Palu (ANTARA) - Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid mengatakan pengukuhan kepengurusan Kerukunan Keluarga Bungku (KKB) Sulawesi Tengah menjadi momentum memperkuat semangat persaudaraan warga Bungku sekaligus mempererat solidaritas di perantauan.

“Yang namanya organisasi kerukunan keluarga harus ada ciri-ciri, mereka saling tolong menolong,” katanya di Palu, Selasa.

Karena itu, ia menginstruksikan agar dilakukan pendataan menyeluruh terhadap seluruh warga Bungku di mana pun berada sehingga organisasi memiliki basis data kuat untuk menjalankan peran sebagai wadah gotong royong, silaturahmi, serta tolong-menolong antaranggota.

Menurut dia, ciri utama organisasi kerukunan keluarga adalah kepedulian antaranggota, terutama ketika ada anggota yang mengalami kesulitan. 

Gubernur juga memaparkan tiga filosofi utama yang menjadi karakteristik masyarakat Bungku, yakni berjamaah, unggul, dan kuat, yang dirangkum dalam semboyan “Tepe Asa Maroso” yang berarti bersama kita kuat. 

Ia menegaskan nilai tersebut merupakan warisan leluhur yang harus dijaga dan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Selain itu, ia mengingatkan pentingnya mempertahankan kearifan lokal agar tidak tergerus perkembangan zaman karena meninggalkan nilai tradisi justru dapat menghambat kemajuan masyarakat.

“Kearifan lokal dari orangtua kita ini tidak boleh ditinggalkan. Kapan saja kita tinggalkan maka kita tidak akan maju,” ujarnya.

Ia mengatakan penguatan nilai budaya dan solidaritas sosial menjadi kontribusi nyata masyarakat dalam mendukung pembangunan daerah serta menjaga keharmonisan sosial di tengah keberagaman.