
Menghidupkan Kembali Perpustakaan

Membaca juga sangat membantu untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan.
Palu, (antarasulteng.com) - Pada tahun 1990-an, pengunjung perpustakaan di Kota Palu membludak hingga duduk di lantai sambil membaca buku. Sekarang, bangku-bangku di sini sering kosong karena pengunjung turun drastis.
Itulah pengakuan Agustina, seorang petugas Perpustakaan Sulawesi Tengah yang ditemui baru-baru ini.
Pengelola perpustakaan yang terletak di Kota Palu ini berupaya semaksimal mungkin untuk menggaet pengunjung dengan berbagai cara, salah satunya menyediakan fasilitas internet gratis.
"Cuma bawa laptop saja, dan pengunjung bisa menjelajah di dunia maya," kata petugas yang sudah bekerja belasan tahun di perpustakaan terbesar di Provinsi Sulawesi Tengah ini.
Menurutnya, perkembangan teknologi informasi menjadi penyebab utama turunnya minat warga untuk mengunjungi Perpustakaan Sulawesi Tengah yang terletak di Jalan Banteng Kota Palu.
Dia meyakini minat baca masyarakat masih ada, tapi mengunjungi perpustakaan menjadi berkurang karena telah digantikan dengan layar komputer atau kecanggihan gadget yang bisa mengakses dunia maya dengan hanya duduk atau sambil tiduran tanpa susah-susah menuju perpustakaan.
Anak muda, mahasiswa atau pelajar lainnya sebagian besar sudah memiliki alat komunikasi yang bisa menghubungkan dunia siber hanya dari genggamannya.
Kepala Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Daerah (BPADD) Sulawesi Tengah Sulawesi Tengah Irwan Lahace, mengakui saat ini perpustakaan di sejumlah daerah menghadapi sejumlah masalah sehingga bisa dianggap menjadi penyebab rendahnya pengunjung.
Masalah itu antara lain keterbatasan dana, pelayanan petugas yang kurang optimal, serta rasio jumlah bacaan dengan pertumbuhan pengguna jasa perpustakaan masih rendah.
Selanjutnya, banyak tenaga perpustakaan yang belum memiliki kompetensi, dan gedung Perpustakaan Sulawesi Tengah yang kurang representatif.
Beberapa warga yang mengunjungi Perpustakaan Sulawesi Tengah mengatakan kondisi gedung sudah tidak representatif dan perlu direnovasi. Di sejumlah bangunan seluas 2.500 meter persegi itu terlihat keretakan di sejumlah sudut.
Sementara itu koleksi bacaannya juga sudah tua. Banyak koleksinya yang merupakan keluaran di bawah tahun 2000.
"Kita membutuhkan koleksi terbaru agar memudahkan kita membuat tugas-tugas kuliah," kata seorang mahasiswa yang kebetulan sedang berada di perpustakaan.
Saat ini alokasi anggaran untuk Perpustakaan, Arsip, Dokumentasi Sulawesi Tengah pada 2013 mencapai Rp21 miliar dari APBD dan APBN, atau meningkat sekitar Rp5 miliar dibanding tahun sebelumnya.
Anggaran itu besar namun hingga saat ini belum terlihat adanya perubahan berarti di perpustakaan yang menjadi pusat baca bagi masyarakat itu.
Pertambahan koleksi juga tidak terlalu banyak, sementara sejumlah rak buku di beberapa ruang diselimuti debu yang menunjukkan bilik tersebut jarang dijamah pengunjung.
Irwan Lahace mengatakan pihaknya terus berupaya meningkatkan pelayanan dan kenyamanan agar pengunjung betah dan terus bertambah, salah satunya melengkapi ruang dengan pendingin udara.
Dia mengklaim pengunjung Perpustakaan Sulawesi Tengah saat ini mulai meningkat dibanding beberapa tahun sebelumnya.
BPADD Sulawesi Tengah sendiri terus meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya membaca buku atau bahan bacaan lainnya.
Menurutnya, membaca itu sebuah kebutuhan meski kita sudah tidak sekolah, pensiun dari pekerjaan, atau berhenti dari kegiatan rutin lainnya.
"Membaca juga sangat membantu untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan," kata mantan Karo Humas dan Protoler Sulawesi Tengah ini.
Jumlah pengunjung Perpustakaan Sulawesi Tengah pada 2012 sebanyak 25.124, atau meningkat 8,5 persen dibanding 2011 yang sebanyak 23.160 orang.
Hingga Desember 2012, Perpustakaan Sulawesi Tengah memiliki koleksi umum sebanyak 41.447 judul dengan jumlah eksemplar sebanyak 192.917 buku.
Undang artis
Untuk meningkatkan minat baca dan mengunjungi perpustakaan Pemprov Sulawesi Tengah beberapa kali mengundang artis yang kebetulan menjadi duta baca.
Duta baca itu dihadirkan di perpustakaan sambil diselingi kegiatan seni dan budaya untuk menghidupkan kembali perpustakaan.
Pada 2007, Duta Baca Indonesia Tantowi Yahya yang juga dikenal penyanyi country dihadirkan di Kota Palu untuk menyemangati warga dan meningkatkan kegemaran membaca.
Saat itu dia mengatakan, solusi kerusakan perlengkapan elektronik sebagian besar dapat ditemukan di buku petunjuk manual yang teresdia.
"Jadi, sebenarnya tidak perlu langsung membawa ke tukang servis jika kita gemar membaca," kata pria yang saat ini menjadi anggota DPR RI.
Pada awal 2013, Yessy Gusman, yang saat ini menjadi Duta Baca Indonesia juga datang ke Kota Palu. Tugasnya sama, mengajak masyarakat untuk gemar membaca.
Yessy Gusman bersama pejabat di Sulawesi Tengah dan Kota Palu berkeliling ke sejumlah tempat untuk menciptakan kembali gairah membaca.
Artis era 80-an itu berkata membaca buku harus tetap menjadi kebiasaan di tengah pesatnya perkembangan media dan informasi.
Keprihatinan pemuda
Neni Muhidin, seorang pemuda di Palu, mengaku prihatin dengan kondisi sejumlah perpustakaan di kota ia dibesarkan.
Dia melihat perpustakan milik Kota Palu kurang representatif bagi pembaca.
Perpustakaan Kota Palu berada di komplek Pasar Bambaru atau dikenal Pasar Tua. Ruang perpustakaan itu luasnya sekitar 8x6 meter, tanpa kursi. Pengunjung hanya melantai di atas karpet ketika akan membaca.
Jumlah koleksi buku Perpustakaan Kota Palu diperkirakan tidak mencapai 2.000 buah yang disusun di sejumlah rak.
Letak perpustakaan itu juga tersembunyi karena berada di lantai dua yang di sekelilingnya ditumbuhi pohon yang tingginya hampir sama dengan gedung yang di lantai satu berfungsi sebagai toko emas. Tidak ada papan nama yang bisa dilihat warga dari jalan.
Menurut, Neni perpustakaan itu dibangun sebagai formalitas semata, asal ada dan tanpa tindak lanjut. "Perpustakaan itu ada tapi seolah tidak ada. Bisa diistilahkan mati suri," ujarnya.
Melihat kondisi itu Neni berupaya membangun perpustakaan dan galeri seni di sebidang tanah di Jalan Tanjung Tada.
Ia nekad akan membangun perpustakaan dan galeri seni di atas tanah yang tidak memiliki sertifikat dan rawan sengketa.
Pembangunan perpustakaan itu didasari surat penunjukkan izin mendirikan bangunan Nomor 24/6111.42/DPRD/87.
Surat tersebut diberikan kepada ayah Neni Muhidin semasa menjadi pegawai DPRD Sulawesi Tengah pada 1987.
"Tanah ini memang rawan, tapi saya masih menyimpan bukti otentik surat penunjukan itu," katanya.
Pria yang sering bergelut di dunia sastra dan seni ini mengaku sudah berkonsultasi dengan Pemerintah Kota Palu serta mendapat dukungan untuk membuat perpustakaan di atas tanah seluas 630 meter persegi ini.
Pria bercambang ini sebenarnya sudah memiliki perpustakaan mini di rumahnya yang terletak di Jalan Tururuka namun kondisinya dianggap kurang representatif.
Koleksi bukunya sekitar 700 buah yang dipajang di ruang tamu yang sekaligus menjadi perpustakaan mini "Nemu".
Neni mengaku sejak 2007 telah rajin mengoleksi buku yang sebagian besar berjenis sastra dari penulis dalam dan luar negeri.
Menurutnya, dengan dibangunnya perpustakaan yang dikelolanya, minat masyarakat untuk membaca buku kembali hidup, apalagi letaknya yang berdekatan dengan sebuah sekolah dasar.
Perpustakaan yang akan dibangun itu nantinya juga akan dilengkapi dengan "amphitheater" untuk pertunjukkan seni.
"Tempat ini sekaligus bisa menjadi tempat kumpul dan diskusi seluruh lapisan masyarakat," katanya.
Ditanya soal dana pembangunan, Neni mengaku akan mulai menggalang dana melalui Yayasan Nemu yang dikelolanya serta dari donasi dari berbagai sumber.
"Jumlahnya belum tau, dan target pembangunan akan selesai sekitar tiga tahun ke depan," katanya, sekaligus menambahkan niatnya membangun perpustakaan sangat didukung keluarganya.
Semangat segelintir pemuda seperti Neni patut diacungi jempol dan perlu didukung dalam upayanya meningkatkan baca masyarakat.
Menumbuhkan minat baca bisa saja perlu contoh dari pemimpin, baik itu wali kota, bupati, gubernur, dan pejabat lainnya.
"Mungkin saja Gubernur Sulawesi Tengah hanya beberapa kali menginjakkan kaki di Perpustakaan Sulawesi Tengah," kata seorang warga. (SKD)
Pewarta : Riski Maruto
Editor:
Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2026
