Logo Header Antaranews Sulteng

Awas, DBD serang Kota Palu

Rabu, 13 Februari 2013 23:33 WIB
Image Print
Ilustrasi: Nyamuk penyebar demam berdarah (ANTARA/Paramayuda)
Warga Kota Palu diminta untuk tetap menggalakkan gerakan 3M karena pengasapan atau penggunaan bubuk antilarva nyamuk (abate) masih kurang efektif untuk memutus rantai perkembangbiakan nyamuk."

Palu (antarasulteng.com) - Seorang gadis berusia 11 tahun harus kehilangan nyawanya akibat mengidap demam berdarah dengue (DBD) di Kota Palu, pada akhir Januari 2013.

Helny, korban asal Kecamatan Palu Utara itu, menjadi korban keganasan DBD pertama pada 2013 ini. Sementara itu, sekitar 60 anak lainnya tercatat pernah dirawat di sejumlah rumah sakit dan Puskesmas karena menderita penyakit serupa.

Atas kasus tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Palu menetapkan Kecamatan Palu Utara sebagai daerah mengalami kejadian luar biasa (KLB) jumlah kasus DBD pada Januari 2013 karena terdapat lebih dua kali lipat kasus dibanding bulan yang sama pada tahun sebelumnya.

Melihat adanya tanda-tanda kasus DBD akan merebak, Dinas Kesehatan Kota Palu segera bertindak cepat untuk menekan kasus penyakit mematikan itu.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu Emma Sukmawati mengatakan, petugas saat ini sudah mulai turun ke daerah-daerah yang dicurigai rawan penyebaran DBD.

Sambil turun ke lapangan, petugas juga memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga pola hidup bersih dan sehat.

Dia juga meminta warga Kota Palu diminta untuk tetap menggalakkan gerakan 3M karena pengasapan atau penggunaan bubuk antilarva nyamuk (abate) masih kurang efektif untuk memutus rantai perkembangbiakan nyamuk.

Kegiatan 3M dimaksud adalah menguras dan menutup tempat penampungan air serta mengubur barang-barang yang berpotensi bisa menjadi sarang nyamuk.

Menurut dia, meski gerakan 3M itu adalah tindakan sederhana namun terbukti efektif mencegah merebaknya penyakit DBD.

Emma mengatakan penyebab maraknya DBD di Kota Palu juga disebabkan musim yang tidak menentu serta tingkat kepadatan penduduk.

Kondisi demikian menjadikan Kota Palu sebagai daerah endemik DBD.

Saat ini di sejumlah rumh sakit di Kota Palu terdapat pasien DBD yang sebagian besar adalah anak-anak berusia 2-15 tahun.

Emma mengimbau kepada warga untuk segera membawa anaknya ke rumah sakit atau puskesmas jika mengalami demam tinggi.

"Jangan sampai terlambat agar segera mendapat penanganan," katanya.

Dinas Kesehatan Kota Palu mencatat pada 2010 terdapat 1.300-an kasus DBD dengan 14 orang meninggal dunia. Sementara pada 2011 terdapat sebanyak 899 kasus DBD dengan delapan orang meninggal dunia.

Sedangkan pada 2012, terdapat

1.051 kasus DBD di Kota Palu dengan enam korban meninggal dunia.

Siklus Tiga Tahunan

Pada Februari 2010, Kota Palu juga pernah ditetapkan sebagai daerah KLB kasus DBD mengingat jumlah penderita lebih dua kali lipat pada periode yang sama pada tahun sebelumnya, atau dari 127 kasus menjadi 316 dengan dua orang meninggal dunia.

Sebelumnya pada awal Februari 2007, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah ini juga pernah mengalami KLB kasus DBD karena terjadi peningkatan kasus dari 17 menjadi 99 kasus.

Melihat kondisi itu, Kota Palu dikhawatirkan akan mengalami siklus tiga tahunan KLB kasus DBD pada awal 2013 ini.

Sebagai catatan, pada Januari 2012, kota berpenduduk sekitar 310 ribu jiwa ini terdapat 176 kasus DBD, dan pada Februari 2012 terdapat 297 kasus dengan dua orang meninggal dunia.

Sedangkan pada Januari 2013 hanya terdapat sekitar 50 kasus DBD di Kota Palu dengan satu orang meninggal dunia.

Melihat perbandingan jumlah kasus yang terpaut jauh antara awal 2012 dan awal 2013 maka KLB DBD kemungkinan tidak akan terjadi di Kota Palu.

Namun demikian Dinas Kota Palu harus tetap mengantisipasi merebaknya kasus DBD mengingat saat ini masih sering terjadi hujan.

Musim hujan dianggap saat yang cocok untuk perkembangbiakan nyamuk aedes aigypti. Nyamuk mematikan itu mudah berkembang biak di saluran air macet, tempat penampungan air yang ditinggalkan, kolam yang tidak ada ikannya atau genangan air lainnya.

Mantan Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi Tengah Abdullah DHSM pernah mengatakan pemanasan global juga menyebabkan siklus inkubasi ekstrinsik virus penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD) di tubuh nyamuk aedes aegyti menjadi lebih pendek.

Akibatnya kondisi itu, kasus demam berdarah lebih mudah meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Masa inkubasi virus demam berdarah sendiri bisa berlangsung di tubuh nyamuk atau manusia. Akibat pemanasan global dan perubahan iklim yang tak menentu, siklus inkubasi tersebut menjadi lebih pendek sehingga kasus DBD mudah terjadi.

Pemanasan global yang menyebabkan suhu udara naik sekitar 1,0 derajat celsius sangat berpengaruh terhadap siklus hidup virus (bionomik) demam berdarah.

Pemanasan global, kebiasaan hidup tak sehat, serta rendahnya pengetahuan masyarakat tentang DBD membuat penyakit ini masih sering dijumpai.

Dinas Kesehatan Kota Palu sendiri gencar melakukan sosialisasi tentang bahaya DBD berikut pencegahannya. Namun pada kenyataannya masih banyak kasus demam berdarah hingga menyebabkan kematian.

DBD sebenarnya bukan jenis penyakit untuk ditakuti namun harus diwaspadai agar tidak merebak atau bahkan menjadi kejadian luar biasa.

"Gampang kok caranya terhindar dari berbagai penyakit. Cukup berperilaku hidup bersih dan sehat dengan diawali mencuci tangan dengan sabun," kata Emma Sukmawati. (R026)



Pewarta :
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026