Logo Header Antaranews Sulteng

Sulteng Berpotensi Kembangkan Bawang Putih

Sabtu, 23 Maret 2013 12:45 WIB
Image Print
(antara)
Kalau petani tidak digairahkan kembali mengembangkan komoditi itu, maka kita akan selalu tergantung kepada produk impor,".

Palu (antarasulteng.com) - Provinsi Sulawesi Tengah merupakan salah satu daerah di Pulau Sulawesi yang memiliki karakteristik iklim dan ditunjang dengan kondisi tanahnya subur.

Tanaman apa saja dapat dibudidayakan dengan mudah di daerah yang memiliki lahan pertanian dan perkebunan masih cukup luas itu.

Namun sayang, kondisi iklim ditopang tanah yang subur tersebut belum dimanfaatkan secara optimal oleh para petani yang ada di daerah berpenduduk sekitar 3,7 juta jiwa.

Masih banyak komoditas bernilai ekonomis yang belum juga dikembangkan petani seperti bawang putih. Padahal tanaman hortikultura sangat cocok dengan iklim dan kondisi tanah yang ada.

Selama ini, pemerintah Sulteng belum pernah mencoba untuk mendorong petani untuk mengembangkan tanaman bawang putih. Bukan karena komoditas hortikultura dimaksud tidak bisa dibudidayakan di daerah ini, tetapi memang belum pernah dicoba.

"Ini karena pemerintah hanya terfokus kepada komoditas-komoditas tertentu, padahal bawang putih sangat dibutuhkan masyarakat," kata Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Sulteng Muchlis Labanu.

Memang bawang putih tidak sama seperti bawang merah yang tidak memerlukan iklim dan tanah yang khusus atau spesifik, ujarnya.

Bawang putih tumbuh di daerah-daerah yang memiliki suhu dan kondisi tanah yang ada di dataran-dataran tinggi diatas 1.000 meter dari permukaan laut.

Kalau di Pulau Jawa, paling cocok bawang putih dikembangkan di Batu, Malang (Jawa Timur). Sejak dahulu daerah itu dikenal sebagai penghasil bawang putih di tanah air.

Di Sulteng, lanjut Muchlis daerah paling berpotensi untuk dijadikan lokasi pengembangan tanaman bawang putih adalah Dataran Tinggi Napu di Kabupaten Poso.

Napu yang berjarak sekitar 100 kilometer dari Palu, Ibu Kota Sulawesi Tengah berada pada ketinggian sekitar 1.500 meter dari permukaan laut.

Selain berada di atas 1.500 meter dari permukaan laut, kondisi cuaca dan tanah yang ada di sana juga sangat mendukung bagi pembudidayaan tanaman-tanaman hortikultura.

"Hanya saja selama ini bawang putih belum pernah dikembangkan di sana," katanya.

Perlu Mendorong

Pemerintah perlu mendorong kembali petani untuk menanam komoditi bawang putih secara besar-besaran guna mengurangi ketergantungan pada tanaman hortikultura impor.

"Kalau petani tidak digairahkan kembali mengembangkan komoditi itu, maka kita akan selalu tergantung kepada produk impor," kata Muchlis.

Seperti halnya pemerintah gencar membudidayakan pangan dan daging, demikian pula halnya dengan bawang putih.

Menurut dia, Indonesia beberapa tahun silam sempat memproduksi bawang putih dalam jumlah besar sehingga mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Tetapi dalam beberapa tahun terakhir ini produksi bawang putih dalam negeri semakin menyusut, sementara bawang impor justru terus meningkat.

Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian pada 1998 luas areal bawang putih di tanah air mencapai 250 ribu hektare. Kini tinggal sekitar 25.000 hektare.

Penyusutan yang sangat drastis sehingga sudah saatnya pemerintah untuk kembali memperluas areal dan produksi bawang putih seperti halnya yang terjadi pada komoditas pangan dan daging.

Menurut dia, sudah saatnya pemerintah menggencarkan kembali budidaya bawang merah agar secara perlahan-lahan impor bawang putih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di tanah air semakin berkurang.

"Masakan kita akan tergantung terus pada komoditas hortikultura impor," katanya.

Pemerintah pusat harus mendorong petani yang ada di daerah-daerah yang memiliki iklim dan kondisi tanah yang cocok bagi pengembangan bawang putih untuk menanam komiditas hortikultura itu.

Jika pemerintah serius mengembangkan tanaman bawang putih seperti halnya komoditi lainnya,niscaya meski impor tetap ada, tetapi tidak sebesar seperti sekarang ini dimana sekitar 95 persen kebutuhan dalam negeri merupakan impor.

Sedangkan lima persen lagi kebutuhan akan bawang putih di tanah air dipenuhi dari hasil produksi petani.

Harga Masih Tinggi

Berdasarkan Pantauan Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah Perindustrian dan Perdagangan Sulteng di sejumlah pasar tradisional di Palu, harga bawang putih dan bawang merah (bawang sayur) meski sudah turun, tetapi masih cukup tinggi.

Di Pasar Masomba Palu, kata Toni Muhamad, kepala bidang Koperasu Usaha Mikro Kecil Menengah Perindustrian dan Perdagangan setempat, harga bawang merah saat ini berkisar Rp38.000,00 per kilogram dan bawang putih berkisar Rp58.000,00 sampai Rp60.000,00 per kilogram.

Dalam kondisi normal harga bawang putih di pasaran setempat hanya berkisar Rp20.000 per kilogram dan bawang merah Rp15.000,00 per kilogram.

Kenaikkan harga bawang yang melanda hampir seluruh daerah di Indonesia, erat kaitanya dengan pasokan bawang putih impor terlambat, sementara kebutuhan masyarakat terus meningkat.

Ia juga mengatakan solusi yang paling tempat untuk mengatasi ketergantungan pada impor, pemerintah pusat dan daerah harus kembali menggairahkan petani untuk mengembangkan tanaman bawang putih.

Nunung, seorang pedagang sembako di Pasar Masomba mengatakan selain harga bawang putih masih mahal, stok juga kurang.

Namun demikian, stok bawang putih yang ada kepada pengecer saat ini masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Naik-turunnya harga komoditas hortikultura itu tergantung harga jual distributor," katanya.

Ia juga mengaku daya beli masyarakat terhadap bumbu dasar makanan tersebut dalam dua pekan terakhir ini cenderung menurun dibandingkan ketika harga bawang putih di pasaran masih normal.

Para ibu rumah tangga dan pemilik rumah makan sengaja mengurangi penggunaan bumbu bawang putih, karena harganya cukup mahal.

Jika harga bawang putih di pasaran sudah kembali normal, dipastikan permintaan masyarakat meningkat.



Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026