BNPT selesaikan vaksinasi untuk mantan napi terorisme
Kamis, 16 September 2021 6:50 WIB
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar (kiri) mengikuti rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (15/9/2021). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj
Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar menegaskan lembaganya telah menyelesaikan vaksinasi COVID-19 untuk para mantan narapidana kasus terorisme dan keluarga mereka.
"Kami ingin menyukseskan program vaksinasi," kata Boy dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi III DPR di Gedung Senayan, Jakarta, Rabu.
Boy menjelaskan beberapa wilayah kantong mantan narapidana teroris (napiter) yang telah selesai divaksinasi seperti di Solo Raya (Jateng), Karanganyar (Jateng), Lamongan (Jatim), dan Poso (Sulteng).
"Kami ingin melayani mereka, karena akses dengan pemerintahan bisa jadi ada masalah dan mereka juga termarjinalkan dalam pelayanan publik," jelas Boy.
Selain itu, kata Boy, upaya vaksinasi bagi mantan napiter diselaraskan dengan program kontranarasi. Dimana adanya kelompok intoleran yang melakukan ajakan kepada masyarakat untuk tidak menyukseskan vaksinasi dengan berbagai isu, misalnya vaksinasi itu konspirasi, mengandung bahan tertentu hingga sarana membunuh masyarakat
"Itu adalah pembodohan kepada masyarakat," ujar Boy.
Boy menegaskan BNPT ingin menunjukkan bahwa mantan napiter yang pernah ingin melawan negara ikut menyukseskan program vaksinasi pemerintah.
"Kami telah merencanakan vaksinasi di Samarinda (Kalimantan Timur), dimana ada 12 mantan napiter di sana," kata Boy.
"Kami ingin menyukseskan program vaksinasi," kata Boy dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi III DPR di Gedung Senayan, Jakarta, Rabu.
Boy menjelaskan beberapa wilayah kantong mantan narapidana teroris (napiter) yang telah selesai divaksinasi seperti di Solo Raya (Jateng), Karanganyar (Jateng), Lamongan (Jatim), dan Poso (Sulteng).
"Kami ingin melayani mereka, karena akses dengan pemerintahan bisa jadi ada masalah dan mereka juga termarjinalkan dalam pelayanan publik," jelas Boy.
Selain itu, kata Boy, upaya vaksinasi bagi mantan napiter diselaraskan dengan program kontranarasi. Dimana adanya kelompok intoleran yang melakukan ajakan kepada masyarakat untuk tidak menyukseskan vaksinasi dengan berbagai isu, misalnya vaksinasi itu konspirasi, mengandung bahan tertentu hingga sarana membunuh masyarakat
"Itu adalah pembodohan kepada masyarakat," ujar Boy.
Boy menegaskan BNPT ingin menunjukkan bahwa mantan napiter yang pernah ingin melawan negara ikut menyukseskan program vaksinasi pemerintah.
"Kami telah merencanakan vaksinasi di Samarinda (Kalimantan Timur), dimana ada 12 mantan napiter di sana," kata Boy.
Pewarta : Fauzi
Editor : Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Perhumas Indonesia komitmen komunikasi jadi mesin perubahan positif
20 November 2024 14:30 WIB, 2024
BNPT: Aktivitas transportasi laut bisa jadi pintu masuknya radikalisme
29 March 2022 13:06 WIB, 2022
BNPT harap peran para tokoh di Sulteng kuatkan ketahanan ideologi bangsa
10 August 2020 18:29 WIB, 2020