
Harga Bawang Lebih Kejam Dibanding Teroris?

...untuk menghancurkan Indonesia tak hanya cukup dengan melakukan serangkaian aksi teror, melainkan dengan menghilangkan sejumlah komoditas utama bumbu dapur seperti bawang dan cabe.
Palu (antarasulteng.com) - Harga bawang merah dan bawang putih meroket dalam beberapa hari terakhir, kenaikannya mencapai 300 persen.
Kenaikannya tidak ada yang bisa menghalangi bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tak kuasa menahan laju lonjakan harga komoditas yang sangat dibutuhkan masyarakat.
Bawang adalah bumbu masak yang wajib ada di dalam lemari dapur. Hampir semua masakan menggunakan bawang merah atau bawang putih, dan terkadang keduanya dicampur untuk menciptakan rasa makanan yang lebih sedap.
Namun kini harganya melambung. Harga bawang merah yang biasanya Rp20 ribu per kilogram kini mejadii Rp80 ribu. Sedangkan bawang merah yang pada hari biasa seharga Rp15 ribu, kini menjadi Rp60 ribu per kilogram.
Semahal apapun harga bawang pasti akan dibeli masyarakat, terutama warga yang memiliki warung makan atau usaha kuliner lainnya.
Dampak kenaikan harga bawang saat ini sudah terasa. Harga sejumlah komoditas lainnya juga ikut-ikutan merangkak naik, seperti cabe merah dan cabe hijau.
Efek samping lain adalah harga makanan yang menggunakan bumbu dapur tersebut ikut naik. Kalaupun tidak menaikkan harga, pedagang terpaksa mengecilkan ukuran produk makanan yang dijual untuk menjaga pembeli tidak lari.
Masyarakat Sulawesi, misalnya, dikenal memiliki selera masakan dengan aneka bumbu pedas, atau bisa dibilang dengan pedas level 10.
Berbagai menu ikan bakar, ayam bakar, atau masakan lain dipastikan memiliki tingkat pedas yang lebih tinggi jika dibandingkan masakan jawa yang terkenal memiliki rasa manis.
Susah dibayangkan jika orang Sulawesi mengunyah makanan tak pedas. Racikan sambal pedas pasti membutuhkan bawang yang tidak sedikit agar rasanya tetap sesuai selera meski harganya meningkat tiga kali lipat.
Dampak kenaikan harga bawang juga dirasakan penjual. Sebelumnya, para pedagang mengaku bisa menjual bawang rata-rata 25 kilogram sehari, namun kini hanya sekitar lima kilogram per hari.
Kenapa harga bawang begitu tinggi padahal Indonesia dikenal sebagai daerah subur yang mampu menghasilkan aneka rempah-rempah.
Tingginya harga bawang saat ini disebabkan mulai dihentikannya impor komoditas tersebut. Penghentian impor ternyata tidak diimbangi dengan produksi bawang oleh petani. Itu membuktikan kebijakan yang tidak jeli.
Menteri Pertanian Suswono mengatakan meroketnya harga bawang adalah siklus tahunan, dan dalam tiga bulan ini bawang susah didapatkan akibat anomali cuaca.
Ia juga mengaku data produksi maupun kebutuhan bawang putih dan bawang merah saat ini tidak valid dengan kondisi di lapangan.
Oknum pedagang
Adanya kenaikan harga bawang itu tampaknya juga dimanfaatkan oleh oknum pedagang yang menginginkan untung berlebih.
Pemerintah di sejumlah daerah sesuai petunjuk Menko Perekonomian Hatta Rajasa harus bertindak tegas terhadap oknum yang menyelundupkan atau menimbun bawang.
"Pokoknya kita sikat jika ada yang coba menyelundupkan," katanya.
Demikian halnya dengan Pemerintah Kota Palu yang mewaspadai penimbunan bawang menyusul melambungnya harga komoditas tersebut beberapa hari terakhir.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kota Palu Haeriyati Atjo mengatakan pihaknya dan sejumlah instansi terkait membentuk kelompok kerja yang bertugas memantau perkembangan harga bawang merah dan bawang putih di sejumlah pasar tradisional.
Tim tersebut juga mencari penyebab kenaikan harga dan menemukan solusinya.
"Jangan sampai ada oknum pedagang yang justru menimbun bawang agar harganya tetap naik," katanya.
Pemkot Palu juga bekerja sama dengan aparat kepolisian untuk menindak tegas para penimbun yang berupaya mencari keuntungan sendiri.
"Kasihan masyarakat kecil karena harga bawang terus meningkat," kata Haeriyati.
Dia juga mengaku pemerintah tidak bisa melakukan operasi pasar terkait tingginya harga bawang karena tidak ada stok bawang yang disimpan, seperti yang dilakukan Perum Bulog.
Dia hanya mengimbau kepada masyarakat agar tidak terlalu banyak membeli bawang pada saat harga naik.
"Pada saatnya harga bawang pasti turun," kata Haeriyati.
Melebihi teroris
Mantan pejabat Badan Pusat Statistik Sulawesi Tengah Kusriawanto mengatakan untuk menghancurkan Indonesia tak hanya cukup dengan melakukan serangkaian aksi teror, melainkan dengan menghilangkan sejumlah komoditas utama bumbu dapur seperti bawang dan cabe.
Kalau cabe dan bawang langka masyarakat akan kelimpungan. Meski harganya mahal, bumbu dapur itu pasti akan diburu. Orang baik bisa menjadi jahat dengan menjadi penyelundup atau penimbun bawang.
Lebih sialnya, pemerintah tidak memiliki gudang stok bumbu dapur, layaknya peran Perum Bulog yang gesit melakukan operasi pasar ketika beras langka atau harganya melambung.
Sementara itu negara mati-matian dengan menghabiskan dana miliaran rupiah untuk membiayai penumpasan terorisme. Negara juga memiliki intelijen dengan alat canggih yang bisa mendeteksi ancaman teror. Ke lubang semut pun teroris pasti akan ditemukan, entah itu hidup atau mati, meski prosesnya banyak dikatakan melanggar hak asasi manusia.
Namun apa yang dilakukan pemerintah ketika bawang menghilang dan harganya melambung tinggi, seperti saat ini.
Aksi terorisme hanya berdampak pada orang atau institusi tertentu. Namun apabila bawang sudah "beraksi" maka dampaknya lebih kejam dari pada teroris, tidak mengenal suku, agama, ras, antargolongan, dan pekerjaan.
Tidak ada intelijen khusus yang memata-matai pergerakan bawang atau cabe. Bahkan pemerintah juga tidak memiliki data pasti tentang kebutuhan dan produksi bumbu dapur itu.
Kementerian Pertanian dan Kementerian Koodinator Perekonomian terkesan saling lempar tanggung jawab soal melonjaknya harga bawang yang dampaknya langsung dirasakan masyarakat bawah.
Tingginya harga bawang dipastikan akan memicu angka inflasi karena mempengaruhi harga-harga kebutuhan lainnya.
Bawang dan teroris memang dua hal berbeda, tetapi keduanya bisa membuat rakyat menangis.
Tugas pemerintah lah yang mengatur itu agar tercipta kesejahteraan.
Beberapa hari ini, setiap membaca surat kabar dan membuka lembar demi lembar halamannya seolah kita sedang mengupas kulit bawang yang membuat air mata berlinang karena pemberitaan harga bumbu kian melambung.
Semoga berita sedih ini cepat berakhir dengan tampilnya pahlawan dari pemerintah yang tetap menjaga komoditas bumbu dapur tetap aman, dan tidak mengait-kaitkannya dengan komoditas politik menjelang Pilpres 2014. (R026)
Pewarta : Riski Maruto
Editor:
Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026
