
Potensi hasil cabai di Palu Rp25 miliar

Palu, (Antaranews Sulteng) - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Palu memperkirakan potensi hasil pertanian komoditi cabai rawit dapat mencapai Rp25 miliar per musim tanam dengan 100 hektare lahan yang dibudidayakan.
"Yang sudah ditanami pada 2017 sekitar 30 hektare," kata Kepala Seksi Hortikultura DPKP Palu Hasrul di Palu, Kamis.
Ia menjelaskan pada 2018, Pemkot Palu membantu petani untuk membudidayakan cabai dengan cara kelompok tani seluas 55 hektare yang terbagi dalam 50 hektare melalui bantuan APBN dan 5 hektare melalui APBD.
Asrul merincikan bantuan tersebut tersebar di Kecamatan Tatanga sebanyak 15 hektar, Kecamatan Mantikulore sebanyak 15 hektare, Kecamatan Ulujadi sebanyak 5 hektare, Kecamatan Tawaili sebanyak 5 hektare dan Kecamatan Palu Utara sebanyak 15 hektare.
"Untuk APBN sebesar Rp29 juta per hektare dan APBD sebesar Rp20,4 juta per hektare," ungkap Hasrul.
Ia menjelaskan dalam satu hektare, potensi keuntungan bersih sekitar Rp250 juta atau Rp25 miliar untuk 100 hektare per musim tanam atau per tahun, jika dilakukan perawatan secara maksimal," katanya.
Hal itu dibenarkan Ketua Kelompok Tani Vatususu, Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, Nasrun bahwa dalam satu hektare, dapat ditanami sebanyak 20 ribu pohon cabai dengan jarak tanam 50 x 50 centimeter.
Dalam satu pohon, kata dia, bisa menghasilkan satu kilogram per musim tanam jika perawatannya maksimal.
"Totalnya ada 20 ribu kilogram atau 20 ton dikalikan harga terendah sekitar Rp18 ribu per kilogram, maka hasilnya sekitar Rp360 juta per hektare per tahun," terang Nasrun.
Namun, kata Nasrun, budidaya tanaman cabai rawit juga membutuhkan ongkos produksi yang cukup besar. Dalam satu musim tanam dibutuhkan beberapa komponen produksi di antaranya bibit cabai sebanyak 20 ribu pohon dikalikan Rp500 sebesar Rp10 juta.
Kemudian pengolahan lahan yakni ongkos bajak Rp700 ribu, bedengan Rp700 ribu, penanaman Rp500 ribu, pupuk dasar kompos Rp1,8 juta, pupuk susulan NPK Rp3 juta, pupuk buah Rp350 ribu, pestisida sebesar Rp5 juta dan mulsa sebesar Rp5 juta.
"Biaya produksi sudah mencapai Rp27 juta," ungkap Nasrun.
Selain itu, masih ada biaya panen yang disesuaikan bersama tenaga kerja, yakni Rp50 ribu per orang perhari dengan konsumsi ditanggung pemilik lahan, atau Rp3 ribu sampai Rp5 ribu per kilogram tanpa ditanggung konsumsi.
"Jika menggunakan metode Rp3 ribu per kilogram saat panen, maka ongkos panen sudah mencapai Rp60 juta per hektar per tahun," ujar Nasrun.
Dalam satu musim tanam, dilakukan hampir 40 kali panen dengan tenaga kerja sekitar 40 orang setiap kali panen.
"Ongkos produksi ditambahkan ongkos panen, sudah mencapai angka Rp90 juta," ujarnya.
Bagi Nasrun, cabai rawit asal Kota Palu sangat disukai masyarakat dan pedagang karena memiliki kadar air rendah, sehingga tahan dalam proses pengiriman dan distribusi hingga ke luar kota.
Nasrun mengatakan kelompoknya memiliki jumlah anggota sebanyak 22 orang, dengan total lahan dimiliki sebanyak 16 hektare. Komoditi yang ditanam kata dia, di antaranya cabai, jagung, bawang merah dan padi.
"Saat ini, komoditi cabai yang ditanam seluas 6 hektare, dengan potensi lahan yang bisa ditanami sebanyak 10 hektare," ungkap Nasrun dan menambahkan saat ini harga ditingkat petani sebesar Rp35 ribu per kilogram.
Pewarta : Fauzi
Editor:
Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
