kebakaran yang diterima akan segera ditindaklanjuti dengan mengerahkan personel ke lokasi untuk melakukan pemadaman dan mencegah api meluas.

Menurut dia, penanganan karhutla memiliki tantangan tersendiri karena lokasi kebakaran umumnya berada di kawasan hutan atau kebun masyarakat yang sulit dijangkau.

Oleh karena itu, ia mengatakan koordinasi dengan berbagai pihak diperlukan agar penanganan dapat dilakukan secara bersama-sama dan api tidak meluas ke kawasan permukiman.

“Memang kami sangat membutuhkan dukungan masyarakat untuk bersama-sama menjaga agar hutan dan lahan tidak mudah terbakar,” katanya.

Ia mengatakan kondisi karhutla di Sulteng turut dipengaruhi fenomena El Nino Godzilla yang saat ini dalam kondisi kuat.

Asbudianto mengatakan kekeringan telah berlangsung sejak Januari, meskipun pada awalnya belum terjadi secara merata karena sejumlah wilayah masih mengalami musim hujan.

Dia menyebut kondisi tersebut semakin meluas pada akhir Juli hingga awal Agustus ketika hujan semakin minim di hampir seluruh wilayah Sulteng.

BPBD mencatat sejak Januari hingga Agustus telah terjadi 33 kasus kebakaran di sejumlah wilayah, di antaranya Kabupaten Tojo Una-Una, Parigi Moutong, Banggai, Poso, dan Banggai Kepulauan.

Ia mengatakan kondisi kering diperkirakan masih berlangsung hingga sekitar November sehingga kewaspadaan terhadap potensi karhutla perlu terus dipertahankan.

Untuk mencegah bertambah kasus, Pemerintah Provinsi Sulteng telah mengeluarkan imbauan kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran.

Dia juga mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran sembarangan dan tidak membuang puntung rokok di tempat yang berpotensi memicu kebakaran.

“Kami berharap masyarakat lebih berhati-hati karena kondisi alam saat ini sangat berisiko menyebabkan kebakaran. Angin kering membuat rumput dan hutan menjadi mudah terbakar,” katanya.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan imbauan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sulteng berada pada kategori sedang hingga sangat tinggi selama 9-15 Agustus 2026.

Berdasarkan hasil analisis Fire Danger Rating System (FDRS), BMKG mencatat tingkat kemudahan bahan bakar ringan di permukaan tanah atau Fine Fuel Moisture Code (FFMC) berada di atas 82 pada seluruh 13 kabupaten/kota selama 9-15 Agustus.

Fire Weather Index (FWI) yang menunjukkan potensi intensitas api apabila terjadi kebakaran mencapai nilai tertinggi di Banggai Laut 30 dan Banggai Kepulauan 29.

Banggai mencatat nilai FWI 24, Buol dan Poso masing-masing 22, serta Tojo Una-Una 21. Morowali mencatat 19, Tolitoli 17, sedangkan Morowali Utara, Palu.



Pewarta :
Editor: Muhammad Zulfikar
COPYRIGHT © ANTARA 2026