Mau Kurus, Romantislah...
Rabu, 5 September 2012 13:00 WIB
Pasangan romantis Anang dan Ashanty (ANTARA)
Jakarta - Penelitian telah membuktikan bahwa cahaya lampu temaram serta alunan lembut musik jazz di rumah makan cepat saji, ternyata dapat mengurangi asupan kalori dan mempercepat rasa kenyang.
Para peneliti juga menemukan bahwa dengan membuat lampu restoran cepat saji menjadi temaram, dapat menyebabkan para pecinta makanan cepat saji mengkonsumsi kalori lebih sedikit, hingga 175 kilokalori namun mereka lebih hidangan.
Hasil penelitian ini lalu menentang pemikiran bahwa orang yang menikmati panganan dalam suasana romantis, dengan lampu temaram dan alunan musik lembut, akan memesan makanan lebih banyak dibandingkan dengan suasana rumah makan pada umumnya.
Untuk menanggapi tantangan tersebut, para peneliti melakukan perombakan pada satu restoran cepat saji, dengan menyediakan lampu temaram serta alunan musik lembut.
Para peneliti juga menanyai para responden, yang merupakan penikmat masakan cepat saji, apakah mereka lebih menyukai makan di rumah makan cepat saji atau rumah makan bernuansa romantis.
Para peneliti mencatat lamanya waktu para responden berkunjung serta jumlah makanan yang dikonsumsi. Selain itu, para peneliti juga meminta para responden untuk menilai kualitas sajian sebelum mereka pulang.
Para peneliti dari Cornell University berpikir bahwa suasana santai dapat memicu responden untuk tinggal di restoran lebih lama dan memesan lebih banyak makanan, dibandingkan dengan responden yang makan di rumah makan cepat saji pada umumnya.
Namun, hasil penelitian telah menunjukkan, bahwa meskipun para responden tinggal lebih lama di restoran bernuansa romantis, mereka memesan makanan lebih sedikit.
Laporan dari psikolog menghasilkan bahwa meskipun penikmat rumah makan santai hanya mengkonsumsi kalori 18 persen lebih sedikit, para responden ini justru lebih menikmati panganan dan suasana tersebut.
Para psikolog ini menjelaskan bahwa para responden tersebut merasa tidak terganggu dengan suasana hingar bingar rumah makan cepat saji, sehingga mereka dapat lebih terfokus dengan sajian makanan tersebut.
Profesor Brian Wansink menyatakan bahwa berdasarkan penemuan ini, pihaknya menyarankan agar rumah makan cepat saji mengunakan suasana santai untuk meningkatkan kepuasan pelanggan dan mengurangi konsumsi kalori.
Menurut Wansink, hal ini merupakan informasi penting bagi kebanyakan rumah makan cepat saji, yang memberikan kontribusi besar pada peningkatan obesitas, sebagaimana dilansir dari DailyMail.
(M048)
Para peneliti juga menemukan bahwa dengan membuat lampu restoran cepat saji menjadi temaram, dapat menyebabkan para pecinta makanan cepat saji mengkonsumsi kalori lebih sedikit, hingga 175 kilokalori namun mereka lebih hidangan.
Hasil penelitian ini lalu menentang pemikiran bahwa orang yang menikmati panganan dalam suasana romantis, dengan lampu temaram dan alunan musik lembut, akan memesan makanan lebih banyak dibandingkan dengan suasana rumah makan pada umumnya.
Untuk menanggapi tantangan tersebut, para peneliti melakukan perombakan pada satu restoran cepat saji, dengan menyediakan lampu temaram serta alunan musik lembut.
Para peneliti juga menanyai para responden, yang merupakan penikmat masakan cepat saji, apakah mereka lebih menyukai makan di rumah makan cepat saji atau rumah makan bernuansa romantis.
Para peneliti mencatat lamanya waktu para responden berkunjung serta jumlah makanan yang dikonsumsi. Selain itu, para peneliti juga meminta para responden untuk menilai kualitas sajian sebelum mereka pulang.
Para peneliti dari Cornell University berpikir bahwa suasana santai dapat memicu responden untuk tinggal di restoran lebih lama dan memesan lebih banyak makanan, dibandingkan dengan responden yang makan di rumah makan cepat saji pada umumnya.
Namun, hasil penelitian telah menunjukkan, bahwa meskipun para responden tinggal lebih lama di restoran bernuansa romantis, mereka memesan makanan lebih sedikit.
Laporan dari psikolog menghasilkan bahwa meskipun penikmat rumah makan santai hanya mengkonsumsi kalori 18 persen lebih sedikit, para responden ini justru lebih menikmati panganan dan suasana tersebut.
Para psikolog ini menjelaskan bahwa para responden tersebut merasa tidak terganggu dengan suasana hingar bingar rumah makan cepat saji, sehingga mereka dapat lebih terfokus dengan sajian makanan tersebut.
Profesor Brian Wansink menyatakan bahwa berdasarkan penemuan ini, pihaknya menyarankan agar rumah makan cepat saji mengunakan suasana santai untuk meningkatkan kepuasan pelanggan dan mengurangi konsumsi kalori.
Menurut Wansink, hal ini merupakan informasi penting bagi kebanyakan rumah makan cepat saji, yang memberikan kontribusi besar pada peningkatan obesitas, sebagaimana dilansir dari DailyMail.
(M048)
Pewarta :
Editor : Riski Maruto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Mencari cinta sejati, Richard Kyle kencan di 49 destinasi romantis di Pulau Bali
02 February 2023 8:16 WIB, 2023
Lima daya tarik film "Layla Majnun" untuk rayakan Valentine yang romantis
06 February 2021 20:50 WIB, 2021
Kenapa "The King: Eternal Monarch" beda dari drama Korea romantis lain?
28 April 2020 6:43 WIB, 2020
Terpopuler - Hiburan & Gaya Hidup
Lihat Juga
Pakar fertilitas: kesuburan bisa menurun karena terkena paparan asap rokok
23 February 2020 18:41 WIB, 2020
Bintang serial India "Swabhimaan" kagumi akan keindahan alam Indonesia
23 February 2020 0:56 WIB, 2020
Pakar Australia Prof. Anderson bagi ilmu bedah kraniofasial di Makassar
20 February 2020 3:16 WIB, 2020
Lokasi pemakaman Ashraf Sinclair di San Diego Hills Karawang dipesan mendadak
18 February 2020 18:22 WIB, 2020