Luwuk (ANTARA) - Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Banggai, Zainal Abidin mengatakan program komunitas berbagi yang digagas PT. Donggi Senoro LNG bersama kelompok pegiat literasi di daerah itu, memberi dua keuntungan bagi dunia pendidikan di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

Kata Zainal, keuntungan pertama bagi siswa agar lebih kreatif dan mampu memanfaatkan berbagai hal dalam menghadapi era digitalisasi serta mampu menjadi siswa yang smart dalam menghadapi perubahan-perubahan penting dalam sistem pendidikan.

"Keuntungan kedua ialah bagi dunia pendidikan yakni sebagai wahana membangun jejaring pendidikan," kata Zainal saat membuka puncak kegiatan Komunitas Berbagi di Lapangan Basket, Gelora Luwuk, Sabtu.

Zainal juga memaparkan bahwa peran-peran perusahaan dan kelompok pegiat literasi merupakan hal baik dalam menopang perkembangan pendidikan di daerah. 

Menurutnya, pendidikan tidak akan berjalan baik tanpa keterlibatan semua pihak.

"Saya ucapkan terima kasih kepada relawan pendidikan komunitas berbagi. Kepada Relawan Oke, Babasal Mombasa, Penyala Banggai dan Pagimana Bersekolah. Mari bersama kita dukung pendidikan di daerah," pungkasnya.

Baca juga: Maleo Centre DSLNG berhasil tetaskan telur maleo generasi pertama

Sementara itu, Corporate Communication Manager DSLNG Thamrin Hanafi, mengatakan program Komunitas Berbagi merupakan kepedulian perusahaan melalui Corporate Social Responsibility (CSR) bekerjasama dengan sejumlah pegiat literasi Kabupaten Banggai. 

Kegiatan yang ditujukan agar para siswa mampu berkreasi dan belajar terkait lingkungan hidup tersebut sudah dilaksanakan beberapa kali.

Pertama kali di Kecamatan Kintom, kemudian di Kecamatan Batui, Kecamatan Nambo dan terakhir puncaknya dilaksanakan di Luwuk, 16 November 2019. 

Tommy menjelaskan kegiatan itu untuk merangsang siswa-siswi agar lebih kreatif dan mampu mengubah sampah plastik menjadi bahan berguna.

"Semoga kegiatan ini bisa memberi manfaat bagi adik-adik pelajar serta ibu bapak guru yang hadir,"  kata Tommy, panggilan akrab Thamrin Hanafi.

Dalam kegiatan tersebut, sejumlah siswa diberi kesempatan berkreasi membuat kursi dan kaki penyangga meja dari botol plastik. 

Diajari juga menggambar tas kain dengan imajinasi sendiri, sementara panitia hanya menyediakan kuas dan cat. 

Kegiatan di bengkel kreasi yang dipandu oleh Komunitas Babasal Mombasa itu pun ramai dipadati siswa siswi.

Di sisi lain, kelompok remaja mendapatkan materi dan tontonan terkait kegiatan remaja di media sosial. 

Bagaimana menyikapi, menghindari dan dampak dari persoalan bullying terhadap sesama. Kegiatan yang dipandu Komunitas Relawan Oke inipun tak sepi dari remaja. Mereka antusias diskusi dengan pemandu acara.

Ada pula sekelompok anak Sekolah Dasar (SD) yang terlihat serius memerhatikan layar televisi. Mereka tengah menonton bagaimana menghadapi situasi gempa, tsunami atau bencana alam lainnya. Mitigasi bencana ini dipandu langsung Komunitas Penyala Banggai dan Pagimana Bersekolah.

Selain itu, beberapa siswa siswi SD juga diajak bermain permainan tradisional. Mulai dari patengkang, jengkek, hingga permainan halang rintang. Satu-satunya permainan terbilang modern adalah ular tangga dengan karpet dan dadu besar.***
 

Pewarta : Steven Pontoh
Editor : Adha Nadjemudin
Copyright © ANTARA 2024