Logo Header Antaranews Sulteng

Harga Tomat Anjlok Saat Panen Raya

Senin, 7 Mei 2012 18:16 WIB
Image Print
Bapak bisa lihat sendiri. Ini disamping saya ada tumpukan buah tomat yang sudah busuk karena tidak habis dijual,"

Palu, 6/5 (ANTARA) - Lelaki dengan menggunakan pakaian kaos warga coklat dan topi terbuat dari daun nipah itu terlihat sedang memisahkan buah tomat apel yang segar dan besar untuk dijual kepada pedagang.

Buah tomat hasil pilihan pak Sulhan (47), seorang petani di Desa Jonoge, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah tersebut kemudian dimasukan ke dalam peti kayu berukuran 50 centimeter kali 100 Cm.

Sementara buah tomat yang kecil dimasukan kedalam kerangjang.

"Kalau tomat yang ini (dalam peti) sudah ada yang punya untuk dikirim ke Kalimantan Timur," katanya.

Setiap kali panen tiba, pedagang sendiri yang datang membeli langsung di kebun. Untuk memasarkan hasil panen petani di sini tidak mengalami kesulitan.

Selama ini hasil panen petani dijual di pasar-pasar di Kota Palu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, dan sebagian lagi dijual ke Kaltim, Gorontalo, dan Manado.

Namun, di tengah-tengah panen berlangsung tidak disangka harga tomat anjlok.

Sebelum panen raya berlangsung, harga tomat di tingkat petani masih cukup bagus. Harga buah tomat segar dibeli pedagang langsung di sentra-sentra produksi Rp3.500 per kilogram.

Tetapi memasuki panen raya, harga kebutuhan masyarakat tersebut berangsur-angsur turun menjadi Rp2.500 per kilogram dan kemudian turun lagi sekarang ini hanya berkisar Rp500 sampai Rp1.000 per kilogram.

Menurut dia, dengan kondisi harga seperti itu, jelas merugikan petani, sebab biaya yang dikeluarkan mulai dari membajak lahan hingga menanam dan panen cukup besar.

Panen raya tomat sekarang ini di Kecamatan Biromaru, kata Sulhan merupakan musim tanam pada Januari 2012.

Soal produksi tomat kali ini sebenarnya jauh lebih bagus dari sebelumnya. "Buah tomat cukup banyak dan besar-besar," kata lelaki asal Blitar, Jawa Timur itu.

Namun sayang sekali disaat panen lagi bagus, harga tomat di pasaran justru murah. Tetapi ia bersama petani lainnya tetap bersyukur, meski harga tomat di pasaran rendah yang penting laku dijual.

Dari pada tidak laku dan hanya membusuk, mendingan habis terjual sekalipun harganya murah meriah. "Ya memang merugi.Tetapi bisa ditutupi dengan hasil panen cabai," katanya.

Selain menanam tomat, Sulhan juga menanam cabai meski areal tanaman cabai tidak seluas lahan tomat. Tetapi dengan harga cabai yang terbilang cukup mahal, penghasilan petani lumayan.

"Paling tidak meski harga tomat murah, tetapi harga cabai mahal. Jadi bisa ditutupi dari hasil penjualan cabai," katanya tanpa merincinya.

Harga cabai merah di pasaran setempat saat ini berkisar Rp20 ribu per kilogram dan cabai rawit mencapai Rp25 ribu per kilogram.

Zulhan menambahkan, luas areal panen tomat di Desa Jonoge hanya sekitar 1/4 hektare dengan tingkat produksi setiap kali panen tidak menentu, tergantung kondisi cuaca.

"Kalau cuaca mendukung seperti sekarang ini hasil panen lumayan," katanya.

Tetapi jika curah hujan tinggi, biasanya hasil panen sedikit karena banyak buah tomat yang gugur atau membusuk sebelum panen tiba.

Ia mengaku untuk mendapatkan lahan sekarang ini sangat sulit. Lahan yang ia kelola bukan milik sendiri tetapi disewa dari pendudukan setempat, tanpa merincinya.

Sementara biaya yang dibutuhkan untuk menanam tomat pada areal seluas 1/4 hektare tersebut berkisar Rp4 juta-Rp5 juta. Sedangkan hasil panen jika harga tomat di pasaran lagi membaik bisa sampai Rp6 juta.

"Itu sudah bersih," katanya.


Sedih

Apa yang dialami Sulhan, juga sama dengan petani tomat yang ada di dataran tinggi Napu, Kecamatan Lore, Kabupaten Poso, daerah tetangga Kabupaten Sigi.

Sukiman, salah satu dari sejumlah petani tomat di Desa Maholo, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso menyatakan petani di sana sedih karena harga buat tomat anjlok.

"Bagaimana kami tidak sedih, justru disaat panen raya justru harga tomat anjlok," katanya.

Ia mengatakan, harga tomat di tingkat petani di wilayahnyahanya dihargai pedagang Rp1.000,00 per kilogram. Padahal, katanya, harga tomat sebelum panen raya masih berkisar Rp2.500,00 per kilogram.

Rata-rata petani di Kecamatan Lore Selatan dan Lore Utara pada panen raya kali ini tidak menikmati penghasilan yang mengembirakan dari penjualan tomat, karena harganya murah.

"Ya kami tidak tahu penyabab utama anjloknya harga. Kami hanya bisa pasrah saja," katanya.

Menurut dia, anjloknya harga sangat memukul para petani yang selama ini hanya menggantungkan hidup dari hasil pertanian tersebut.

Mereka hanya berharap dalam beberapa hari ke depan ini harga tomat akan kembali membaik agar petani bisa menikmati penghasilan yang lebih baik lagi.

"Kalau harga tomat hanya berkisar Rp1.000,00 - Rp1.500,00 per kilogram, jelas merugi, sebab biaya mulai dari penggarapan lahan, pemiliharaan sampai panen tiba cukup tinggi," kata Sukiman merincinya.

Kabupaten Sigi dan Poso selama ini merupakan sentra produksi sayur-mayur seperti kubis, cabai, tomat, bawang merah, kentang, wortel, bayam, kacang panjang, kacang kedele, labu dan sawi.

Jika hasil panen sayur-mayur di dua wilayah di Sulteng itu mengalami gagal panen, pasokan akan berkurang dan harga pasti bergerak naik.


Membusuk

Para pedagang di pasar Masomba Palu mengaku pasokan buah tomat dari sentra-sentra produksi ke pasar tersebut dalam beberapa hari terakhir ini melimpah.

Bahkan karena tomat banjir di pasar-pasar, erat kaitanya dengan musim panen raya, sampai-sampai banyak buah tomat yang tidak laku akhirnya hanya dibiarkan membusuk.

"Bapak bisa lihat sendiri. Ini disamping saya ada tumpukan buah tomat yang sudah busuk karena tidak habis dijual," kata Ny Jumianti, seorang pedagang tomat di kawasan itu.

Ia mengatakan, harga tomat di pasar sekarang ini cukup murah hanya Rp2.000,00 per kilogram.

Harga tomat pernah naik sampai mencapai Rp8.000,00 per kilogram. Saat itu banyak petani yang gagal panen karena curah hujan tinggi.

Dia menambahkan, selain harganya murah, pembeli juga terbatas. Paling tidak mereka membeli sesuai dengan kebutuhannya. Apalagi buah tomat tidak bisa disimpan dalam jangka waktu lama.

Buah tomat hanya bisa bertahan seminggu. "Kalau sudah lewat dari itu, dipastikan membusuk," kata Ny Jumianti.

Hal senada juga diungkapkan Ny Wulan, salah seorang pedagang sayur-mayur di pasar Masomba. Ia membenarkan kebanyakan buah tomat yang dijual di pasar membusuk karena tidak habis terjual.

Buah tomat tidak sama seperti cabai yang bisa disimpan dalam jangka waktu lebih lama.

Ia mengaku, buah tomat dalam sepekan terakhir ini banyak membanjiri pasar-pasar yang ada di Palu, Ibu kota Provinsi Sulteng.

Saat ini sedang berlangsung panen buah tomat di Kabupaten Sigi dan Poso.

Kebanyakan, katanya, tomat yang dijual para pedagang di pasar-pasar di kota ini berasal dari Kabupaten Sigi dan Poso. Dua daerah di Sulteng itu selama ini merupakan pemasok terbesar sayur-mayur untuk masyarakat di Palu.

Menurut dia, setiap musim panen dipastikan harga buah tomat di pasaran turun.

Tetapi saat belum panen, harga tomat di pasaran pasti naik. Biasanya, saat harga di Palu murah, para pedagang menjualnya ke luar daerah.

Seperti sekarang ini, banyak pedagang di Palu yang membeli buah tomat hasil panen petani di Kabupaten Sigi dan Poso, lalu menjualnya ke Kaltim atau Gorontalo dan Manado.

Kebetulan harga tomat di daerah-daerah itu saat ini cukup mahal. "Yang mereka pasti mendapat keuntungan lebih besar jika menjualnya ke sana," katanya.

Kasihan petani tomat, justru disaat sedang panen raya, harga anjlok.

Data Dinas Pertanian Sulteng menyebutkan, jumlah produksi tomat di Sulteng saat ini baru sekitar 4.412 ton, dan terbesar di Kabupaten Poso dan Sigi. Dua daerah itu merupakan sentra produksi tomat terbesar di Sulteng. (BK03)



Pewarta :
Editor: Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2026