Denpasar - Lima perupa perempuan asal Pulau Jawa yang tergabung dalam Kelompok Akar Ilalang berupaya mendobrak hegemoni patriarki lewat karya lukisan dan instalasi yang dipamerkan di Griya Santrian Hotel, Sanur, Denpasar.
"Meskipun kami menentang adanya penindasan kaum pria terhadap perempuan, tetapi kami tidaklah menampilkan secara frontal dalam karya-karya yang kami sajikan," kata Wara Anindyah, salah satu pelukis Akar Ilalang, di Denpasar, Kamis.
Lukisan dan instalasi yang dipamerkan, lanjut dia, cenderung diungkapkan secara simbolis bahkan dengan parodi jenaka, menampilkan 14 lukisan dan satu instalasi.
Lima perupa yang akan berpameran dari 25 Mei hingga 27 Juli 2012 itu yakni Wara Anindyah, Dyan Anggraini, Lucia Hartini, Laksmi Shitaresmi, dan Juni A Wulandari, yang sudah tak asing lagi dalam kancah seni rupa Indonesia.
"Sesungguhnya berbagai karya yang kami hasilkan ini banyak terinspirasi dari kehidupan sehari-hari kami di Jawa yang sangat kental menganut ideologi patriarki. Secara disadari atau tidak, kami telah mengalami banyak ketidakadilan gender," ucapnya.
Dyan Anggraini, pelukis lainnya, menambahkan bahwa akibat ideologi patriarki menyebabkan laki-laki seringkali dianggap sebagai penentu arah kebudayaan dan bahkan arah kehidupan.Sementara itu, perempuan hanya dianggap pelengkap keutuhan kekuasaan laki-laki.
"Lewat karya seni, kami ingin berbagi dan mengkomunikasikan bahwa sesungguhnya laki-laki dan perempuan itu kedudukannya sama," kata Dyan.
Selain mencerminkan bentuk-bentuk hegemoni kaum laki-laki, turut dituangkan kisah pribadi sang pelukis, seperti pertarungan pelukis saat akan menjalani operasi tumor leher hingga menampilkan diri pelukis sendiri menjadi subjek dan objek lukisan. (Ant)
"Meskipun kami menentang adanya penindasan kaum pria terhadap perempuan, tetapi kami tidaklah menampilkan secara frontal dalam karya-karya yang kami sajikan," kata Wara Anindyah, salah satu pelukis Akar Ilalang, di Denpasar, Kamis.
Lukisan dan instalasi yang dipamerkan, lanjut dia, cenderung diungkapkan secara simbolis bahkan dengan parodi jenaka, menampilkan 14 lukisan dan satu instalasi.
Lima perupa yang akan berpameran dari 25 Mei hingga 27 Juli 2012 itu yakni Wara Anindyah, Dyan Anggraini, Lucia Hartini, Laksmi Shitaresmi, dan Juni A Wulandari, yang sudah tak asing lagi dalam kancah seni rupa Indonesia.
"Sesungguhnya berbagai karya yang kami hasilkan ini banyak terinspirasi dari kehidupan sehari-hari kami di Jawa yang sangat kental menganut ideologi patriarki. Secara disadari atau tidak, kami telah mengalami banyak ketidakadilan gender," ucapnya.
Dyan Anggraini, pelukis lainnya, menambahkan bahwa akibat ideologi patriarki menyebabkan laki-laki seringkali dianggap sebagai penentu arah kebudayaan dan bahkan arah kehidupan.Sementara itu, perempuan hanya dianggap pelengkap keutuhan kekuasaan laki-laki.
"Lewat karya seni, kami ingin berbagi dan mengkomunikasikan bahwa sesungguhnya laki-laki dan perempuan itu kedudukannya sama," kata Dyan.
Selain mencerminkan bentuk-bentuk hegemoni kaum laki-laki, turut dituangkan kisah pribadi sang pelukis, seperti pertarungan pelukis saat akan menjalani operasi tumor leher hingga menampilkan diri pelukis sendiri menjadi subjek dan objek lukisan. (Ant)