Warga Kuba mencari suaka di AS

id Warga Kuba,Karavan Migran,Meksio,AS

Marlene Ruiz, seorang warga Kuba yang berharap mendapat suaka, memohon sambil berlutut di depan petugas Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP) Amerika Serikat di jembatan internasional perbatasan antara Meksiko dengan Amerika Serikat di Ciudad Juarez, Meksiko, Minggu (31/3/2019). ANTARA FOTO/REUTERS/Jose Luis Gonzalez/djo

Ciudad Juarez (ANTARA) - Isel Rojas meredam impiannya untuk meninggalkan Kuba ketika AS mengakhiri kebijakan imigrasinya untuk warga pulau tersebut, tapi setelah menyaksikan di televisi karavan dari Amerika Tengah bergerak menuju Amerika Utara, ia mulai melihat jalur baru.

Pada satu pagi di Januari, ia terbangun dan memberitahu istrinya bahwa ia akhirnya siap. Lima-belas hari kemudian, ia pun berangkat.

"Jika mereka bisa melakukannya, mengapa kita tidak bisa?" demikian pertanyaan Rojas (48), yang bekerja di sektor pertanian di Kota Holguin di bagian timur Kuba, sebagaimana dikutip Reuters --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa pagi. Ia mengenang gambar banyak pemuda dan keluarga yang melakukan perjalanan dalam kelompok ke perbatasan Meksiko-AS.

Rojas sekarang menunggu permohonan suaka AS di Kota Ciudad Juarez di perbatasan Meksiko, yang telah menjadi daya tarik kuat bagi migran Kuba.

Aksi keras polisi dan prospek ekonomi yang suram tetap menjadi alasan utama yang disampaikan warga Kuba untuk bermigrasi dari negara yang dikuasai Komunis tersebut, musuh Amerika Serikat selama Perang Dingin. Tapi sebagian warga Kuba di Ciudad Juarez mengatakan gelombang baru karavan juga memotivasi mereka, dan memberi mereka kesan bahwa Amerika Serikat mau menerima migran.

Sejak awal tahun lalu, karavan itu telah sering menjadi sasaran Preisden AS Donald Trump sebab ia menyarankan kebijakan imigrasi yang lebih keras. Banyak pengeritik mengatakan pernyataan presiden AS tersebut mengenai karavan migran, termasuk serangkaian cuitan marahnya, secara ironis telah memperluas kelompok dan mempublikasikan suaka sebagai cara yang mungkin untuk memperolah status sah.

"Orang yang menciptakan peliputan media dan yang menggunakan masalah karavan adalah Presiden Trump," kata Tonatiuh Guillen, Kepala Lembaga Migrasi Nasional Meksiko, kepada stasiun radio lokal pekan lalu.

Tambahan warga Kuba dalam arus migran itu menambah tekanan atas tempat penampungan yang sudah kelebihan penghuni dan pemerintah perbatasan di Meksiko serta Amerika Serikat.

Lebih dari 100.000 orang ditahan dan atau menyerahkan diri kepada pemerintah pada Maret, kata Gedung Putih pada Jumat lalu (5/4), jumlah paling banyak dalam satu dasawarsa. Trump telah mengancam akan menutup perbatasan atau memberlakukan kebijakan tarif atas Meksiko sebagai pembalasan.

Selain itu, kata sebagian pengeritik sikap lebih keras Trump dalam hubungan dengan Kuba telah menambah harapan warga Kuba --yang secara ekonomi lemah dan sangat terkekang di pulau tersebut.

Gedung Putih dan pemerintah Kuba belum menanggapi permintaan komentar, sementara lembaga migrasi Meksiko juga enggan berkomentar.

Baca juga: Kuba kecam Trump
Baca juga: Trump cabut kebijakan Obama terkait Kuba


Sumber: Reuters
Pewarta :
Uploader : Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar