
Banjir di Sulteng Berdaya Rusak Tinggi

Bayangkan, jembatan besi dengan pondasi beton saja bisa roboh dan bergeser ke tengah sawah," katanya.
Palu (antarasulteng.com) - Akademisi Universitas Tadulako (Untad) Palu Abdulah MT mengemukakan banjir yang terjadi Sulawesi Tengah memiliki daya rusak lebih besar dibandingkan bencana serupa di daerah lain.
Saat acara penyusunan kebijakan dan prosedur penanggulangan bencana di Palu, Senin, Abdullah mengatakan Sulawesi Tengah memiliki kondisi geografis bergunung-gunung sehingga kekuatan air bertambah dahsyat ketika terjadi banjir.
"Dengan sudut curam, tenaga aliran air lebih tinggi saat mengalir ke bawah apalagi ditambah material banjir seperti batu dan gelondongan kayu," kata Abdullah dalam kegiatan yang berlangsung selama dua hari itu.
Banyaknya material banjir itu disebabkan oleh pengundulan hutan yang banyak terjadi wilayah Sulawesi Tengah.
Dia mencontohkan banjir bandang di Kabupaten Tojo Una-Una pada 2008 yang merobohkan jembatan besi Balingara, serta banjir di Kabupaten Parigi Moutong pada 2012 yang memutuskan jembatan Boyantongo.
"Bayangkan, jembatan besi dengan pondasi beton saja bisa roboh dan bergeser ke tengah sawah," katanya.
Abdullah mengatakan, banjir bandang itu memiliki tenaga yang dahsyat sehingga tidak saja merobohkan rumah tetapi bangunan dan infrastruktur lainnya.
"Kalau banjir di daerah lain seperti Kalimantan dampaknya tidak terlalu hebat, hanya merendam rumah karena sebagian besar daerahnya landai," kata Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Untad Palu ini.
Lebih lanjut dia juga menilai program normalisasi sungai di Indonesia tidak begitu berhasil karena justru membuat sungai baru di sampingnya.
"Jadi, membuat tanggul itu justru menciptakan dua sungai baru di sebelah kiri dan kanan sungai aslinya," kata Abdullah.
Pewarta : Riski Maruto
Editor:
Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
