Ketum Muhammadiyah minta hindari narasi saling merendahkan
Senin, 10 Mei 2021 15:50 WIB
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir (ANTARA FOTO)
Yogyakarta (ANTARA) - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir meminta Umat Islam di Indonesia mewujudkan nilai inti dari berpuasa dengan menghindari melontarkan berbagai narasi saling merendahkan sesama warga bangsa.
"(Menghindari) menciptakan narasi yang saling merendahkan sesama golongan, sesama elit, tokoh, dan warga bangsa yang membuat kehidupan kita kehilangan nilai-nilai utama," kata Haedar secara virtual saat konferensi pers di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Yogyakarta, Senin.
Memasuki penghujung Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri, ia juga mengimbau seluruh warga bangsa, khususnya Umat Islam untuk menghindari perilaku negatif lainnya seperti menyebarkan hoaks, kebencian, serta permusuhan, dan juga saling menghujat.
Bangsa Indonesia, kata dia, selama ini dikenal sebagai bangsa beragama, berpancasila, dan berkebudayaan luhur sehingga sudah sepatutnya menjauhi sederet perilaku negatif itu.
"Puasa dan Idul Fitri harus menjadi momentum untuk menerapkan praktik keislaman atau keberagamaan yang bersifat baik dan hindari hal-hal yang negatif sebagai implementasi ketakwaan," kata dia.
Praktik keberagamaan, menurut Haedar, harus mampu dihadirkan di ruang publik. Dengan demikian, esensi dari ibadah puasa harus menjadikan pengamalnya menyebarkan nilai-nilai luhur seperti perdamaian dan persatuan.
Nilai-nilai dalam gama Islam, menurut dia, harus menjadi kenyataan yang mampu menampilkan ahlak yang baik serta moralitas luhur di ruang publik yang mampu menghadapi perbedaan pandangan keberagamaan maupun politik.
"Jangan sampai kita banyak mengobral pertikaian yang diakibatkan perbedaan pandangan dan perspektif. Di sinilah hasil puasa itu membentuk insan-insan yang arif dan bijaksana," kata dia.*
"(Menghindari) menciptakan narasi yang saling merendahkan sesama golongan, sesama elit, tokoh, dan warga bangsa yang membuat kehidupan kita kehilangan nilai-nilai utama," kata Haedar secara virtual saat konferensi pers di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Yogyakarta, Senin.
Memasuki penghujung Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri, ia juga mengimbau seluruh warga bangsa, khususnya Umat Islam untuk menghindari perilaku negatif lainnya seperti menyebarkan hoaks, kebencian, serta permusuhan, dan juga saling menghujat.
Bangsa Indonesia, kata dia, selama ini dikenal sebagai bangsa beragama, berpancasila, dan berkebudayaan luhur sehingga sudah sepatutnya menjauhi sederet perilaku negatif itu.
"Puasa dan Idul Fitri harus menjadi momentum untuk menerapkan praktik keislaman atau keberagamaan yang bersifat baik dan hindari hal-hal yang negatif sebagai implementasi ketakwaan," kata dia.
Praktik keberagamaan, menurut Haedar, harus mampu dihadirkan di ruang publik. Dengan demikian, esensi dari ibadah puasa harus menjadikan pengamalnya menyebarkan nilai-nilai luhur seperti perdamaian dan persatuan.
Nilai-nilai dalam gama Islam, menurut dia, harus menjadi kenyataan yang mampu menampilkan ahlak yang baik serta moralitas luhur di ruang publik yang mampu menghadapi perbedaan pandangan keberagamaan maupun politik.
"Jangan sampai kita banyak mengobral pertikaian yang diakibatkan perbedaan pandangan dan perspektif. Di sinilah hasil puasa itu membentuk insan-insan yang arif dan bijaksana," kata dia.*
Pewarta : Luqman Hakim
Editor : Sukardi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Haedar Nashir harap Bangsa Indonesia jangan terbelah sikapi isu Palestina
24 May 2021 18:15 WIB, 2021
Haedar Nashir berharap momentum Idul Fitri untuk aktualisasi nilai Pancasila
10 May 2021 20:38 WIB, 2021
Ketua Umum Muhammadiyah: Tidak mudik jadi bentuk empati kepada tenaga medis
13 April 2021 14:30 WIB, 2021
Presiden Jokowi harapkan Muhammadiyah ikut perangi hoaks vaksin COVID-19
18 November 2020 16:14 WIB, 2020