Logo Header Antaranews Sulteng

Indahnya Menjaga Perdamaian Di Palu

Kamis, 6 Juni 2013 11:52 WIB
Image Print
Suasana pertemuan perwakilan tokoh masyarakat dari 10 desa di Kecamatan Marawola dan Kecamatan Kinovaro di kantor Gubernur Sulteng, Rabu (22/8). Pertemuan itu disepakati perdamaian bersam. (Foto : Adha Nadjemuddin)
Kami sebagai polisi hanya bertugas menjaga keamanan, tidak ada kepentingan lain

Palu, (antarasulteng.com) - Pada Selasa sore (4/6), Hamid Hasan, baru saja pulang dari kantornya, Dinas Kehutanan Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah.

Beberapa saat setelah sampai di rumahnya di Desa Tangarawa, Kelurahan Pengawu, pria berusia 49 tahun ini mendengar suara ledakan seperti petasan dan ribut-ribut di desa tetangga.

Saat itu bentrokan warga Kelurahan Pengawu dan Kelurahan Duyu sedang terjadi.

Sejumlah rumah mulai dibakar oleh massa yang telah diliputi emosi.

Hamid, saat itu segera memeriksa rumahnya. Putranya yang berusia belasan tahun tidak ada di dalam. Mungkin saja, ikut-ikutan bentrok.

Merasa cemas, Hamid kemudian mencari anaknya di perbatasan Kelurahan Duyu dan Kelurahan Pengawu yang tengah dilanda "perang".

Ketika itu terjadi aksi saling lempar batu, sebagian warga menyulut meriam rakitan yang dalam istilah setempat disebut dum-dum.

Dum-dum terbuat dari pipa sepanjang 60 cm hingga satu meter yang berbahan peledak dari mesiu petasan atau serbuk korek api.

Pipa yang dibentuk mirip senjata api laras panjang itu kemudian diisi pecahan kaca, paku atau potongan logam.

Jarak tembak senjata itu mencapai 10 meter hingga 20 meter yang arah letusannya tak beraturan, dan jika mengenai manusia bisa mematikan.

Saat itu, Hamid mencari anaknya tanpa memperhatikan situasi tawuran yang semakin memanas.

Ketika sedang mencari buah hatinya, sebuah timah tajam keluar dari moncong senapan angin dari arah tak diketahui meluncur dan mengenai dada kiri Hamid.

Pria yang kesehariannya pengurus Masjid Nur Hasanah Pengawu ini tersungkur menahan sakit.

Melihat kejadian itu, beberapa orang membopongnya, dan selanjutnya mengantar ke rumah sakit terdekat. Namun, nyawa Hamid tak tertolong.

Bentrok antarwarga memakan korban tewas yang justru bukan pelaku tawuran.

Adi, tetangga korban, mengatakan, Hamid merupakan sosok pria baik yang selalu memperhatikan masyarakat, di luar perannya sebagai pengurus masjid.

200 pengungsi

Bentrok yang hanya terjadi di lokasi sekitar 300 meter persegi itu ternyata berdampak luas. Sembilan rumah musnah terbakar, sejumlah rumah rusak terkena lemparan batu, belasan orang cedera, selain nyawa Hamid.

Sekitar 200 warga di perbatasan Kelurahan Duyu dan Kelurahan Pengawu mengungsi karena khawatir akan terjadi bentrok susulan.

Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Palu, Jamaluddin Parenrengi di lokasi bentrok mengatakan 200-an orang itu adalah data sementara yang dikeluarkan oleh pejabat desa.

Para pengungsi tersebut sebagian besar menuju ke kediaman kerabatnya karena khawatir rumahnya menjadi sasaran pelaku bentrok.

Selain mengungsi ke rumah tetangga, terdapat pula sebuah masjid yang dijadikan tempat bernaung sementara korban bentrok.

Para pengungsi di masjid itu sebagian besar adalah pendatang atau bukan penduduk asli Kota Palu.

Para pengungsi mengemasi barang-barang berharga seperti kasur, lemari, televisi, perlengkapan dapur serta perabot rumah tangga lainnya. Barang-barang tersebut diangkut menggunakan gerobak dan mobil sewaan.

Jamaluddin mengatakan pihaknya akan memberikan bantuan makanan kepada para pengungsi selama tujuh hari ke depan.

Namun Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Palu mengaku kesulitan menyalurkan bantuan karena lokasi pengungsian tersebar di sejumlah tempat.

"Kalau lokasi pengungsian berada di satu titik, penyaluran bantuan akan lebih mudah," katanya.

Masjid ke masjid

Beberapa waktu sebelumnya Kapolres Palu AKBP Trisno Rahmadi mengampanyekan keamanan dan perdamaian di wilayahnya dari masjid ke masjid karena hal itu dinilai efektif dan mudah diterima masyarakat.

Seruan menjaga keamanan dan ketertiban itu dilakukan setiap pekan seusai melaksanakan shalat Jumat di beberapa masjid.

Trisno mengatakan ajakan menjaga keamanan itu juga dirangkaikan dialog bersama tokoh agama dan masyarakat karena di Kota Palu sering terjadi bentrok antarwarga.

"Kami sebagai polisi hanya bertugas menjaga keamanan, tidak ada kepentingan lain," katanya.

Dia juga meminta warga untuk tidak mudah terpancing emosi, atau gampang terprovokasi oleh isu yang bisa memperkeruh suasana.

"Kalau tidak mau diamankan maka kami sikat. Yang kami sikat adalah perbuatannya, bukan orangnya," katanya.

Dalam kunjungannya ke masjid-masjid, dia juga mengimbau orang tua untuk mendidik anak-anaknya agar terhindar dari perbuatan negatif seperti narkoba, minuman keras dan perjudian.

Bentrok di Kota Palu sebenarnya dipicu masalah sepele, namun diperparah karena masyarakat terpengaruh minuman keras sehingga tidak bisa mengontrol perbuatannya.

Turun lapangan

Pemimpin daerah agaknya perlu kian sering turun dan berdialog dengan masyarakat untuk mengurangi konflik.

"`Blusukan` (kunjungan) bisa saja dilakukan untuk menyerap keinginan masyarakat," kata Kabid Humas Polda Sulawesi Tengah AKBP Soemarno.

Dia mengatakan turun langsung ke masyarakat itu juga untuk lebih mendekatkan diri seorang kepala daerah kepada rakyatnya.

"Kalau pemimpin sering turun daerah dan menjamu masyarakat maka warga akan segan untuk terlibat bentrok," katanya.

Pemimpin daerah yang dimaksud bisa saja dari lurah, camat, bupati/wali kota hingga gubernur.

Turun langsung ke masyarakat itu bisa berupa dialog guna mencari solusi kasus-kasus di masyarakat.

Dia mengaku saat ini petugas kepolisian dan aparat keamanan lainnya seolah menjadi "pemadam kebakaran" ketika bentrok antarwarga terjadi di masyarakat.

Menurutnya, aparat keamanan serba salah dalam mengatasi bentrok antarwarga. "Kalau ditembak nanti melanggar HAM, kalau dibiarkan nanti dituding melakukan pembiaran," kata Soemarno.

Dalam setahun terakhir ada dua orang tewas akibat bentrok di Kota Palu. Sebagai Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah, Kota Palu seharusnya bisa menjadi barometer keamanan di provinsi berpenduduk 2,8 juta jiwa ini. (SKD)



Pewarta :
Editor: Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2026