
Pemkab Sigi Programkan Olah Lahan Kritis

Di Kabupaten Sigi masih banyak lahan kristis tersebar di sejumlah wilayah di daerah itu
Palu, (antarasulteng.com) - Pemerintah Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah tahun 2016 memprioritaskan program menghijaukan lahan kritis yang ada di beberapa wilayah di daerah itu dengan menanam tanaman produktif bernilai ekonomis.
"Di Kabupaten Sigi masih banyak lahan kristis tersebar di sejumlah wilayah di daerah itu," kata Kepala Bidang Pengawasan Pemantauan Konservasi Sumber Daya Alam Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sigi, Yoke A Mangandaheng di Palu, Minggu.
Ia mengatakan dalam mengolah lahan kritis menjadi lahan produktif, sekaligus untuk mendukung program Pemkab Sigi yakni "Sigi Hijau" yang baru dicanangkan pada 2016 ini.
Lahan kritis paling banyak berada di Kecamatan Marowala, Marawola Barat dan Kinovaro.
Tiga kecamatan itu, kata Yoke memiliki lahan kristis yang cukup luas sehingga mendapat perhatian khusus dari BLH Kabupaten Sigi untuk bisa menghijaukan dengan menanam tanaman-tanaman yang tidak hanya sekedar mendukung program "Sigi Hijau" tetapi juga bisa meningkatkan ekonomi masyarakat yang ada di sekitarnya.
Khusus untuk Kecamatan Marowalola Barat, kata dia, struktur tanah dan iklim sangat cocok untuk pengembangan tanaman kemiri. Tanaman kemiri tumbuh dengan baik dan hasilnya juga sangat mengembirakan.
Sementara wilayah Kecamatan Marawola dan Kinovaro sesuai hasil kajian dan penelitian, sangat cocok untuk budidaya tanaman kelor.
Tanaman kelor, kata dia, selama ini hanya ditanam masyarakat di batas-batas tanah atau pagar dan bagi masyarakat Suku Kaili daunnya dijadikan sayur.
"Hanya sebatas itu," katanya.
Padahal, tanaman kelor sesungguhnya bukan hanya untuk sayur, tetapi banyak manfaatnya antara lain untuk obat, minyak pelumas, minyak wangi dan juga lainnya.
Untuk pengembangan tanaman kelor di Kabupaten Sigi, lanjut Yoke, pada tahap awal ini akan dikembangkan 1.500 bibit kelor di sejumlah desa di Kecamatan Marawola dan Kinovaro.
Pemkab Sigi melalui BLH telah menjalin kerja sama dengan salah satu yayasan yang bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan yakni Wanaha Visi Indonesia (WVI) yang akan menjadi pendamping dalam program tersebut.
"Kami pekan lalu bersama WVI telah melakukan penanaman perdana sekitar 500 bibit kelor yang didatangkan dari Kupang pada lahan kritis sebagai kebun percontohan (demplot) di Kecamatan Kinovaro," ucapnya.
Jika bibit kelor tersebut cocok dengan kondisi tanah yang ada, maka ke depan program pengembangan tanaman kelor pada lahan kritis di sejumlah wilayah di Kabupaten Sigi akan terus dilakukan.
Soal pemasaran hasil panen petani, Yoke mengatakan tidak ada masalah karena permintaan pasar baik berupa daun, akar, batang dan biji kelor cukup besar.
Pangsa pasarnya bukan hanya dalam negeri, tetapi sampai ke sejumlah negara. Dan di Indonesia satu-satunya daerah yang telah mengekspor kelor adalah NTT/Kupang.
Namun hingga kini produksi petani belum mampu melayani permintaan pasar. "Kalau ini bisa dikembangkan secara besar-besar di Kabupaten Sigi, maka Sigi bisa mengekspor kelor ke pasar internasional," demikian Yoke A Mangandaheng.
Pewarta : Anas Masa
Editor:
Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026
