Jakarta, (Antaranews Sultreng) - Badan usaha milik desa (BUMDes) terbukti mampu mendongrak pendapatan petani pedesaan sebagaimana yang dialami petani jambu getas merah di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Plt Direktur Jenderal Penyiapan Kawasan dan Pembangunan Permukiman Transmigrasi (PKP2Trans) Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) Hari Pramudiono dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa, menyatakan BUMDes membantu petani untuk memperluas jaringan pasar di tingkatan nasional, sementara pasar lokal sudah jenuh dan terbatas pemasarannya.

"Dengan program BUMDes para petani banyak diuntungkan karena tidak lagi menjadi korban spekulan para tengkulak," kata Hari Pramudiono.

Selama ini, petani kerap kali harus menanggung harga rendah saat panen tiba atau terancam produknya membusuk karena tak bisa diserap pasar lokal.

Dalam kasus petani jambu di Kendal, Kemendes PDTT pun akhirnya turun tangan bersama dengan Pemerintahan Kabupaten Kendal untuk mencarikan solusi.

Langkah yang dilakukan adalah membentuk BUMDes Bersama, yakni gabungan BUMDes dari desa-desa penghasil jambu di Kabupaten Kendal.

"Jadi, desa-desa penghasil jambu di Kendal ini dibantu membentuk BUMDes. Karena jumlahnya banyak dan kemudian dikumpulkan menjadi satu badan usaha, maka disebut BUMDes Bersama (BUMDesma)," kata Hari.

BUMDesma para petani jambu di Kendal ini diberi namaBUMDesma Plasma Petik Sari yang beranggotakan tujuh desa dari dua kecamatan.

Dari Kecamatan Sukorejo meliputi Desa Bringinsari, Desa Pesaren, Desa Trimulyo, dan Desa Kalipakis. Sedangkan dari Kecamatan Patean meliputi Desa Pakisan, Desa Plososari, dan Desa Mlatiharjo.

Hari menjelaskan, luas lahan jambu getas merah di tujuh desa tersebut hanya setengah dari potensi jambu getas merah di empat kecamatan penghasil jambu getas merah di Kabupaten Kendal.

"Meskipun BUMDes Bersama ini milik tujuh desa, namun demikian ruang lingkup kegiatannya dapat melayani desa-desa yang lain di luar desa bahkan kecamatan yang lain," ujarnya.

Carikan mitra

Bersamaan dengan pembentukan BUMDes, pemerintah juga membantu mencarikan mitra swasta sebagai pembeli produk jambu yang dihasilkan petani.

Pihak swasta yang digandeng BUMDes Bersama di Kendal adalah PT Fruit ING Indonesia.

"Kerja sama dengan swasta ini diperlukan untuk mendapat jaminan pasar dan harga yang menguntungkan kedua belah pihak, yaitu pihak swasta maupun pihak petani," ujar Hari.

Dengan kondisi seperti ini, petani jambu di Kendal tidak perlu lagi takut hasil produksinya tidak laku dijual, atau dibeli dengan harga murah.

Bahkan kini, Kendal akan membangun Kawasan Pedesaan Agropolitan.

"Setelah program ini berjalan nantinya tidak akan ada lagi petani jambu yang tidak bisa menjual produksinya," kata Hari.
Pengelolaan pemasaran jambu getas merah di Kendal ini melibatkan 350 orang petani, 50 pengepul, BUMDesma Plasma Petik Sari (PPS) dan PT Fruit ING.

Mekanismenya, kata Hari, para petani akan menjual produksinya kepada pengepul yang ditunjuk dengan harga Rp2.000/Kg. Harga ini empat kali lipat dari harga semula, yakni Rp500/Kg.

Sedangkan para pengepul wajib menjual hasil kulakannya dari petani jambu tersebut ke BUMDesma PPS dengan harga Rp2.400/Kg untuk grade B dan C.

Sedangkan untuk produk jambu grade A, pihak pengepul diberi keleluasaan untuk memasarkannya pasar lokal dan regional.

"Pada tahap akhirnya, BUMDesma menjual jambu tersebut ke PT Fruit ING dengan harga Rp 3.000/kg. Jadi, dengan skema ini semua diuntungkan, baik petani, pengepul maupun pengusahanya, kata Hari.

Rencanya, pengiriman jambu pada triwulan pertama sebanyak 28 ton/bulan. Bila tahap pertama lancar maka pada triwulan kedua meningkat menjadi 56 ton/bulan, dan selanjutnya triwulan ketiga menjadi 600 ton/bulan. Rencananya, PT Fruit ING akan menyerap jambu produksi petani hingga 20.000 ton/tahun.

Hari berkeyakinan, bila semua desa yang ada di Indonesia melakukan langkah pemberdayaan potensi ekonomi seperti yang terjadi di Kendal, maka problem kemiskinan di desa akan teratasi.

"Mengapa? Karena sangat banyak keuntungan yang akan diperoleh masyarakat desa, dalam hal ini petani. Mereka tidak hanya bisa menjual harga produksinya dengan harga mahal, tetapi juga akan diberi pembinaan dan pelatihan. Biasanya perusahaan yang bermitra akan membina petaninya agar mampu menghasilkan produk lebih banyak dan lebih baik," ujarnya.

Pewarta : Hanni Sofia
Uploader : Sukardi
Copyright © ANTARA 2024