
Pemanfaatan Energi Terbarukan dan Tantangannya

Palu - Sekitar 130 orang dari berbagai negara berkumpul di Sandakan, negara bagian Sabah, Malaysia, guna membahas pemanfaatan energi terbarukan dan mengatasi tantangannya.
Dalam pertemuan yang berlangsung selama lima hari sejak 29 Oktober 2012 itu, aktivis lingkungan hidup yang sebagian besar berasal dari Asia Tenggara, menyimpulkan bahwa penggunaan energi terbarukan mutlak harus diterapkan guna menyelamatkan planet bumi dan generasi yang akan datang.
Pemanfaatan energi terbarukan yang sering diperbincangkan dalam pertemuan itu antara lain tenaga air, tenaga matahari dan tenaga angin.
Air adalah sumber daya terbarukan yang ramah lingkungan. Air yang mengalir dapat digunakan untuk memutar turbin yang mendorong proses mekanis generator sehingga menghasilkan energi listrik.
Sementara matahari dianggap sumber energi yang paling kuat. Sinar mentari dapat diserap ke dalam sebuah alat penyimpan daya kemudian digunakan untuk kebutuhan listrik di malam hari.
Energi angin juga tidak akan pernah habis setelah dimanfaatkan untuk memutar turbin, dan selanjutnya menghasilkan listrik.
Berbagai energi alternatif itu saat ini belum banyak digunakan secara massal karena belum cukup mendapat dukungan dari pemerintah.
Sejumlah aktivis yang ikut dalam pertemuan bertajuk Southeast Asia Renewable Energy People's Assembly (SEAREPA) itu meminta pemerintah di negaranya masing-masing untuk lebih fokus terhadap pemanfaatan energi terbarukan.
Mowdoudur Rahman, aktivis asal Bangladesh, mengatakan pemerintah harus membuka pikirannya agar bisa menyelematkan generasi berikutnya dengan membangun pembangkit listrik yang bersumber dari energi terbarukan.
"Pemegang kebijakan janganlah egois dengan mengijinkan pembangunan pembangkit energi yang mengandalkan energi batu bara atau minyak bumi," kata aktivis pemerhati lingkungan ini.
Menurutnya, energi yang berasal dari minyak bumi atau batu bara lama-kelamaan akan habis karena dieksloitasi secara terus- menerus.
"Ini harus dipikirkan mulai saat ini," katanya.
Dia berharap para pemangku kebijakan bisa lebih memikirkan kelangsungan hidup generasi selanjutnya dan menyelamatkan alam.
Sopavanh Rassapong, aktivis dari Laos, berharap bisa menggandeng masyarakat untuk menekan pemangku kebijakan agar memperbanyak sumber energi terbarukan, seperti pembangkit listrik tenaga mikro hidro atau tenaga surya.
"Memang butuh pemahaman dan kesadaran dari pemangku kebijakan agar bisa melahirkan keputusan yang tepat," kata perempuan yang akrab disapa Soul ini.
Myo Aung, aktivis dari Myanmar mengaku akan mengajak pegiat lingkungan hidup lainnya beserta masyarakat untuk melakukan aksi damai guna menekan pemerintah agar lebih mengembangkan energi terbarukan.
Dia juga berharap media massa bisa mendukung desakan tersebut melalui pemberitaan agar lebih memiliki kekuatan.
"Namun ini membutuhkan perjuangan yang lama, dan kita harus bersabar," katanya.
Pengenalan sejak dini
Dalam pertemuan tersebut juga diupayakan untuk lebih mengenalkan energi terbarukan kepada masyarakat sejak berusia dini.
Anak-anak dan remaja dinilai lebih mudah menerima pengenalan energi terbarukan karena belum banyak memiliki banyak kegiatan seperti orang dewasa yang bisa mempengaruhi cara berpikir.
Proses pembelajaran tentang energi terbarukan juga harus dilakukan secara meluas, baik itu langsung kepada masyarakat ataupun pendidikan secara formal.
Sejumlah peserta dari pertemuan itu juga mengenalkan sejumlah alat atau pembangkit listrik yang tidak menggunakan bahan bakar minyak namun menggunakan tenaga angin dan air.
"Untuk menerapkan penggunaan energi terbarukan sebenarnya mudah, namun perlu mendapat dukungan dari pemangku kebijakan," kata Bernadette, seorang peserta Searepa dari Malaysia.
Dia mengatakan anak-anak juga harus diajari tentang pemanfaatan energi terbarukan atau penghematan energi agar terbiasa.
Menurutnya, pembelajaran tersebut bisa dimulai dari dalam lingkungan keluarga.
"Cara termudah adalah memberi contoh mematikan perlengkapan listrik yang tidak dibutuhkan, seperti lampu atau televisi yang tidak ditonton," kata perempuan yang akrab dipanggil Benn ini.
Sementara itu Koordinator Searepa Gabriel Wynn mengatakan pertemuan lima hari di Malaysia tersebut bertujuan untuk membangun kemitraan strategis antara aktivis energi terbarukan di Asia Tenggara, Asia Selatan dan Amerika Serikat.
Kemitraan itu diharapkan bisa menguntungan perusahaan yang bergerak di bidang energi terbarukan serta pemerintah negara setempat.
Pertemuan itu akan menampilkan pendekatan inovatif tentang energi terbarukan, isu-isu berpengaruh bagi masyarakat yang terkena dampak proyek energi skala besar, dan investasi membangun proyek energi yang bersih.
Hal ini juga bertujuan untuk mempengaruhi kebijakan dengan mengintegrasikan proyek desentralisasi energi bersih ke dalam rencana pembangunan pemerintah.
Gabriel mengatakan kegiatan ini adalah sebuah forum terbuka di mana cerita, perjuangan dan solusi seputar pembangkit listrik, dapat didengar oleh semua pihak.
Menurut dia, permintaan energi di Asia Tenggara menempatkan tekanan berat pada sumber daya alam dan menggusur masyarakat pedesaan karena permintaan sebagian besar energi dipenuhi oleh pembangkit batu bara dan bendungan hidro skala besar.
Dia juga mengatakan solusi berbasis masyarakat dengan biaya murah dapat diandalkan untuk menghasilkan listrik terbarukan yang akhirnya menciptakan masa depan energi berkelanjutan yang aman bagi planet ini.
Pertemuan yang membahas energi terbarukan se-Asia Tenggara itu diikuti 130 orang dari 60 organisasi di 10 negara di Asia Tenggara, serta sejumlah perwakilan dari India, Jepang, Bangladesh, dan Amerika Serikat.
Dalam acara tersebut terdapat perwakilan dari Indonesia, antara lain Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Yayasan Riak Bumi, Yayasan Dian Desa, Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan, PT Entec, dan PT Heksa Hydro. ***
Pewarta : Riski Maruto
Editor:
Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
