Logo Header Antaranews Sulteng

Sulteng Memburu Dolar Lewat GMT

Minggu, 28 Februari 2016 05:12 WIB
Image Print
Ilustrasi-- Siswa sekolah dan guru mereka menggunakan kacamata pelindung untuk menyaksikan gerhana matahari parsial di Frankfurt, Jerman, Jumat (20/3). (REUTERS/Kai Pfaffenbach) (.)

Salah satu sektor unggulan yang mendapat perhatian pemerintah pusat maupun daerah adalah bidang kepariwisataan. Bentuk nyata perhatian pemerintahan Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla dengan kebijakan bebas visa bagi 94 negara yang diberlakukan mulai 2016.

Kebijakan itu tidak lain adalah untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan perolehan devisa negara.

Dengan kebijakan tersebut, harapannya makin banyak wisman datang ke wilayah NKRI untuk menikmati berbagai objek wisata menarik dan unik yang tersebar di seluruh daerah, termasuk di Provinsi Sulawesi Tengah.

Sulteng memiliki relatif cukup banyak objek wisata yang menarik untuk dikunjungi para wisman. Bahkan, terdapat objek wisata di beberapa daerah yang tidak ada samanya di provinsi lain, bahkan negara lain di belahan bumi ini.

Sejumlah objek wisata menarik dan banyak diminati wisman, antara lain terumbu karang di Pulau Togean, Kabupaten Tojo Una-Una. Bahkan, para turis yang pernah menyelam di pulau itu menjulukinya "surga bawah laut" karena hamparan terumbu karang yang cukup luas dan sangat indah menjadi habitat berbagai jenis ikan.

Sejak beberapa tahun terakhir ini, relatif banyak turis dari berbagai negara mengunjungi wisata primadona pemerintah dan masyarakat Sulteng tersebut.

Objyek wisata lainnya adalah Danau Lindu di Kabupaten Sigi. Tempat wisata itu dahulu hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki menyusuri hutan belukar Taman Nasional Lore Lindu (TNLL).

Sebelum dibukanya jalan menuju objek wisata itu, masyarakat dan para turis selain jalan kaki, juga menggunakan transportasi tradisional yang disebut kuda pateke (kuda beban).

Namun, setelah jalan dibuka, kini objek wisata yang berada di kawasan TNLL itu sudah bisa ditempuh dengan kendaraan sepeda motor. Bahkan, jalan dari Desa Sadaunta (pintu masuk) kawasan TNLL menuju Puro`o, desa pertama di Kecamatan Lindu sedang diperlebar dan cor beton agar bisa dilewati kendaraan mobil.

Objek wisata itu pun mulai banyak dikunjungi para turis. Selain keindahan Danau Lindu yang menjadi daya tarik, juga kedekatan alam dengan masyarakat setempat.

Masyarakat di kecamatan itu turun-temurun sangat menjaga kelestarian folra dan fauna sehingga banyak wisman, terutama para mahasiswa dan peneliti, tertarik melakukan kegiatan wisata sekaligus penelitian di wilayah itu.

Destinasi wisata lain adalah Danau Tambing yang terletak di Kecamatan Lore Selatan, Kabupaten Poso, kata Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Sulteng Siti Norma Mardjanu.

Destinasi wisata yang dalam beberapa tahun terakhir ini relatif banyak dikunjungi wisatawan domestik dan wisman tersebut juga merupakan salah satu objek wisata unggulan untuk meningkatkan jumlah kunjungan dan perolehan devisa negara.

Danau Tambing yang memiliki luas sekitar 6 hektare berada pada ketinggian 1.700 meter dari permukaan laut (mdpl) memiliki keunggulan dan keunikan dibanding objek wisata lainnya di Sulteng.

Salah satunya adalah menjadi habitat ratusan jenis burung dan sekitar 30 persen di antaranya merupakan satwa endemik yang hanya ada di sekitar objek wisata itu.

Kebanyakan wisman yang mengunjungi objek wisata itu adalah para peneliti burung. Objek wisata Danau Tambing sangtlah cocok untuk pengamatan dan penelitian burung.

Gerhana Matahari Total

Kadis Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sulteng Siti Norma Mardjanu mengatakan bahwa pemerintah dan masyarakat di beberapa daerah di provinsi ini siap menyambut kedatangan wisman dalam rangka menyaksikan langsung gerhana matahari total (GMT).

Ia menyebutkan di Sulteng ada beberapa lokasi yang akan menjadi tempat untuk menyaksikan GMT pada tanggal 9 Maret 2016. Misalnya, di Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala, Parigi Moutong, Poso, Tojo Una-Una, dan Kabupaten Banggai.

Baik Pemprov Sulteng maupun pemkab/pemkot telah melakukan berbagai persiapan untuk menyambut fenomena alam yang banyak diburu para wisman dari berbagai negara di dunia.

Jauh hari sebelum 9 Maret 2016, pemerintah dan masyarakat di masing-masing daerah yang akan menjadi pusat menyaksikan GMT di Sulteng tentu sudah melakukan berbagai kegiatan, termasuk menyiapkan berbagai atraksi dan pentas seni dan budaya sebagai salah satu kearifan lokal yang akan disuguhkan kepada para wisman.

Selain kegiatan seni dan budaya, juga tentu menyediakan berbagai menu (kuliner) makanan dan kue tradisional di masing-masing daerah yang menjadi lokasi GMT.

Bahkan, kata Siti, Pemkab Sigi saat ini sedang membangun monumen GMT di Desa Pakuli, Kecamatan Gumbasa (sekitar 30km dari Kota Palu).

"Kita jadikan GMT sebagai momentum yang baik untuk menarik wisatawan dan meningkatkan perolehan devisa negara,"katanya.

Pemprov Sulteng meyakini kunjungan wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara, pada tahun 2016 akan meningkat signifikan dari tahun-tahun sebelumnya.

Pada tahun 2013, kata dia, jumlah wisatawan yang datang ke Sulteng mencapai 1.000.000 orang, meningkat menjadi 2.000.000 orang (2014).

Sementara data kunjungan wisatawan untuk 2015 hingga kini masih dalam pendataan.

Ia yakin pada tahun ini tingkat kunjungan wisatawan dan perolehan devisa akan meningkat lebih besar dari sebelumnya.

10.000 Orang

Sementara itu, Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola memperkirakan jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke daerahnya pada momentum gerhana matahari total tidak kurang dari 10.000 orang.

"Itu wisatawan luar negeri, ya, tidak masuk wisatawan dalam negeri," kata Longki di Palu menanggapi kesiapan dalam rangka gerhana matahari total pada tanggal 9 Maret 2016.

Gubernur Longki mengatakan bahwa wisatawan tersebut tersebar di sejumlah daerah yang akan dilalui gerhana matahari total, yakni Kabupaten Poso, Kota Palu, Parigi Moutong, Donggala, dan Tojo Unauna.

Dari sembilan provinsi yang dilintasi gerhana matahari total di Indonesia paling banyak kabupaten yang merasakan gerhana matahari itu adalah Sulteng.

Para wisatawan mancanegara yang datang ke Sulawesi Tengah tidak hanya tertuju dalam satu kabupaten karena masing-masing daerah memiliki pesona alamnya tersendiri.

Di Kabupaten Sigi, misalnya, sudah terdaftar sekitar 5.000 calon wisatawan.

Titik pemantauan gerhana matahari total di Kabupaten Sigi, antara lain terdapat di Ngata Baru, Pakuli, dan Matantimali.

Longki mengatakan bahwa pemerintah daerah sudah melakukan koordinasi dalam rangka menyambut para wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara yang datang ke Sulawesi Tengah.

Menurut Longki gerhana matahari total perlu terus disosialisasikan kepada masyarakat sebab peristiwa alam ini langka terjadi dalam rentang waktu puluhan tahun, bahkan ratusan tahun.

Gubernur berharap gerhana matahari total itu juga bisa menjadi edukasi bagi masyarakat sehingga lebih mencerahkan. Pasalnya, masih ada sebagian menganggap sebagai cerita misteri.

"Dahulu kan dianggap gerhana matahari itu terjadi karena bulannya dimakan naga. Padahal, ini kan fenomena alam," katanya.

Gunbernur juga mengajak seluruh masyarakatnya untuk menikmati peristiwa langkah itu dengan menghubungkannya dalam ilmu pengetahuan.

"Alangkah indahnya jika itu kita nikmati," katanya.



Pewarta :
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026