Jakarta - Para peneliti terus menajamkan teknologi peninderaan jauh untuk dapat mengetahui penyebaran, biomassa, dan lokasi yang cocok untuk budidaya rumput laut.

Berdasarkan data dari Food and Agriculture Organization (FAO), produksi rumput laut dunia pada tahun 2007 sudah mencapai 14,8 juta ton. Indonesia merupakan produsen rumput laut target="_blank"> di dunia--setelah China dan Filipina--dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan untuk meningkatkan produksi rumput laut hingga 10 target="_blank">pada tahun 2015.

Namun produksi rumput laut menghadapi keterbatasan kemampuan untuk memetakan penyebaran rumput laut yang bernilai ekonomis secara komprehensif.

Pemetaan penyebaran rumput laut sangat krusial dalam upaya peningkatan kualitas bahan baku rumput laut untuk ekspor.

Laporan Badang Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (
Balitbang target="_blank">) menunjukkan bahwa Indonesia telah mengaplikasikan teknologi penginderaan jauh terhadap rumput laut pada tahun 2008-2010, dengan menggunakan satelit Formosat dari Taiwan dan satelit Alos Avnir dari Jepang.

Kedua satelit itu dapat menghasilkan kenampakan sebaran rumput laut di daerah yang diteliti yaitu di perairan Pulau Pari (Kepulauan Seribu) dan Pulau Nusa Lembong (Bali). (E012)