Jakarta (ANTARA) - Qom berjarak sekitar 156 km barat daya Teheran, ibu kota Iran. Kota ini dikenal luas semasa Revolusi Iran pada 1979. Di kota inilah awal gerakan perlawanan terhadap Shah Reza Pahlevi, rezim yang didukung Amerika Serikat.

Revolusi, yang sekaligus mengakhiri 2.500 tahun Kekaisaran Persia ini, dicatat sejarah sebagai revolusi terbesar setelah Revolusi Prancis dan Revolusi Bolshevik di Rusia. Penggeraknya, seorang ulama berusia lanjut, 77 tahun: Ayatullah Khomeini.

Kota Qom, Kedutaan Besar Amerika Serikat, Menara Azadi, dan mausoleum Khomeni -- simpul-simpul Revolusi Iran -- masuk dalam jadwal saya di sela Konferensi Kantor Berita Asia Pasifik (Organisation of Asia-Pacific News Agencies -- OANA), November 2006.

Berita kehebatan Revolusi Iran, sering saya baca di koran-koran Medan, semasa saya remaja di Medan. Inilah yang mendorong keinginan saya mengunjungi tempat-tempat bersejarah itu.

Dan, kesempatan itu tiba. Pada 13 November 2006 siang, setelah memastikan LKBN ANTARA jadi Ketua dan tuan rumah OANA untuk 2007, saya mengajak sekretaris LKBN ANTARA saat itu (Pak Rajab Ritonga) mengunjungi tempat bersejarah Revolusi Iran. Sedangkan wartawan yang berpengalaman tugas di luar negeri, Edi Utama, bagian dari tim ANTARA, mengikuti city tour dengan delegasi negara lain.

Dari Ferdowsi Grand Hotel di Kooshk Mesri Street, pusat kota Teheran, kami menuju bekas Kedutaan AS di Distrik 6 Taleqani St. Kedutaan itu kini menjadi museum US Den of Espionage, saksi sejarah Revolusi Iran. Pagar eks kedutaan dibiarkan penuh coretan dan mural, seperti ketika mahasiswa Iran menyandera 52 staf kedutaan AS selama 444 hari, sejak 4 November 1979. Terlama dalam sejarah.

Penyanderaan itu menuntut pemerintah AS, yang dipimpin Presiden Jimmy Carter, mengembalikan Shah Reza Pahlevi ke Iran. Diktator Iran itu dilarikan ke AS dengan alasan berobat, setelah dia terguling. Reza Pahlevi yang berkuasa selama 29 tahun, tidak dikembalikan ke Iran, melainkan ke Mesir pada Desember 1979. Setahun kemudian, Reza wafat.

Kami hanya melintas eks Kedutaan AS. Perjalanan dilanjutkan menuju Menara Azedi, bagian dari sejarah Revolusi Iran. Menara berwarna kuning keemasan ini sangat terkenal. Halaman depan koran-koran waktu itu, sering sekali memuat ratusan ribu demonstran di bawah manara ini saat penggulingan Reza Pahlevi.

Jarak Teheran ke alun-alun Menara Azedi sekitar tujuh kilometer dengan masa tempuh normal sekitar 15 menit. Namun kemacetan di kota ini menjadikan perjalanan lebih setengah jam.

Menara ini terdiri dari dua pilar setinggi 45 meter, yang saling membelit pada ujungnya dan terletak di sebuah lapangan seluas 50.000 m². Azedi dibangun untuk memperingati 2.500 tahun Kerajaan Persia. Selesai pada 1971.

Dari kejauhan, terlihat sebagian puncak gunung Aiborz diselimuti salju. Indah di saat matahari segera turun. Kami meninggalkan Menara Azedi menuju Kota Qom, yang bejarak 150 km, sekitar dua jam perjalanan.


Kota Qom

Kota ini tidak begitu besar, berpenduduk sekitar satu juta jiwa. Tanahnya kering karena berada di kawasan sahara tengah Iran. Tidak jauh dari kota ini ada danau garam, yang mempengaruhi tanah Qom. Menurut berbagai catatan, pada musim panas suhu udara dapat mencapai 40 derajat celsius. Sebaliknya musim dingin, suhu bisa anjlok di bawah nol, yang terkadang disertai hujan salju.

Tiba di tempat ini, kami dibawa sopir ke suatu kawasan pusat penyebaran Syiah. Di kawasan ini ada masjid besar yang berada di ketinggian. Kawasan ini mengingatkan saya pada pesantren pada umumnya di Indonesia. Bagi kalangan Syiah, Qom adalah kota suci. Disebut juga Kota Sejuta Ulama.

Masjid besar sudah terlihat dari kejauhan. Untuk mencapai masjid ini, kami naik beberapa anak tangga. Sampai di pelataran, ada pos penjagaan. Petugas meminta kami meninggalkan tas, juga kamera. Kami menyerahkan tas, tapi lupa menitipkan kamera yang ada di saku jas.

Di masjid, banyak orang sholat. Saya tidak tahu mereka sholat apa, karena dzuhur sudah lama berlalu. Mungkin sholat sunnah. Kami keliling kompleks. Dan, kamera yang ada di saku jas pun beraksi, mengambil foto secara sembunyi. Tidak begitu fokus, maklum takut diketahui. Tapi setidaknya cukup untuk dokumentasi.

Usai berkeliling, kami kembali ke pos penjagaan, mengambil tas. Tidak jauh dari tangga, setelah turun, banyak pedagang berjualan. Ada jualan turbah -- ini batu ukuran kecil terbuat dari tanah cetakan, yang diletakkan di dahi saat sujud. Kalangan Syiah berpandangan, sujud haruslah di tanah.

Perlawanan dari Kota Qom

Nama kota Qom saya ketahui saat koran-koran memberitkan Revolusi Iran, 1979. Pergerakan melawan pemerintah Shah Reza Pahlevi bermula di kota ini. Pemimpinnya, Ayatolah Khomeini, yang sejak muda belajar dan mendalami hukum syariah, ilmu fiqih, juga filsafat Yunani, etika, dan filsafat politik.

Sebagai pengajar, Khomeini yang dilahirkan pada 24 September 1902 di Khomeyn, mengajarkan kepada santrinya pentingnya peran agama dalam isu-isu sosial politik, dan penentangannya terhadap sekulerisme. Pada 1962, Khomeini menggalang ulama untuk memprotes rencana Shah Iran, Reza Pahlevi memberlakukan pelantikan pejabat tanpa menggunakan Al Quran.

Ketika Shah Iran memberlakukan Revolusi Putih tentang reformasi tanah, privatisasi perusahaan negara, maupun pergantian sistem pemilihan umum, Khomeini menggalang para ulama memboikot kebijakan tersebut. Shah Iran marah dan mengecam ulama.

Perlawanan terus diigelorakan dari Qom. Khomeini melancarkan serangan melalui pidatonya. Jika Shah Iran tidak mengubah kebijakannya, kecam Khomeini, rakyat Iran bakal senang melihat Shah Iran pergi dari negara ini. Pernyataan ini memicu kemarahan Shah Iran, diktator dukungan Amerika itu. Khomeini ditangkap di Qom, dibawa ke Teheran.

Gelombang protes terjadi, disusul kerusuhan. Setidaknya, 400 orang tewas dalam tragedi yang dikenal dengan nama Pergerakan 15 Khordad. Ada yang menyebutkan, kerusuhan pada 1962 itu, ribuan orang tewas. Kerusuhan tersebut diduga didalangi Savak, polisi rahasia Iran.

Setelah kerusuhan, pemerintah Iran mengasingkan Khomeini ke Turki, kemudian ke Irak. Di sini, Khomeini terus melancarkan gerakan perlawanan. Shah Iran terpojok dan meminta Irak mengusir Khomeini. Pada 1978, Khomeini pergi ke Paris, Prancis. Perlawanan terus berlanjut.

Dari rumahnya yang kecil di Neauphle-Le-Chateau, luar kota Paris, Khomeni berkotbah dan mengobarkan revolusi penggulingan Shah Iran yang otoriter. Khotbah-kotbhah itu direkam melalui kaset dan diselendupkan jamaahnya ke Iran. Saat itu belum ada internet.

Khotbah Khomeini dalam kaset itu diperbanyak dan didengar banyak orang di Iran. Gelombang gerakan rakyat dan mahasiswa semakin besar. Shah Iran melawan gerakan tersebut dengan menculik pendukung Khomeini, termasuk mahasiswa dan cendekiawan.

Aksi ini memicu kemarahan rakyat. Kerusuhan pecah. Ribuan orang korban luka dan tewas. Di sisi lain, sebagian militer Iran memihak Khomeini. Tahun 1979, sejarah besar terjadi di Iran. Shah Iran yang semakin tidak berdaya, dibawa pasukan Amerika Serikat ke Aswan, Mesir, 16 Januari 1979. Kekuasaan Shah Iran selama 37 tahun pun berakhir.

Kepergian Shah Pahlevi itu membuka jalan kepulangan Khomeini, tokoh berusia 80 tahun. Pada 1 Februari 1979, Khomeni pulang disambut jutaan orang, yang berbaris di jalan-jalan Teheran untuk menyaksikan secara langsung kehadiran tokoh panutan mereka.

Jatuhnya Shah Iran sekaligus mengakhiri 2.500 tahun sistem kerajaan di Iran, berganti menjadi Republik Islam Iran. Tidak hanya itu, tumbangnya rezim despotik dan korup tersebut, mempengaruhi gerakan dan pemikiran Islam di seluruh dunia, terutama di negara-negara mayoritas berpenduduk umat Islam yang tertindas.

Buku-buku Ali Syari'ati, salah satu tokoh Revolusi Iran, menjadi bacaan penting para aktifis mahasiswa, termasuk di Indonesia. Sosiolog terkemuka Iran itu sempat dipenjara rezim Shah Reza Pahlevi, kemudian dibebaskan atas desakan mahasiswa. Ali Syari'ati ditemukan tewas di Southampton, Inggris, 19 Juni 1977, diduga dibunuh agen rahasia Iran, Savak. Saat itu, usia Syari'ati 43 tahun.

Revolusi Iran juga meningkatkan sentimen rakyat terhadap Amerika Serikat di negara-negara Islam. AS dianggap mendukung pemimpin despotik dan korup untuk kepentingan bisnis dan politiknya. Bersamaan dengan itu, kecurigaan Barat -- juga rezim pro Amerika di Asia dan Afrika -- terhadap gerakan Islam juga meningkat.


Makam Khomeini

Setelah Shah Iran Reza Pahlevi tumbang, Ayatollah Khomeini memimpin Iran dengan jabatan Pemimpin Agung sejak 11 Februari 1979 – 3 Juni 1989. Khomeini wafat 3 Juni 1989 dalam usia 86 tahun.

Selesai dari Qom, kami menuju ke Teheran dan singgah di Mausoleum Ayatollah Khomeini di Behesht-e Zahra, sekitar 19 km sebelah selatan Tehran. Kompleks makam keluarga ini besar dan belum sepenuhnya selesai dibangun ketika kami tiba.

Dalam kompleks seluas 20 km ini, tidak saja ada makam Khomeini, istrinya Khadijeh Saqafi, puteranya Ahma Khomeini, dan beberapa tokoh revolusi, tapi juga ada pusat kebudayaan, kampus, pesantren, dan tempat wisata. Tempat parkir dapat menampung 20.000 mobil.

Mausoleum ini mulai dibangun tahun 1989, tidak lama setelah Khomeini wafat. Makam Khomeini berada di bawah kubah bersepuh emas, yang diberinama Hussainia. Di sekelilingnya ada empat menara.

Pada 20 Juni 2009, mausoleum ini diserang bom bunuh diri. Serangan ini beberapa meter dari mausoleum. Serangan kembali terjadi pada 2017, di bulan yang sama, Juni. Selain mausoleum, serangan juga terjadi di kantor parlemen Iran. Kelompok ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Matahari sudah semakin condong. Kami meninggalkan makam Khomeini. Dalam perjalanan menuju Teheran, saya mengenang kembali revolusi besar dari kota kecil, dari ulama.

Dari jendela mobil, terlihat orang-orang bergegas, mungkin pulang ke rumah masing-masing. Lampu-lampu mulai menyinari jalan-jalan kota Teheran. Hari segera berganti ...

*) Asro Kamal Rokan adalah wartawan senior, pernah menjadi Pemimpin Redaksi Republika (2003-2005) dan Pemimpin Umum LKBN ANTARA (2005-2007)

Pewarta : Asro Kamal Rokan *)
Editor : Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2024