Makanan Digoreng Lebih Berbahaya
Kamis, 20 Maret 2014 11:24 WIB
(ANTARA)
Beijing (antarasulteng.com) - Sebuah studi terbaru menunjukkan, orang yang memiliki gen gemuk berisiko dua kali lebih besar bertambah berat badannya bila mengonsumsi makanan yang digoreng dibandingkan mereka yang memiliki risiko genetik lebih rendah.
Gen telah diketahui memainkan peranan penting dalam kehidupan seseorang. Gen gemuk misalnya, dapat menyebabkan orang berisiko dua kali lebih besar menderita obesitas.
Studi yang dilakukan para peneliti dari Harvard ini memperlihatkan bukti bagaimana gen dapat berpengaruh pada risiko pertambahan berat badan. Untuk keperluan studi, para peneliti menganalisa data konsumsi makanan dari 37 ribu orang laki-laki dan perempuan. Berdasarkan 32 variasi gen, mereka juga memperkirakan risiko genetik para partisipan ini.
Hasil penelitian menemukan mereka dengan gen berisiko tinggi kemungkinan menderita obesitas dua kali lebih besar jika mengonsumsi makanan yang digoreng setidaknya empat kali dalam seminggu dibandingkan mereka dengan risiko terendah.
"Kami mendapatkan hasil konsisten yang menunjukkan latar belakang genetik dan konsumsi makanan yang digoreng berefek pada obesitas," kata Asisten Profesor Lu Qi dari Harvard School of Public Health seperti dilansir kantor berita Xinhua.
Qi mengatakan, temuan ini menekankan pentingnya mengurangi konsumsi makanan yang digoreng untuk mencegah obesitas, terutama pada individu dengan gen gemuk. "Sulit bagi orang untuk mengurangi konsumsi makanan lezat. Makanan yang digoreng memang sangat lezat, namun juga berbahaya," ujarnya.
Gen telah diketahui memainkan peranan penting dalam kehidupan seseorang. Gen gemuk misalnya, dapat menyebabkan orang berisiko dua kali lebih besar menderita obesitas.
Studi yang dilakukan para peneliti dari Harvard ini memperlihatkan bukti bagaimana gen dapat berpengaruh pada risiko pertambahan berat badan. Untuk keperluan studi, para peneliti menganalisa data konsumsi makanan dari 37 ribu orang laki-laki dan perempuan. Berdasarkan 32 variasi gen, mereka juga memperkirakan risiko genetik para partisipan ini.
Hasil penelitian menemukan mereka dengan gen berisiko tinggi kemungkinan menderita obesitas dua kali lebih besar jika mengonsumsi makanan yang digoreng setidaknya empat kali dalam seminggu dibandingkan mereka dengan risiko terendah.
"Kami mendapatkan hasil konsisten yang menunjukkan latar belakang genetik dan konsumsi makanan yang digoreng berefek pada obesitas," kata Asisten Profesor Lu Qi dari Harvard School of Public Health seperti dilansir kantor berita Xinhua.
Qi mengatakan, temuan ini menekankan pentingnya mengurangi konsumsi makanan yang digoreng untuk mencegah obesitas, terutama pada individu dengan gen gemuk. "Sulit bagi orang untuk mengurangi konsumsi makanan lezat. Makanan yang digoreng memang sangat lezat, namun juga berbahaya," ujarnya.
Pewarta :
Editor : Riski Maruto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kodam Palaka Wira dan Komunitas bagikan makan sahur gratis bagi warga Palu
21 February 2026 18:27 WIB
Dinas Sosial siapkan makanan siap saji untuk warga terdampak banjir di Palu
12 January 2026 15:25 WIB
Terpopuler - Hiburan & Gaya Hidup
Lihat Juga
Pakar fertilitas: kesuburan bisa menurun karena terkena paparan asap rokok
23 February 2020 18:41 WIB, 2020
Bintang serial India "Swabhimaan" kagumi akan keindahan alam Indonesia
23 February 2020 0:56 WIB, 2020
Pakar Australia Prof. Anderson bagi ilmu bedah kraniofasial di Makassar
20 February 2020 3:16 WIB, 2020
Lokasi pemakaman Ashraf Sinclair di San Diego Hills Karawang dipesan mendadak
18 February 2020 18:22 WIB, 2020