Berpergian dengan ojek "online" di tengah pandemi virus corona, amankah?
Senin, 23 Maret 2020 6:05 WIB
Pengemudi ojek online menunggu penumpang di kawasan Pasar Anyar, Kota Tangerang, Banten, Rabu (11/3/2020). ANTARA FOTO/Fauzan/foc. (ANTARA FOTO/FAUZAN)
Jakarta (ANTARA) - Menyusul adanya pembatasan transportasi umum di sejumlah titik karena pandemik virus corona baru (COVID-19), mau tak mau para pekerja yang masih dituntut masuk kantor harus mencari opsi transportasi lain, seperti kendaraan pribadi atau ojek dan taksi daring (online).
Namun, di sisi lain, kembali timbul pertanyaan, apakah berpergian dengan ojek atau taksi daring lebih aman daripada menggunakan transportasi umum massal?
Dikutip dari The Telegraph, taksi relatif aman digunakan di tengah pandemik karena memiliki ruang tertutup dan orang yang ada di dalamnya pun terbatas.
Lebih lanjut, sejumlah ahli kesehatan dan keamanan merekomendasikan, tempat paling aman untuk duduk adalah tepat di belakang pengemudi, karena penumpang cenderung tidak akan terkena tetesan air (droplet) saat pengemudi batuk atau bersin.
Di Indonesia sendiri, tak hanya ada taksi berupa mobil, namun juga tersedia dalam bentuk sepeda motor.
Penyedia jasa layanan on-demand di Indonesia juga tengah berusaha untuk memastikan layanan transportasi daringnya tetap aman bagi pengguna maupun mitranya di tengah pandemik corona baru ini.
"Kami telah menempatkan berbagai upaya pencegahan tambahan serta paket dukungan untuk melindungi kesehatan, kesejahteraan dan keberlangsungan hidup mereka," kata Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenadi melalui keterangannya beberapa waktu lalu.
Sementara itu, Co-CEO Gojek Kevin Aluwi melalui keterangannya yang diterima ANTARA beberapa waktu lalu mengungkapkan, terdapat tiga area penting untuk mencegah penyebaran virus, yaitu pembatasan jarak sosial (social distancing), mempraktikkan gaya hidup sehat, dan menjaga produktivitas.
"Ekosistem Gojek terdiri dari ratusan juta individu, dan kami yakin upaya pencegahan yang dilakukan Gojek dapat memiliki dampak besar dalam memperlambat atau mencegah penyebaran COVID-19," ujar Kevin.
Upaya pencegahan
Gojek menyebut bahwa pihaknya memahami adanya risiko bagi mitra driver GoCar dan GoRide, sehingga sejumlah upaya pencegahan penyebaran COVID-19 juga terus dilakukan.
Salah satunya adalah menyediakan hand sanitizer dan masker kepada mitra driver, yang kehadirannya saat ini semakin sulit dicari, dan harus disediakan untuk mitra driver.
"Secara aktif Gojek menggandeng berbagai pihak dari sektor publik dan swasta untuk mendapatkan suplai berbagai barang dan kebutuhan yang dapat membantu mitra driver kami untuk tetap sehat dan aman dari risiko COVID-19," jelas Kevin.
Selain itu, Gojek juga memberlakukan penonaktifan sementara akun mitra yang sedang dalam observasi tes COVID-19, hingga adanya konfirmasi tes kesehatan dari pemerintah. Gojek juga memiliki tim untuk membantu menghubungkan mitra dengan rumah sakit atau otoritas kesehatan jika memiliki isu terkait dengan COVID-19.
"Gojek berupaya untuk tetap membuat masyarakat menjalani kehidupan senormal mungkin di tengah tantangan COVID-19, termasuk para mitra di ekosistem kami," kata Kevin.
Di sisi lain, Grab Indonesia juga memonitor situasi dan mempersiapkan seluruh pemangku kepentingan Grab pada respon kami terhadap COVID-19.
"Di masa yang tidak pasti ini, sebagai aplikasi serba bisa di Indonesia, kami memiliki kewajiban untuk memastikan seluruh lini layanan kami berjalan dengan resiko yang lebih minim bagi semua pelanggan dan lini mitra yang kami layani dan dukung dalam platform kami," kata Neneng.
Untuk layanan ojek dan taksi daring (GrabBike dan GrabCar), Grab menyebut terdapat sebanyak 100 ribu masker dan hand sanitizer untuk mitra pengemudi yang aktif dan dapat diambil di stasiun kereta terpilih, GrabBike Lounge, dan dapat ditukarkan melalui program GrabBenefits.
"Hal ini akan memungkinkan para mitra pengemudi untuk mensanitasi kendaraan dan tas pengiriman mereka dengan baik sepanjang hari," ujar Neneng.
"Para pengemudi GrabBike juga diingatkan untuk selalu mengenakan helm dan sarung tangan yang bersih, serta menjaga kesehatan," katanya menambahkan.
Grab Indonesia juga menyebut, pihaknya menyediakan Grab Safety Hotline, Pusat Bantuan di Aplikasi Grab Driver, dan melalui forum online untuk menjawab pertanyaan dan segera memberikan bantuan terkait informasi kesehatan dan keamanan yang dibutuhkan.
Yang perlu dilakukan penumpang
Jika memang keadaan sangat mendesak dan mengharuskan pengguna untuk menggunakan jasa layanan transportasi ini, ada baiknya penumpang juga turut menjaga kebersihan dan kesehatan menyusul langkah para pelaku industri ini.
Salah satu cara yang direkomendasikan oleh Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) DKI Jakarta, dr. Koesmedi Priharto, ialah membawa dan memakai helm milik sendiri alih-alih milik pengemudi ojek.
"Kalau bisa pakai helm sendiri mungkin lebih baik. (Penutup kepala untuk helm) tidak menjanjikan (bisa melindungi dari paparan virus), karena jarak satu meter dua meter jadi masalah," kata dia Jakarta, beberapa waktu lalu.
Koesmedi mengatakan, sebenarnya risiko sebagai penumpang terinfeksi virus tinggi jika pengemudi ternyata positif virus termasuk COVID-19.
Di samping itu, Ketua PERSI dr. Kuntjoro AP juga menghimbau masyarakat tak perlu panik menghadapi COVID-19 yang sudah menjadi pandemik menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) sejak Rabu (11/3), demi menghindari munculnya hal buruk yang baru.
Koesmedi menambahkan, sekedar mengingatkan cara menutup bersin dan batuk dengan benar, penggunaan masker untuk mereka yang sakit juga penting demi mencegah infeksi COVID-19 semakin meluas.
Namun, di sisi lain, kembali timbul pertanyaan, apakah berpergian dengan ojek atau taksi daring lebih aman daripada menggunakan transportasi umum massal?
Dikutip dari The Telegraph, taksi relatif aman digunakan di tengah pandemik karena memiliki ruang tertutup dan orang yang ada di dalamnya pun terbatas.
Lebih lanjut, sejumlah ahli kesehatan dan keamanan merekomendasikan, tempat paling aman untuk duduk adalah tepat di belakang pengemudi, karena penumpang cenderung tidak akan terkena tetesan air (droplet) saat pengemudi batuk atau bersin.
Di Indonesia sendiri, tak hanya ada taksi berupa mobil, namun juga tersedia dalam bentuk sepeda motor.
Penyedia jasa layanan on-demand di Indonesia juga tengah berusaha untuk memastikan layanan transportasi daringnya tetap aman bagi pengguna maupun mitranya di tengah pandemik corona baru ini.
"Kami telah menempatkan berbagai upaya pencegahan tambahan serta paket dukungan untuk melindungi kesehatan, kesejahteraan dan keberlangsungan hidup mereka," kata Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenadi melalui keterangannya beberapa waktu lalu.
Sementara itu, Co-CEO Gojek Kevin Aluwi melalui keterangannya yang diterima ANTARA beberapa waktu lalu mengungkapkan, terdapat tiga area penting untuk mencegah penyebaran virus, yaitu pembatasan jarak sosial (social distancing), mempraktikkan gaya hidup sehat, dan menjaga produktivitas.
"Ekosistem Gojek terdiri dari ratusan juta individu, dan kami yakin upaya pencegahan yang dilakukan Gojek dapat memiliki dampak besar dalam memperlambat atau mencegah penyebaran COVID-19," ujar Kevin.
Upaya pencegahan
Gojek menyebut bahwa pihaknya memahami adanya risiko bagi mitra driver GoCar dan GoRide, sehingga sejumlah upaya pencegahan penyebaran COVID-19 juga terus dilakukan.
Salah satunya adalah menyediakan hand sanitizer dan masker kepada mitra driver, yang kehadirannya saat ini semakin sulit dicari, dan harus disediakan untuk mitra driver.
"Secara aktif Gojek menggandeng berbagai pihak dari sektor publik dan swasta untuk mendapatkan suplai berbagai barang dan kebutuhan yang dapat membantu mitra driver kami untuk tetap sehat dan aman dari risiko COVID-19," jelas Kevin.
Selain itu, Gojek juga memberlakukan penonaktifan sementara akun mitra yang sedang dalam observasi tes COVID-19, hingga adanya konfirmasi tes kesehatan dari pemerintah. Gojek juga memiliki tim untuk membantu menghubungkan mitra dengan rumah sakit atau otoritas kesehatan jika memiliki isu terkait dengan COVID-19.
"Gojek berupaya untuk tetap membuat masyarakat menjalani kehidupan senormal mungkin di tengah tantangan COVID-19, termasuk para mitra di ekosistem kami," kata Kevin.
Di sisi lain, Grab Indonesia juga memonitor situasi dan mempersiapkan seluruh pemangku kepentingan Grab pada respon kami terhadap COVID-19.
"Di masa yang tidak pasti ini, sebagai aplikasi serba bisa di Indonesia, kami memiliki kewajiban untuk memastikan seluruh lini layanan kami berjalan dengan resiko yang lebih minim bagi semua pelanggan dan lini mitra yang kami layani dan dukung dalam platform kami," kata Neneng.
Untuk layanan ojek dan taksi daring (GrabBike dan GrabCar), Grab menyebut terdapat sebanyak 100 ribu masker dan hand sanitizer untuk mitra pengemudi yang aktif dan dapat diambil di stasiun kereta terpilih, GrabBike Lounge, dan dapat ditukarkan melalui program GrabBenefits.
"Hal ini akan memungkinkan para mitra pengemudi untuk mensanitasi kendaraan dan tas pengiriman mereka dengan baik sepanjang hari," ujar Neneng.
"Para pengemudi GrabBike juga diingatkan untuk selalu mengenakan helm dan sarung tangan yang bersih, serta menjaga kesehatan," katanya menambahkan.
Grab Indonesia juga menyebut, pihaknya menyediakan Grab Safety Hotline, Pusat Bantuan di Aplikasi Grab Driver, dan melalui forum online untuk menjawab pertanyaan dan segera memberikan bantuan terkait informasi kesehatan dan keamanan yang dibutuhkan.
Yang perlu dilakukan penumpang
Jika memang keadaan sangat mendesak dan mengharuskan pengguna untuk menggunakan jasa layanan transportasi ini, ada baiknya penumpang juga turut menjaga kebersihan dan kesehatan menyusul langkah para pelaku industri ini.
Salah satu cara yang direkomendasikan oleh Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) DKI Jakarta, dr. Koesmedi Priharto, ialah membawa dan memakai helm milik sendiri alih-alih milik pengemudi ojek.
"Kalau bisa pakai helm sendiri mungkin lebih baik. (Penutup kepala untuk helm) tidak menjanjikan (bisa melindungi dari paparan virus), karena jarak satu meter dua meter jadi masalah," kata dia Jakarta, beberapa waktu lalu.
Koesmedi mengatakan, sebenarnya risiko sebagai penumpang terinfeksi virus tinggi jika pengemudi ternyata positif virus termasuk COVID-19.
Di samping itu, Ketua PERSI dr. Kuntjoro AP juga menghimbau masyarakat tak perlu panik menghadapi COVID-19 yang sudah menjadi pandemik menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) sejak Rabu (11/3), demi menghindari munculnya hal buruk yang baru.
Koesmedi menambahkan, sekedar mengingatkan cara menutup bersin dan batuk dengan benar, penggunaan masker untuk mereka yang sakit juga penting demi mencegah infeksi COVID-19 semakin meluas.
Pewarta : Arnidhya Nur Zhafira
Editor : Sukardi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemprov Gorontalo kerja sama Grab dan Ovotingkatkan kunjungan wisata
06 November 2024 11:17 WIB, 2024
Digitalisasi UMKM di kota kecil bantu kontribusi perekonomian nasional
11 October 2021 16:46 WIB, 2021
Indonesia jadi pasar layanan pesan-antar makanan terbesar di Asia Tenggara
28 January 2021 18:05 WIB, 2021
Terpopuler - Advetorial/Rilis
Lihat Juga
Tunjukkan dominasi, pebalap belia Astra Honda melesat di Thailand Talent Cup 2026
04 May 2026 13:50 WIB
DSLNG perkuat kolaborasi Energi, Pemerintah tegaskan dukungan regulasi investasi
24 April 2026 19:57 WIB
PT Vale Indonesia buka lowongan kerja hingga 17 April 2026, Ini daftar posisinya
14 April 2026 9:20 WIB
Naik peringkat raih PROPER hijau 2026, langkah nyata DSLNG perkuat kinerja lingkungan
12 April 2026 17:44 WIB