Logo Header Antaranews Sulteng

PT DI Bantu A380 Bisa Terbang

Senin, 13 Agustus 2012 13:05 WIB
Image Print

Bandung - Airbus A380 mencatat sejarah sebagai pesawat angkut komersial terbesar masa kini dan dalam pembuatannya ada andil penting SDM PT Dirgantara Indonesia (Persero) sehingga membuat pesawat berlantai dua itu dapat terbang.

Dalam proyek A-380, PTDI merupakan pemasok tunggal untuk pembuatan komponen penting, Inboard Outer Fixed Leading Edge (IOFLE), atau bagian akar dari sayap.

Pesawat berkapasitas 800 penumpang ini tidak akan bisa terbang tanpa komponen tersebut.

Komponen IOFLE ini dikerjakan PTDI sesuai kontrak yang dibuat antara PT DI dengan perusahaan Inggris, Spirit AeroSystems, pada tahun 2002 untuk 300 set kirim (shipset).

Saat ini, PT DI telah mengirim 133 shipsets, atau setara dengan 36 persen dari jumlah kontrak keseluruhan dengan target pengiriman 36 set setahun.

Kecanggihan dan kemajuan teknologi, peralatan mutakhir dan sistem kerja paripurna tidak akan menghasilkan apa-apa tanpa adanya sumber daya manusia yang handal. Sumber Daya Manusia (SDM) adalah kunci yang menentukan satu produk menjadi unggul, sebagaimana komponen A380 yang dipercayakan kepada PT DI itu,

Tanggal 23 Agustus 2012, PT DI memperingati 36 tahun keberadaannya dan telah melewati berbagai kondisi. Saat puncaknya di tahun 1995 mampu membuktikan kepada dunia bahwa 15.700 karyawan, putera-puteri Indonesia mampu menghasilkan pesawat N250 yang canggih dengan sistem Fly By Wire.

Pesawat N250 pertama kali mengangkasa pada 10 Agustus 1995. Peristiwa itu diperingati setiap tahun oleh bangsa Indonesia sebagai Hari kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas), mengingat terwujudnya kemampuan pembuatan pesawat terbang secanggih N250 bukan hal mudah.

Namun setelah peristiwa tersebut, PT DI mengalami berbagai permasalahan, di mulai dari tahun 1998, PT DI dihadapkan persoalan yang sangat sulit karena kesepakatan antara Pemerintah Indonesia dengan IMF yang membuat program N250 terhenti karena tidak adanya biaya untuk melanjutkan program tersebut hingga selesai.

Program N250 yang terhenti mengakibatkan SDM potensial dengan sangat terpaksa meninggalkan Tanah Air, ironisnya mereka terpaksa membantu membangun industri penerbangan di berbagai negera. Bangsa Indonesia sangat kehilangan aset berupa SDM kedirgantaraan handal.

Dalam situasi sulit seperti itu, PT DI harus tetap bangkit dan mampu memberikan sumbangannya secara nyata di Tanah Air. Begitupun, setelah terpaksa harus ada PHK besar-besaran di awal tahun 2004, kini secara bertahap PTDI mulai memulihkan kondisinya.

Setelah tahun 1998-2001 ditinggalkan 5.000 karyawan potensial dan disusul tahun 2004 sebanyak 6.561 karyawan, praktis SDM PT DI tinggal 3.200 orang. 1000 orang di antaranya adalah para insinyur yang berpengalaman di bidang kedirgantaraan.

Memasuki tahun 2007, PTDI berupaya untuk bangkit dan akhirnya pada tahun 2008 PT DI mulai kembali mendapatkan pesanan cukup besar yakni pembelian empat unit pesawat CN235 oleh Pemerintah Korea Selatan untuk kebutuhan Korean Coast Guard (KCG).

Tahun 2009 kembali PT DI mendapat pesanan pesawat CN235 MPA dari Kementerian Pertahanan Republik Indonesia untuk TNI AL.

PT DI mulai menunjukkan tanda-tanda membaik setelah tahun 2011, disusul pesanan Kementerian Pertahanan sembilan unit CN295, dan dua unit CN235 untuk TNI AL.

Kementerian Pertahanan selanjutnya membeli lagi satu unit CN235 untuk TNI AU, satu unit helikopter Super Puma untuk TNI AU dan tujuh unit Helikopter Bell 412 EP untuk TNI-AD dan TNI-AL. Pada hari Jumat, 10 Agustus lalu, empat helikopter Bell 412 EP telah diserahkan kepada TNI-AD.


"Banjir" pesanan

Setelah periode bangun kembali sekarang, PT DI dapat dikatakan banjir pesanan, termasuk pula pesanan PT Merpati Nusantara (Persero) untuk 20 pesawat NC212-400.

Tanda jadi pembelian ditandatangani di Jakarta awal Agustus antara Dirut PT DI Budi Santoso dan Dirut Merpati Rudy Setyopurno disaksikan Menteri BUMN Dahlan Iskan,

Namun demikian PTDI menyadari bahwa kekuatan SDM yang ada dalam beberapa tahun mendatang sebagian besar akan memasuki masa purna bhakti (pensiun). Untuk mengantisipasi kebutuhan SDM di masa depan, dalam beberapa tahun terakhir dan lima tahun ke depan, PT DI akan merekrut lebih dari 1.500 orang karyawan.

Generasi-generasi baru ini dipersiapkan untuk membangun PT DI di masa mendatang. Rencana rekrut itu diungkapkan kepada media oleh Direktur Umum dan SDM PT DI, Sukatwikanto, Juli lalu.

Rekrut dilakukan mulai 2012 ini, peremajaan SDM akan dilakukan hingga 2015 dengan semuanya tenaga ahli bidang manufaktur dan kedirgantaraan.

Menurut Sukatwikanto, peremajaan karyawan itu juga dalam rangka regenerasi SDM di lingkungan PT DI dimana jumlah karyawan yang memasuki masa pensiun 2013 - 2015 cukup besar.

PT DI juga menempuh kebijakan memperpanjang masa kerja para insinyur hingga usia 60 tahun guna mempertahankan kinerja perusahaan.

Dengan regenerasi SDM ini, maka diharapkan pada 2020 bisa siap mendukung PT DI menjadi perusahaan berkondisi prima sesuai dengan rencana kerja perusahaan.


N219, langkah strategis

Dalam kilas balik, SDM yang disiapkan PT DI pada masa Dirut Baharuddin Jusuf Habibie pada awal dan pertengahan 1990-an dalam jumlah belasan ribu -sebenarnya disiapkan untuk langsung menangani dua proyek besar, N250 dan N130, pesawat jet komersial sekelas Boeing 737.

Namun karena selain usia mereka kini sudah memasuki masa pensiun, selain pula ribuan yang sudah melanglang buana, maka SDM yang tersisa sekarang adalah sisa-sisa dari mereka yang disiapkan untuk membuat pesawat-pesawat ukuran cukup besar dan berteknologi tinggi tersebut.

Para pekerja senior bidang produksi inilah tulang punggung bagi PT DI dalam melayani pesanan-pesanan berbagai jenis komponen dari Airbus, baik untuk A320, 321, 330, 350 bahkan untuk A380 tersebut.

Kemampuan mereka diakui mitra-mitra luar negeri, karena memang bersertifikat dan berkualifikasi sesuai tuntutan mereka.

Meski demikian, hari demi hari dan bulan demi bulan terus berjalan di mana mereka dalam beberapa waktu mendatang saat pensiun datang, maka akan ada potensi di mana PT DI kehilangan kapabilitas manufakturnya, mengingat regenerasi pekerja tidak terlaksana dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Dalam kalkulasi, para rekrut baru yang segera disiapkan belum akan bisa meraih kualifikasi langsung untuk pesawat-pesawat ukuran menengah dan besar. Untuk itu, PT DI mengambil langkah strategis tepat guna berupa pembuatan pesawat komersial kecil ukuran 19 penumpang, yakni N219. Pada tahap sekarang, tulang punggung proyek ini ialah para pekerja senior bidang engineering.

Para rekrut baru PTDI nantinya akan menangani N219 di mana secara bertahap kemampuan mereka diharapkan akan tumbuh untuk menangani jenis-jenis pesawat ukuran besar, bersama dengan berjalannya waktu. Dengan demikian, N219 merupakan ajang pembelajaran bagi generasi baru PT DI.

Pesawat N219 pesawat bermesin ganda yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan penerbangan perintis untuk menghubungkan wilayah-wilayah terpencil.

Pesawat ini dinilai cocok dengan kondisi Indonesia yang memiliki banyak bandara kecil karena mampu mendarat dan lepas landas dalam area terbatas, yaitu 600 meter dengan stabilitas tinggi.

Pada tanggal 15 Pebruari 2012, saat di Singapore Air Show, PT DI dan PT Nusantara Buana Air (PT NBA) menandatangani Letter of Intent (LoI) pembelian 20 pesawat N219 ditambah dengan opsi 10 pesawat lagi senilai 120 juta dolar AS. Kesepakatan ditandatangani Dirut Budi Santoso, dan Dirut PT NBA, Laurens Prawira Nata Mihardja.

Begitupun, meski terkesan terjadi persoalan generasi SDM handalnya, PT DI ternyata telah mencatat sejarah baru.

Pada 11 April 2012, PT DI dan Airbus menandatangani nota kesepahaman untuk kerjasama dalam pekerjaan engineering pengembangan pesawat Airbus A350 mulai tahun ini juga.

Aspek berbeda dalam kerja sama untuk proyek A350, pesawat berbadan lebar masa depan, para PT DI tidak lagi sekedar membuat komponen pesanan Airbus. PT DI melangkah lebih maju, para SDM-nya kini turut merancang bangun, bukan sekedar mengerjakan pesanan komponen, SDM PT DI kinipun dipercaya berkiprah kerah putih, tidak hanya kerah biru.

Satu lompatan besar bagi SDM PT DI di bidang engineering ialah pelibatan mereka dalam proyek strategis kerja sama Indonesia Korea IFX/KFX, proyek pesawat tempur masa depan generasi 4,5 yang berkemampuan jauh di atas F-16 dan bahkan Sukhoi-30 sekarang.

Dirgahayu 36 tahun PT DI! Bravo

*Penulis, Kepala Humas PTDI.



Pewarta :
Editor: Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2026