Palu (antarasulteng.com) - Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah mengalokasikan dana sebesar Rp50 miliar mulai 2013 untuk memperbaiki jalan Palu-Napu yang kondisinya saat ini cukup memprihatinkan.
Camat Lore Utara, Kabupaten Poso, Amos Mondolu yang dihubungi di Wuasa, Kamis, mengatakan bahwa sesuai surat perintah kerja yang dikirim Dinas PU Sulawesi Tengah kepada Camat Lolre Utara, pekerjaan jalan itu akan memerlukan waktu dua tahun mulai Desember 2012.
Menurut Amos, fokus pekerjaan yang akan ditangani dua kontraktor pemenang tender yakni PT Citra Hokia Tri Utama dan PT Nikilalaki Sambada itu adalah poros Dongidongi-Wuasa sekitar 35 kilometer.
Ia mengatakan bahwa perbaikan jalan Dongidongi-Wuasa itu telah lama dinanti-nantikan warga di dataran Napu yang terdiri atas empat kecamatan dan dihuni sekitar 27.000 jiwa tersebut.
"Terasa cukup sulit untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteran masyarakat karena jalan raya ke Palu terlalu berat untuk dilewati, terutama di poros Dongidongi-Wuasa," ujarnya.
Wartawan Antara yang melintas di jalur itu, Selasa (6/3), menyaksikan bahwa kondisi jalan Dongidongi-Wuasa rusak parah.
Camat Lore Utara, Kabupaten Poso, Amos Mondolu yang dihubungi di Wuasa, Kamis, mengatakan bahwa sesuai surat perintah kerja yang dikirim Dinas PU Sulawesi Tengah kepada Camat Lolre Utara, pekerjaan jalan itu akan memerlukan waktu dua tahun mulai Desember 2012.
Menurut Amos, fokus pekerjaan yang akan ditangani dua kontraktor pemenang tender yakni PT Citra Hokia Tri Utama dan PT Nikilalaki Sambada itu adalah poros Dongidongi-Wuasa sekitar 35 kilometer.
Ia mengatakan bahwa perbaikan jalan Dongidongi-Wuasa itu telah lama dinanti-nantikan warga di dataran Napu yang terdiri atas empat kecamatan dan dihuni sekitar 27.000 jiwa tersebut.
"Terasa cukup sulit untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteran masyarakat karena jalan raya ke Palu terlalu berat untuk dilewati, terutama di poros Dongidongi-Wuasa," ujarnya.
Wartawan Antara yang melintas di jalur itu, Selasa (6/3), menyaksikan bahwa kondisi jalan Dongidongi-Wuasa rusak parah.
Jarak antara Palu-Napu sebenarnya hanya 100 kilometer yang normalnya ditempuh hanya dua jam, namun saat ini waktu tempuh bisa mencapai 3,5 jam karena beratnya kerusakan jalan di Dongidongi-Sedoa.
Sebagian besar badan jalan itu adalah tanjakan yang cukup tinggi dan panjang, apalagi dari Desa Soedoa ke Dongidongi terdapat tanjakan dengan kemiringan sekitar 30 derajat, berkelok-kelok dan panjangnya sekitar satu kilometer, dan badan jalannya berlubang-lubang.
Demikian pula dari Dongidongi ke arah Sedoa terdapat tanjakan sepanjang sekitar lima kilometer dengan badan jalan yang berlubang-lubang besar.
Menurut Arman, seorang warga Napu, karena tanjakan yang tinggi, panjang dan badan jalan yang rusak, mengakibatkan truk-truk pengangkut sayur-mayur dan buah-buahan bertonase di atas enam ton, harus membagi dua muatannya agar bisa melintasi poros yang mereka sebut tanjakan Padeha itu.
"Saat tiba di puncak, truk itu membongkar muatannya baru turun ulang menjemput sisa muatan yang ditinggalkan di bawah," ujarnya.
Cara seperti ini, menurut Imran, menimbulkan biaya tinggi bagi pedagang sayur-mayur dan biaya itu dibebankan kepada petani penjual.
"Itu sebabnya, harga sayur mayur dan buah-buahan serta hasil-hasil perkebunan dan pertanian lainnya di Napu terlalu rendah sehingga petani sulit mendapatkan untung yang maksimal dari hasil pertanian mereka," ujar Arman lagi.
Ia memberi contoh harga kol bulat yang banyak diproduksi di dataran Napu saat ini rata-rata hanya Rp4.000,00 per kilogram, padahal saat idjual di Kota Palu harganya naik dua kali lipat sampai Rp8.000,00 per kilogram.
Camat Lore Utara Amos Mondolu membenarkan hal itu dan mengatakan bahwa beban lain yang dipikul warga dataran Lore adalah harga sembako dan berbagai kebutuhan strategis lainnya seperti bahan bangunan, bahan bakar dan kebutuhan rumah tangga lainnya cukup tinggi.
"Kecelakaan lalu lintas di poros Palu-Napu, khususnya antara Palolo-Napu yang jalannya rusak sering terjadi dan telah menimbulkan banyak korban luka dan meninggal," ujar Amos lagi.
Karena itu, ia mengaku lega bahwa pemerintah provinsi sudah mengalokasikan dana peningkatan jalan Dongidongi-Wuasa dan berharap kedua perusahaan bisa segera memulai kegiatannya menangani poros itu.
"Kalau bisa segera ditimbun dulu jalan-jalan berlubang agar kendaraan terhindar dari kerusakan saat melintas di jalan itu," pintanya. (R007)
Sebagian besar badan jalan itu adalah tanjakan yang cukup tinggi dan panjang, apalagi dari Desa Soedoa ke Dongidongi terdapat tanjakan dengan kemiringan sekitar 30 derajat, berkelok-kelok dan panjangnya sekitar satu kilometer, dan badan jalannya berlubang-lubang.
Demikian pula dari Dongidongi ke arah Sedoa terdapat tanjakan sepanjang sekitar lima kilometer dengan badan jalan yang berlubang-lubang besar.
Menurut Arman, seorang warga Napu, karena tanjakan yang tinggi, panjang dan badan jalan yang rusak, mengakibatkan truk-truk pengangkut sayur-mayur dan buah-buahan bertonase di atas enam ton, harus membagi dua muatannya agar bisa melintasi poros yang mereka sebut tanjakan Padeha itu.
"Saat tiba di puncak, truk itu membongkar muatannya baru turun ulang menjemput sisa muatan yang ditinggalkan di bawah," ujarnya.
Cara seperti ini, menurut Imran, menimbulkan biaya tinggi bagi pedagang sayur-mayur dan biaya itu dibebankan kepada petani penjual.
"Itu sebabnya, harga sayur mayur dan buah-buahan serta hasil-hasil perkebunan dan pertanian lainnya di Napu terlalu rendah sehingga petani sulit mendapatkan untung yang maksimal dari hasil pertanian mereka," ujar Arman lagi.
Ia memberi contoh harga kol bulat yang banyak diproduksi di dataran Napu saat ini rata-rata hanya Rp4.000,00 per kilogram, padahal saat idjual di Kota Palu harganya naik dua kali lipat sampai Rp8.000,00 per kilogram.
Camat Lore Utara Amos Mondolu membenarkan hal itu dan mengatakan bahwa beban lain yang dipikul warga dataran Lore adalah harga sembako dan berbagai kebutuhan strategis lainnya seperti bahan bangunan, bahan bakar dan kebutuhan rumah tangga lainnya cukup tinggi.
"Kecelakaan lalu lintas di poros Palu-Napu, khususnya antara Palolo-Napu yang jalannya rusak sering terjadi dan telah menimbulkan banyak korban luka dan meninggal," ujar Amos lagi.
Karena itu, ia mengaku lega bahwa pemerintah provinsi sudah mengalokasikan dana peningkatan jalan Dongidongi-Wuasa dan berharap kedua perusahaan bisa segera memulai kegiatannya menangani poros itu.
"Kalau bisa segera ditimbun dulu jalan-jalan berlubang agar kendaraan terhindar dari kerusakan saat melintas di jalan itu," pintanya. (R007)