Logo Header Antaranews Sulteng

Gubernur Sulteng Minta Penyuluhan Kanker

Sabtu, 11 Mei 2013 12:59 WIB
Image Print
Peringatan Hari Kanker Sedunia Di Surabaya. (FOTO ANTARA/Bhakti Pundhowo)
Masyarakat sudah pasrah. Ya, seolah-olah kita tunggu saja kapan meninggal.

Palu (antarasulteng.com) - Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola meminta tenaga kesehatan di daerahnya agar bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang deteksi dini kangker mulut rahim (serviks) dan kanker payudara.

"Ini catatan kita semua, tenaga kesehatan harus mampu memberikan pencerahan ke masyarakat agar mereka mau melakukan deteksi dini. Ini penting sebelum terlambat," kata Longki Djanggola pada pembukaan seminar nasional hari perawat sedunia di Palu, Sabtu.

Seminar yang mengangkat tema mewujudkan masyarakat peduli kangker tersebut dihadiri pembicara Ketua Perhimpunan Onkologi Indonesia Dr Rebecca N Angka, M.Biomed dan pendiri Cancer Information and Support Center (CISC) Aryanthi Baramuli Putri. Ia juga seorang anggota DPD RI yang sebelumnya pernah divonis kangker payudara.

Longki Djanggola mengatakan masih banyaknya penderita kangker mulut rahim di Indonesia khususnya di Sulawesi Tengah salah satunya karena prilaku masyarakat.

"Sudah ada kelainan tapi malu diperiksa apalagi kalau dokternya laki-laki," katanya.

Meskipun dokternya perempuan, penderita biasanya masih segan untuk memeriksakan dirinya. Akhirnya banyak masyarakat yang hanya pasrah dengan kangker yang mengakibatkan kematian tersebut.

"Masyarakat sudah pasrah. Ya, seolah-olah kita tunggu saja kapan meninggal," katanya.

Longki mengatakan jika masyarakat mau memeriksakan dirinya sejak dini, penderita kangker mulut rahim bisa diselamatkan.

Buktinya kata Longki, Aryanthi Baramuli Putri yang sudah divonis stadium tiga masih bisa sembuh karena melakukan pemeriksaan secara rutin dan telaten.

Aryanthi terdeteksi menderita kanker payudara di bagian sebelah kiri sekitar awal 2002. Kanker yang diderita putri mantan Ketua Dewan Pertimbangan Agung Ahmad Arnold Baramuli itu tergolong grade tiga.

Aryanthi kemudian memutusukan untuk dioperasi di Singapura pada 17 Agustus 2002 karena kankernya tergolong ganas.

"Buktinya ibu Aryanthi bisa disembuhkan," kata Longki.

Longki mengatakan jika masyarakat sadar pentingnya deteksi dini kangker maka tidak banyak kematian yang disebabkan kanker karena lalai mendeteksi dini.

Longki mengatakan setiap tahun 15 ribu orang terinveksi kanker, 8.000 diantaranya berakhir dengan kematian. 70 persen yang meninggal disebabkan tidak melakukan deteksi dini.*



Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026