
Pelanggan Listrik Sulteng Semakin Pintar

Coba saja pak gunakan listrik pintar supaya bapak tidak susah-susah lagi datang membayar rekening listrik di loket-loket PLN atau loket online."
Palu (antarasulteng.com) - Seorang pria berkaos hitam dan topi coklat pada Sabtu (16/3) pukul 10.15 WITA terlihat gusar di sebuah loket pembayaran rekening listrik online di bilangan Jl Kartini, Kecamatan Palu Selatan.
Lelaki tersebut tampak sangat kesal karena tagihan rekening listrik rumahnya tiba-tiba naik hingga beberapa kali-lipat dari sebelumnya.
"Ini sudah tak benar. Masakan tagihan listrik bisa mencapai Rp200 ribu," kata Nurddin (57), salah warga yang tinggal di bilangan Jln Tururuka.
Menurut dia, pembayaran rekening listrik pemakaian Februari yang dibayarkan pada Maret 2013 itu sangatlah tidak masuk akal.
Masalahnya, kata pria yang sehari-hari hanya bekerja sebagai buruh sebuah pabrik tempe dan tahun di Kota Palu itu, normalnya pembayaran selama ini hanya berkisar Rp35 ribu.
Biasanya juga lebih. Tapi tidak pernah sampai di atas Rp50 ribu. Apalagi diatas Rp100 ribu.
"Ini pasti ada kekeliruan atau kesalahan pada pencatatan meter KWh," katanya.
Atau ada kemungkinan petugas yang selama ini mencatat meter KWh listrik tidak mencatat. Bisa jadi petugas main tembak dari jauh.
Merasa tagihan listrik di rumahnya tidak masuk akal, Nurddin terpaksa menunda pembayaran karena uang disaku hanya Rp50 ribu.
Sementara tagihan rekening listrik yang harus dibayar kepada PLN selaku perusahaan penyedia dan pensuplai daya listrik untuk pemakaian Februari 2013 yang dibayarkan Maret 2013 ini mencapai Rp200 ribu.
"Pak silahkan cek dulu meter KWh di rumah dan kalau memang tidak sama langsung lapor saja di Kantor PLN Rayon Kota atau di Kantor Cabang PT PLN Area Palu di bilangan Jln Kartini," kata seorang petugas di loket pembayaran listrik dan PDAM.
Namun sebelum lelaki itu meninggalkan loket, seorang pria berumur sekitar 60 tahun mendekatinya lalu menawarkan lebih baik beralih saja pakai listrik pintar.
Saya pak Dedy, tinggal bilangan Jl Rajawali. Dahulu sebelum saya beralih ke listrik pintar, sering sekali tagihan listrik di rumah saya tiba-tiba melonjak.
Padahal, pemakaian daya listrik untuk kebutuhan rumah tangga biasa-biasa saja. "Tapi begitu mau dibayar, pernah melonjak hingga Rp300 ribu," kata Dedy.
Biasanya rata-rata pembayaran rekening listrik berkisar Rp60 ribu sampai Rp70 ribu (daya 900VA).
Nanti setelah meter KWh yang lama diganti dengan meter KWh prabayar atau listrik pintar, maka pemakaian daya listrik lebih mudah dikontrol dan pembayarannya normal setiap bulan.
"Saya beralih dari meter KWh lama ke listrik prabayar (listrik pintar) sejak Oktober 2012," katanya.
Lebih baik, jika mau aman dan pembayarannya normal sesuai dengan pemakaian, gunakan saja listrik pintar. Listrik pintar membuat kita semakin pintar juga karena hemat dan dipastikan tidak akan pernah lagi terjadi kesalahan pada pencatatan meter KWh.
"Coba saja pak gunakan listrik pintar supaya bapak tidak susah-susah lagi datang membayar rekening listrik di loket-loket PLN atau loket online," kata pak Dedy kepada pada Nurddin.
Terus Meningkat
Manager PT PLN Area Palu, Sulawesi Tengah Suroso mengatakan jumlah pengguna listrik pintar di daerahnya terus bertambah setiap tahunnya.
Sejak program listrik pintar diluncurkan PLN pada pertengahan 2011 hingga kini jumlah pelanggan terus meningkat baik pelanggan baru maupun pelanggang migrasi.
Dalam kurun dua tahun terakhir ini, jumlah pelanggan listrik pintar di wilayah kerja PLN Area Palu yang meliputi Kabupaten Morowali, Poso, Tojo Una-Una, Parigi Moutong, Donggala, Sigi dan Kota Palu sudah berkisar 35.000 pelanggan.
Meski baru dua tahun ini program listrik pintar diluncurkan PLN, namun masyarakat tampak menyambut baik program dimaksud.
Ini bisa dilihat dari jumlah pelanggan listrik pintar yang cenderung terus bertambah banyak.
Suroso mengatakan pada 2013 ini, pihak PLN Area Palu menargetkan penambahan jumlah pelanggan listrik pintar sebanyak 27.000 pelanggan.
Selain itu, PLN juga menargetkan migrasi dari pelanggan listrik yang selama ini menggun akan meter KWh lama ke parabayar atau biasa disebut listrik pintar sebanyak 20.000.
"Ini target kami selama tahun ini dan niscaya bisa terealisasi," katanya.
Dalam merealisasi target tersebut, managemen PLN Area Palu terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat.
Kegiatan sosialisasi kepada masyarakat dilakukan antara lain dengan mengumumkan di setiap rumah-rumah ibadah (gereja, masjid, pura dan wihara).
Selain itu juga lewat bantuan media elektronik dan cetak serta memasang spanduk-spanduk di tempat-tempat strategis agar mudah dilihat dan dibaca masyarakat.
Kegiatan seperti itu, lanjut Suroso sudah berjalan hampir dua tahun terakhir ini dan hasilnya cukup lumayan karena jumlah pelanggan meningkat.
Memang pada awal-awal program listrik pintar diluncurkan masyarakat belum banyak yang menanggapinya. Tapi sekarang ini masyarakat mulai mengerti dan beralih ke listrik pintar.
Sementara total jumlah pelanggan listrik PLN Area Palu sudah mencapai 255.000 tersebar di sejumlah kabupaten dan kota di Sulteng.
PLN Area Palu meliputi Kabupaten Morowali, Poso, Tojo Una-Una, Parigi Moutong, Donggala, Sigi dan Kota Palu terbesar sekit 60.000 pelanggan.
Listrik prabayar adalah layanan terbaru untuk pelanggan PLN dalam mengelola konsumsi listrik melalui meter elektronik prabayar , dimana pemakaian listriknya dapat dikendalikan oleh konsumen.
Dengan menggunakan alat yang bernama Kwh meter,setiap konsumen memperoleh pemasokan listrik sesuai dengan kemampuan mereka.
Kelebihan
Alat ini akan disertai oleh voucher isi ulang listrik yang disebut dengan Token. Token adalah 20 digit angka yang unik dan berisi informasi untuk dimasukkan ke dalam Kwh meter.
Segala sesuatu ada kelebihan dan kekurangan, begitu pula dengan listrik prabayar ini. Misalnya, tidak ada petugas pencatat meter yang datang ke rumah sehingga privasi tidak terganggu, kemudian tidak ada sanksi pemutusan dan tidak dikenakan denda keterlambatan.
Berikutnya adalah tanpa uang jaminan pelanggan, tidak dikenakan biaya beban bulanan dan kemudahan pembelian setrum isi ulang. Selain itu, pelanggan dapat mengendalikan pemakaian listrik untuk menghindari pemborosan, pelanggan dengan mudah dapat memantau pemakaian listriknya setiap saat dan pelanggan dapat menyesuaikan biaya pemakaian listrik dengan anggaran belanja.
Sedangkan kekurangannya, jika batas pemakaiannya sudah habis, maka listrik akan mati seketika, tidak peduli waktu siang atau malam, ataupun sedang menggunakan listrik atau tidak.
Suroso juga mengatakan terus berusaha untuk mempertahankan pasokan listrik kepada masyarakat, meski hanya mengandalkan mesin pembangkit listrik tenaga disel (PLTD) yang sudah berumur dan juga dibantu dua unit mesin Pembangkit Listrik Tanaga Uap (PLTU) milik swasta.
Ia mengaku sejumlah mesin PLTD milik PLN yang ada sekarang ini rata-rata sudah berumut diatas 15 tahun. Bahkan ada yang sudah beroperasi selama 20 tahun.
Meski begitu, PLN tetap berkomitmen menjaga kontinyunitas pasokan listrik baik untuk kebutuhan rumah tangga, perkantoran dan bisnis.
PLN Area Palu juga berharap pertengahan 2013, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso sudah bisa terinterkoneksi dengan sistem kelistrikan Palu.
Jika PLTA Poso sudah mensuplai daya listrik ke Palu,niscaya tidak akan pernah lagi mengalami krisis listrik. Rencananya daya yang akan disuplai PLTA Poso ke Palu sebesar 60 megawatt. (BK03)
Pewarta : Anas Massa
Editor:
Anas Masa
COPYRIGHT © ANTARA 2026
